“Terjadi kemerosotan dramatis dalam kesehatan mental anak-anak di Gaza setelah lima bulan kekerasan, pengungsian, kelaparan, dan penyakit, selain blokade selama hampir 17 tahun”, kata Save the Children.
Para orang tua dan pengasuh anak mengatakan kepada Save the Children bahwa kemampuan anak-anak untuk membayangkan masa depan tanpa perang sudah hampir hilang.
“Tekanan emosional karena menghindari bom dan peluru, kehilangan orang yang dicintai, mengungsi melalui jalan-jalan yang dipenuhi puing-puing dan mayat, serta terbangun setiap pagi tanpa mengetahui apakah mereka bisa makan juga membuat orang tua dan pengasuh semakin tidak mampu mengatasinya, “ kata Save the Children
Dalia, seorang ibu di Gaza, mengatakan kepada peneliti untuk badan amal tersebut, “Anak-anak ketakutan, marah, dan tidak bisa berhenti menangis. Bahkan banyak orang dewasa yang melakukan hal serupa. Hal ini terlalu sulit untuk dihadapi oleh orang dewasa, apalagi anak-anak.”
Para orang tua mencatat bahwa anak-anak sudah menyerah pada harapan atau ambisi mereka untuk masa depan, sementara anak-anak lainnya kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
“Beberapa anak saya tidak bisa lagi berkonsentrasi pada tugas-tugas dasar. Mereka langsung melupakan hal-hal yang saya ceritakan kepada mereka dan tidak dapat mengingat hal-hal yang baru saja terjadi. Saya bahkan tidak akan mengatakan bahwa kesehatan mental mereka telah memburuk, sebab kesehatan mental mereka telah dilenyapkan. Hal ini merupakan kehancuran psikologis total,” kata Amal, ibu dari empat anak di Gaza.
Temuan ini muncul ketika Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan bahwa lebih dari 30.717 orang, termasuk 12.550 anak-anak, telah terbunuh sejak eskalasi militer terbaru Israel di Gaza yang dimulai pada 7 Oktober.
Kurangnya makanan dan air bersih juga menciptakan krisis kelaparan yang sangat parah. Hampir setiap anak di Gaza berisiko mengalami kelaparan. Setidaknya 15 anak meninggal karena kekurangan gizi dan dehidrasi di Gaza utara, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
“Dengan hampir tidak adanya fasilitas kesehatan yang berfungsi dan keluarga-keluarga yang terputus dari layanan medis, kemungkinan besar angka sebenarnya jauh lebih tinggi dan semua ini menyebabkan kecemasan dan stres pada anak-anak serta keluarga meningkat pesat,” kata Save the Children.
Bahkan sebelum tanggal 7 Oktober, anak-anak di Gaza hidup dengan kesehatan mental yang sangat buruk akibat meningkatnya siklus kekerasan, dampak blokade termasuk pembatasan kebebasan bergerak dan akses terhadap layanan penting, keruntuhan ekonomi, serta keluarga dan teman yang terbunuh selama agresi.
Mereka yang disurvei untuk laporan baru ini mengatakan telah menyaksikan penurunan dramatis dalam kesehatan mental anak-anak yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan peningkatan kekerasan sebelumnya, yang terlihat dalam ketakutan, kecemasan, gangguan makan, mengompol, kewaspadaan berlebihan, masalah tidur, serta perubahan perilaku.
“Tidak dapat diterima jika ada anak yang harus menghadapi kengerian yang dialami oleh orang-orang di Gaza. Mereka harus sekuat tenaga menghindari bom dan peluru, melarikan diri melalui jalan-jalan yang penuh dengan puing-puing dan mayat, terpaksa tidur di ruang terbuka, serta hidup tanpa makanan pokok dan air bersih yang mereka perlukan untuk bertahan hidup. Anak-anak di Gaza mengalami guncangan massal dan kesedihan,” kata Jason Lee, Direktur Save the Children untuk wilayah pendudukan Palestina.
Pada 2022, Save the Children menemukan bahwa empat dari lima anak di Jalur Gaza menderita depresi, kesedihan dan ketakutan akibat hidup di bawah blokade Israel . Dalam laporannya pada 2022, badan amal tersebut menemukan jumlah orang yang melaporkan gejala depresi, frustrasi, dan ketakutan telah meningkat dari 55 persen menjadi 80 persen.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








