Dokter Muhammad Salha, Direktur Rumah Sakit Al-Awda di Gaza utara mengatakan bahwa fasilitas medis terus dikepung oleh pasukan Israel.
Sebanyak 14 petugas kesehatan masih terjebak di kompleks tersebut dengan pasien yang tidak bisa bergerak akibat pengepungan Israel selama 10 hari. Salha mengatakan mereka tidak akan meninggalkan rumah sakit tanpa ambulans untuk mengangkut pasien.
Dalam pesan yang dibagikan kepada Medical Aid for Palestines, Salha mengatakan RS tersebut mengalami kekurangan pasokan dengan berkurangnya persediaan makanan, bahan bakar dan obat-obatan serta tidak adanya akses terhadap air bersih.
Dia melaporkan bahwa terjadi tembakan dan ledakan berulang kali di sekitar rumah sakit.
“Kami, 14 tenaga kesehatan yang tersisa, akan tetap mendampingi korban luka dan sakit. Kami tidak akan meninggalkan rumah sakit serta tidak akan meninggalkan korban luka dan sakit tanpa perawatan,” ujarnya.
Di sisi lain jika menengok keadaan di Rafah, seorang pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan rumah sakit terakhir di Rafah bisa menjadi tidak berfungsi jika Israel melancarkan invasi besar-besaran ke kota tersebut.
“Jika serangan terus berlanjut, kita akan kehilangan rumah sakit terakhir di Rafah,” kata Richard Peeperkorn di sela-sela pertemuan Majelis Kesehatan Dunia (WHA) di Jenewa.
Dia mengatakan bahwa invasi semacam itu akan berarti tambahan angka kematian dan kesakitan yang signifikan. Pada Senin (27/5), Direktur Rumah Sakit Kuwait di Rafah mengatakan bahwa fasilitas tersebut tidak lagi dapat beroperasi, menyusul serangan yang membunuh dua anggota stafnya.
Sumber: https://www.middleeasteye.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








