LSM Internasional Doctors Without Borders telah menangguhkan pekerjaannya di Rumah Sakit Indonesia di Rafah, Jalur Gaza, seiring dengan semakin cepatnya serangan Israel terhadap kota tersebut. Juru bicara organisasi tersebut mengatakan pada hari Selasa (14/5) bahwa 22 pasien lainnya telah dipindahkan ke fasilitas lain karena keselamatan mereka tidak lagi terjamin.
Organisasi tersebut menguraikan perjuangan yang mereka hadapi sejak perang pecah di Gaza pada bulan Oktober. “Kami terpaksa meninggalkan 12 fasilitas kesehatan yang berbeda dan mengalami 26 insiden kekerasan,” jelas Koordinator Bantuan Michel Olivier Lacharite, “termasuk serangan udara yang menghancurkan rumah sakit, tank yang menghantam pusat penampungan yang telah disepakati, dan serangan darat yang dilancarkan terhadap pusat kesehatan dan konvoi.”
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), 24 dari total 36 rumah sakit di Jalur Gaza kini tidak berfungsi. Pasal 8 Statuta Roma memasukkan “serangan yang disengaja dan diarahkan terhadap gedung-gedung yang didedikasikan untuk agama, pendidikan rumah sakit dan tempat-tempat di mana orang sakit dan terluka dikumpulkan” Sebagai kejahatan perang, Israel telah menyerang semua bangunan serupa di Gaza selama tujuh bulan terakhir.
Israel selalu mengklaim bahwa pejuang Palestina menggunakan RS, namun tidak ada bukti mengenai hal ini. Jika keraguan tersebut ada, maka hukum humaniter internasional berasumsi bahwa status dilindungi masih utuh, dan telah terjadi kejahatan perang.
Doctors Without Borders menyatakan bahwa mereka sedang mencoba untuk mendirikan rumah sakit lapangan, namun mereka tidak dapat menggantikan sistem kesehatan yang berfungsi dan tidak dapat menangani masuknya warga sipil yang terluka.
Sumber: https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








