Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan Ramadan di Jalur Gaza pada tahun ini “tidak seperti bulan suci tahun-tahun sebelumnya atau di mana pun di dunia,” mengingat hancurnya seluruh aspek kehidupan di Jalur Gaza, termasuk jatuhnya korban jiwa dan runtuhnya masjid.
Separuh dari populasi wilayah Gaza berdesakan di Kota Rafah di bagian selatan, banyak yang tinggal di tenda-tenda plastik dan menghadapi kekurangan makanan yang parah.
“Setiap orang yang kami kenal telah kehilangan anggota keluarga, atau orang yang dicintai, atau seseorang yang mereka kenal dari circle mereka, sehingga hal ini sangat menyulitkan banyak orang. Orang-orang biasa mempersiapkan dan memulai hari pertama Ramadan dengan perayaan, dekorasi, lampu, dan lentera di jalan-jalan, pasar, dan masjid; sebagian besar dari bangunan tersebut kini hancur,” menurut koresponden Al Jazeera Hani Mahmoud dari Rafah.
Ramadan biasanya diisi dengan pesta keluarga, namun pengepungan Israel yang terus berlanjut membuat hal ini hampir mustahil dilakukan bagi mereka yang tinggal di Gaza. Bahkan ketika makanan tersedia, hanya ada sedikit makanan selain makanan kaleng, dan harganya terlalu tinggi bagi banyak orang.
Philippe Lazzarini, kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina, mengatakan “Ramadan tiba saat pengungsi terus bertambah, sementara ketakutan dan kecemasan muncul di tengah ancaman operasi militer di Rafah, titik paling selatan Gaza.”
“Bulan ini harus ada gencatan senjata bagi mereka yang paling menderita. Mereka membutuhkan ketenangan (hidup) dan ketenangan pikiran yang sudah lama tertunda,” lanjutnya di X (twitter).
Sementara itu, di bagian utara Gaza, warga Palestina terus menghadapi kelaparan, seiring dengan terus berlanjutnya kekurangan pangan dan bantuan yang parah.
Pada Senin (11/3) sore, dua anak di Gaza utara meninggal karena kelaparan, lapor Al Jazeera, mengutip sumber-sumber lokal, sehingga total orang yang meninggal karena kelaparan menjadi 27.
Setidaknya satu dari enam anak di wilayah utara mengalami kekurangan gizi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Saya datang ke sini untuk membeli tetapi saya tidak dapat menemukan apa pun untuk dibeli,” Sufian al-Yazji, seorang pengungsi Palestina di utara, mengatakan kepada Al Jazeera.
“Tidak ada apa-apa, tidak ada kurma, susu, atau apa pun. Setiap orang tidak dapat menemukan apa pun untuk anak-anaknya. Semua makanan kaleng ini penuh dengan kuman yang menginfeksi lambung. Kami membutuhkan sayuran dan buah-buahan untuk memberi makan anak-anak kami karena mereka sudah lemah dan akan mati kelaparan,” tambahnya.
Lebih dari 2.000 staf medis di Gaza utara kelelahan dan berjuang untuk bertahan di bawah tekanan fisik yang luar biasa tanpa makanan apa pun saat mereka bekerja sepanjang waktu, kata Kementerian Kesehatan Palestina.
Akibat kurangnya layanan kesehatan, pengeboman, kelaparan, dan dehidrasi, populasi lansia di wilayah kantong ini mengalami kematian dalam jumlah yang sangat mengkhawatirkan.
Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu bahwa timnya di Gaza “mencatat kematian hampir setiap hari di kalangan lansia akibat kejahatan, kelaparan, dan ketiadaan pengobatan akibat pemblokiran Israel yang sistematis dan meluas di Jalur Gaza, terutama di Kota Gaza dan Gaza wilayah utara.”
“Mayoritas kasus-kasus ini tidak sampai ke rumah sakit, yang hanya beroperasi sebagian di Gaza utara karena sulitnya akses mengingat serangan militer Israel yang sedang berlangsung. Akibatnya, setelah meninggal di rumah, para lansia dikuburkan di dekat tempat tinggal mereka atau di kuburan darurat yang tersebar di seluruh Jalur Gaza. Saat ini ada lebih dari 140 kuburan seperti itu,” kata Euro-Med.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








