Adara Relief- Jakarta. Malnutrisi kronis sampai tahun 2018 meningkat hingga lebih dari 30%. 9 dari 10 anak tak dapat menikmati air bersih secara rutin.
Dampak krisis di Palestina bukan hanya menimpa orang-orang dewasa, namun anak-anak turut menjadi korban krisis tersebut, salah satunya kebutuhan untuk mendapat nutrisi yang layak. Data Biro Statistik Pusat Palestina menjelaskan, 49,6 % penduduk Gaza adalah anak-anak, dan 43,4 % penduduk Tepi Barat juga anak-anak.
“Ribuan anak Palestina menderita anemia dan malnutrisi. Keduanya berdampak buruk terhadap mereka. Berbagai penyakit kronis mudah menjangkiti mereka, bahkan berujung pada kematian, “ ujar para peneliti kepada wartawan al Watan.
Adnan Al-Wahidi, Direktur Eksekutif Masyarakat Hak Asasi Manusia Palestina dan pakar Palestina tentang kesehatan anak di Gaza mengatakan, gizi buruk pada anak-anak lebih dari 30%, kekurangan zat besi dan anemia lebih dari 50% menimpa semua umur, dan kekurangan vitamin D lebih dari 60% , Komponen seng hamper mencapai 66%, yang meningkat setelah penurunan yang signifikan di masa lalu, mencapai kurang dari 1,7%, dan sekarang mencapai lebih dari 7%, yang mengindisikan kondisi bahaya.
Pakar Palestina tentang kesehatan anak di Gaza menjelaskan, bahaya kelanjutan dari ini terletak pada destabilisasi sistem kekebalan mereka. Meningkatnya gejala penyakit dan kematian, terutama pada kelompok yang paling rentan, wanita hamil, orang tua dan anak-anak. Permasalahan ini juga memperburuk proses pertumbuhan fisik, dan merusak kinerja otak, menimbulkan masalah kejiwaaan dan sosial yang berkaitan dengan kemiskinan dan ketidak mampuan mencukupi kebutuhan keluarga.
UNICEF, lembaga yang aktif di bidang hak-hak anak dalam laporannya tentang penderitaan anak-anak di Gaza mengatakan, anak-anak Gaza kekurangan empat unsur: zat besi, vitamin A dan vitamin D dan yodium. Yodium yang menjelaskan tingginya proporsi anak-anak dengan anemia di Jalur Gaza. Organisasi tersebut menunjukkan bahwa 64% anak-anak di sektor ini menderita kekurangan asupan zat besi, 22% kekurangan vitamin A dan 15% menderita kekurangan yodium, yang mempengaruhi kesehatan mereka.
Para pelajar menjadi sulit berkonsentrasi di kelas karena kondisi kesehatan mereka yang menurun. Bahaya mengancam masa depan mereka karena kurang mampuan mereka berbicara dan mendengar, imunitas mereka melemah sehingga berbagai penyakit mengancam mereka. Anemia memperburuk pertumbuhan badan anak-anak dan memperburuk konsentrasi mereka.
Dalam sebuah makalah berjudul “Kematian lambat” menjelaskan, sebagian besar penduduk yang mengalami blokade harus melawan berbagai macam penderitaan. Gizi buruk karena harga barang yang melambung tinggi. Gizi buruk mempengaruhi seluruh badan. Memperburuk organ vital, seperti jantung, hati, ginjal dan paru-paru, dan menyebabkan kelelahan, pusing, penurunan berat badan, anemia, kelemahan parah, tekanan darah rendah dan lain-lain.
Ummu Thariq, perempuan Palestina berumur 39 tahun dari Khan Yunis di Jalur Gaza selatan mengeluhkan, ‘Adil putranya yang masih balita sulit menggerakkan jari-jarinya karena anemia yang disebabkan gizi buruk. Keluarganya sangat miskin, mereka bergantung kepada bantuan Lembaga kemanusiaan.
Aiman, perempuan 25 tahun berasal dari kamp pengungsi Nusairat, tengah Jalur Gaza. Ia mengisahkan, anaknya yang berumur 25 tahun terlihat lebih kecil dari yang lainnya. Ia belum dapat makan sendiri, dan turut bermain dengan teman-temannya. Gizi buruk memperlambat pertumbuhannya.
Sedangkan, Abu Ihab (36 th), anaknya selama 4 tahun hidup kekurangan gizi dan hidup dalam krisis ekonomi di Jalur Gaza, ditambah blokade yang dilakukan Isarel.
Separuh anak Jalur Gaza bersandar pada bantuan kemanusiaan. 1 dari 4 anak membutuhkan pengangan kejiawaan dan social. Mereka hanya dapat memakai listrik selama 4-5 jam. Dan 9 dari 10 anak tak mendapat air bersih.
Spesialis Nutrisi Mahmoud Attieh mengatakan, kemiskinan, blokade, kebodohan, gizi buruk ibu hamil, berkurangnya bantuan kemanusiaan, ketidak pedulian terhadap ASI merupakan factor utama gizi buruk Jalur Gaza. Beberapa anak memiliki berat badan di bawah standar. Pertumbuhan melambat. Pengangguran dan kemiskinan menjadi factor yang memperparah nutrisi anak-anak Gaza. Daging menjadi sangat langka di meja makan mereka. Begitu pula buah-buahan. Kondisi ini sangat memperburuk pertumbuhan anak-anak Gaza.
Keluarga Gaza banyak bergantung pada LSM yang membantu mereka. Abu Ihab bertanya-tanya, mungkinkah anak-anak akan berkembang normal setelah blokade ayang berlaku lebih dari sepuluh tahun.
Direktur Eksekutif Masyarakat Hak Asasi Manusia Palestina menambahkan, tak diragukan blokade memperburuk tatanan kehidupan. Mempersulit masyarakat untuk memperoleh kebutuhan pokok. Makanan menjadi taka man dikonsumsi. Gizi buruk menimpa seluruh warga Palestina yang diblokade secara penuh. Sulit bagi mereka memenuhi kebutuhan nustrisi, seperti daging, telur, susu, sayuran, buah dll. Tingginya harga bahan pokok membuat warga Gaza kesulitan memenuhi kebutuhan mereka.
Seluruh pihak wajib bersama saling bahu-membahu mengatasi krisis ini. Semua harus bangkit, karena penderitaan mereka harus segera diakhiri.
http://alwatan.com/details/282129








