Warga Palestina yang mengungsi akibat serangan militer Israel di Gaza memegang kunci rumah yang rusak atau hancur sebagai simbol kehilangan mereka, sebuah tradisi yang dimulai sejak pengungsian massal tahun 1948, menurut laporan Reuters .
Kebanyakan penduduk di Gaza adalah pengungsi atau keturunan pengungsi yang melarikan diri atau diusir dari rumah mereka selama perang tahun 1948 yang menyertai berdirinya Israel, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai “Nakba” atau “Malapetaka”.
Kunci rumah yang hilang pada tahun 1948 telah diwariskan dari generasi ke generasi kepada beberapa keluarga pengungsi dan dijadikan simbol hak mereka untuk kembali. “Kakek saya mengambil kunci rumahnya dan pergi membawanya, berharap bisa kembali, dan saya mengambil kunci itu dengan harapan bisa kembali ke apartemen saya dan menemukannya seperti semula.”
Selama gencatan senjata 7 hari pada bulan November, Hatem Al-Ferani salah satu warga Gaza menerima gambar yang menunjukkan bahwa rumah keluarganya, sebuah apartemen di satu blok yang ditempati orang tua dan saudara laki-lakinya di kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara, telah dihancurkan.
“Ini adalah kunci menuju rumah itu, yang telah saya bangun dengan susah payah,” katanya sambil mengangkat kunci rumahnya. “Saya sekarang berusia 44 tahun, dan saya harus memulai hidup saya dari awal untuk membangun rumah baru. Sejarah terulang kembali,” kata Al-Ferani, yang kini berlindung di sebuah tenda di Rafah, Gaza selatan, bersama keluarganya.
Hussein Abu Amsha berada dalam situasi yang mirip dengan Al-Ferani. Dia dan keluarganya berada di tenda pengungsian di Rafah, dan selama gencatan senjata, dia menerima video yang menunjukkan rumah mereka di Beit Hanoun, timur laut Gaza, telah hancur dibombardir.
“Hanya kunci inilah yang tersisa dari rumah itu,” katanya sambil menunjukkan kunci yang diikatkan pada gantungan kunci yang terbuat dari koin dengan tulisan “Palestina” di atasnya, yang menurutnya berasal dari periode Mandat Inggris, sebelum berdirinya Israel.
“Kuncinya mewakili tanah air kita semua. Kami tidak bisa hidup tanpa tanah air,” kata Abu Amsha. “Kami berharap bisa kembali, meski harus terlebih dahulu hidup di tenda di atas (reruntuhan) rumah kami.”
Mohammed Al-Majdalawi, yang mengungsi dari Kamp Pengungsi Al-Shati di Gaza utara, mengatakan bahwa dia ingat kakeknya menunjukkan kepadanya sebuah kunci tua dan menceritakan kenangan tahun 1948, dan sekarang dia mengalami pengalaman serupa.
“Apa yang saya lakukan terhadap Israel hingga mereka menghancurkan rumah saya? Anak-anak di dunia hidup dengan baik sementara anak-anak kami hidup dalam kehinaan, sekarat, dan jatuh sakit dalam cuaca dingin ini,” katanya.
Di Tepi Barat, yang juga dipenuhi dengan kamp-kamp pengungsi sejak tahun 1948, kunci-kunci raksasa dapat dilihat di berbagai lokasi, sebagai bagian dari ikonografi perpindahan yang maknanya dapat dipahami oleh semua orang di sana.
“Kuncinya mewakili hak untuk kembali,” kata Mohammed Said, kepala kantor media dari sebuah komite yang mengelola Kamp Pengungsi Qalandia, antara Al-Quds (Yerusalem) dan Ramallah. “Kunci ini memang merupakan benda logam yang dapat dibuat dimana saja, namun memegang kunci ini berarti memiliki impian yang ingin diwujudkan,” pungkasnya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








