Pasukan Israel menembaki warga Palestina di Gaza utara ketika mereka menunggu truk bantuan tiba, membunuh dan melukai sejumlah orang. Insiden serupa telah terulang beberapa kali sejak pekan lalu ketika Israel membunuh lebih dari 100 warga Palestina yang mencari makanan dan air, dalam peristiwa yang dikenal sebagai “pembantaian tepung.”
Koresponden Al-Jazeera, Anas Al-Sharif , bersama warga Palestina lainnya pada Senin (3/3) malam, menunggu dalam kegelapan dan berlari di jalan yang hancur dan berdebu di belakang truk bantuan internasional. Namun, ketika kendaraan tiba di Bundaran Kuwait di Gaza utara, warga Palestina berpencar, berlarian ke berbagai arah, menghindari peluru Israel.
Meskipun tembakan masih terdengar dari kejauhan, warga Palestina telah kembali untuk mengambil kotak bantuan kecil berisi air, tepung, dan bahan-bahan lainnya, yang cukup untuk beberapa hari untuk sebuah keluarga yang terdiri dari tiga atau empat orang.
Beberapa keluarga melaporkan bahwa mereka tidak mendapatkan makanan yang layak selama berhari-hari di Gaza utara, menyebabkan malnutrisi, dehidrasi, hingga kematian anak-anak dan peningkatan risiko kelaparan akibat ulah manusia.
Menjelang Ramadan yang akan jatuh pada pekan depan, terdapat ancaman invasi Israel ke kota Rafah di Gaza selatan, tempat 1,5 juta pengungsi berlindung. Invasi ini dapat menyebabkan pembantaian, kelaparan, dan pengusiran warga Palestina ke Semenanjung Sinai Mesir.
Sementara itu, kelompok ekstremis Israel terus menghalangi truk bantuan untuk memasuki Gaza melalui Penyeberangan Karem Abu Salem ke Gaza selama beberapa minggu terakhir, sedangkan AS, Yordania, dan Perancis melakukan operasi pengiriman bantuan kemanusiaan melalui udara yang digambarkan sebagai pengiriman bantuan yang tidak berguna.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








