Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel tidak akan membiarkan warga sipil terjebak di Rafah ketika pasukannya memulai serangan yang telah lama dikhawatirkan di kota Gaza selatan, tempat lebih dari satu juta warga Palestina berlindung.
“Tujuan kami dalam melenyapkan batalyon teroris yang tersisa di Rafah sejalan dengan memungkinkan penduduk sipil meninggalkan Rafah. Ini bukanlah sesuatu yang akan kami lakukan dengan menahan populasi tetap di tempatnya (Rafah). Faktanya, kami akan melakukan yang sebaliknya, kami akan membiarkan mereka pergi,” kata Netanyahu dalam pernyataan pers di Yerusalem bersama Kanselir Jerman Olaf Scholz.
Pemimpin Jerman tersebut mengatakan serangan Israel terhadap Rafah – tempat mayoritas 2,3 juta penduduk Gaza mencari perlindungan dari pengeboman Israel yang tiada henti – akan membuat perdamaian regional menjadi “sangat sulit” dicapai.
Pernyataan Netanyahu muncul beberapa jam setelah dia mengatakan pada rapat kabinet bahwa pasukan Israel akan melanjutkan serangan darat yang direncanakan di Rafah meskipun ada kekhawatiran akan jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar.
“Tekanan internasional sebesar apa pun tidak akan menghentikan kami untuk mewujudkan semua tujuan perang: melenyapkan Hamas, melepaskan semua sandera kami, dan memastikan bahwa Gaza tidak lagi menjadi ancaman terhadap Israel,” kata Netanyahu dalam sebuah video yang dirilis oleh kantornya. “Untuk melakukan ini, kami juga akan beroperasi di Rafah.”
Komentar Netanyahu tersebut muncul ketika perundingan diperkirakan akan dilanjutkan di Qatar menuju gencatan senjata di Gaza. Namun, Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera, melaporkan dari Rafah bahwa selama ini warga Palestina mengikuti dengan cermat seluruh tindakan Netanyahu terkait ancaman invasi ke Rafah.
“Dari sudut pandang warga Palestina, di bawah ancaman yang akan segera terjadi, mereka benar-benar merasa tidak aman dan bertanya-tanya tentang tujuan selanjutnya,” katanya.
Presiden AS Joe Biden, yang terus mendukung perang Israel meskipun ada tuduhan genosida yang meluas, mengatakan bahwa invasi Israel ke Rafah akan menjadi garis merah tanpa adanya rencana perlindungan sipil yang kredibel.
Pada Jumat, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan Washington menginginkan rencana yang jelas dan dapat diterapkan di Rafah untuk memastikan warga sipil “terhindar dari bahaya”.
Pada hari yang sama, Ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengimbau Israel atas nama kemanusiaan untuk tidak melancarkan serangan terhadap Rafah, pusat populasi besar terakhir di Gaza yang belum menghadapi serangan darat
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








