Rumah Sakit Al-Awda yang merupakan mitra ActionAid di Gaza kemarin memperingatkan bahwa mereka akan menghentikan operasi sepenuhnya pada Rabu malam karena stok bahan bakar hampir habis.
Rumah sakit ini telah mengajukan permohonan mendesak kepada komunitas internasional untuk melakukan intervensi agar mereka dapat terus memberikan perawatan kepada 60 pasien, yang beberapa di antaranya akan berada dalam bahaya besar ketika cadangan bahan bakar rumah sakit habis.
Menurut pejabat kesehatan, 16 rumah sakit dan 34 pusat kesehatan di Gaza telah menutup operasinya karena pengeboman Israel dan kekurangan bahan bakar. Sejak awal agresi, Rumah Sakit Al Awda telah memberikan layanannya kepada 3.367 pasien, termasuk menangani 1.572 orang yang terluka dan 219 persalinan.
Haneen Wishah, Koordinator Komunikasi dan Media di Rumah Sakit Al-Awda; mengatakan, “Ini adalah seruan mendesak untuk mendukung Rumah Sakit Al-Awda dengan bahan bakar. Kami memiliki sekitar 60 pasien di rumah sakit. Beberapa dari mereka berada dalam kondisi serius dan yang lainnya dalam kondisi sedang. Kami memperjuangkan setiap orang. Kami mendesak institusi bantuan kemanusiaan serta badan-badan PBB untuk mendukung Rumah Sakit Al-Awda yang sedang menghadapi situasi kritis. Dalam waktu kurang dari 30 jam, jika kami tidak memiliki kapasitas bahan bakar yang cukup, kami kesulitan untuk mengoperasikan dan melanjutkan fungsi Rumah Sakit Al-Awda .”
Wishad menambahkan: “80% pasien di rumah sakit adalah perempuan dan anak-anak. Logistik sangat jarang dan kami hampir kehabisan segalanya. Mohon, mohon, mohon angkat suara kami, dukung Rumah Sakit Al-Awda dengan bahan bakar agar dapat melanjutkan pelayanannya karena ini adalah satu-satunya rumah sakit di wilayah utara Jalur Gaza yang menyediakan layanan persalinan kepada masyarakat di sana. Terima kasih.”
Riham Jafari, Koordinator Advokasi dan Komunikasi di ActionAid Palestine, mengatakan: “Dalam beberapa pekan terakhir, dunia telah melihat dedikasi yang tak tergoyahkan dari para dokter dan perawat di Gaza ketika mereka melanjutkan pekerjaan penyelamatan jiwa di tengah pengeboman yang terus-menerus. Mereka tanpa kenal lelah merawat bayi di inkubator, pasien yang membutuhkan bantuan hidup, dan ribuan pengungsi internal yang mencari perlindungan di sekitar rumah sakit. Namun, dengan penutupan Rumah Sakit Al-Awda yang akan segera terjadi, para petugas kesehatan ini menjadi tidak berdaya menghadapi berkurangnya stok bahan bakar, karena layanan penyelamatan nyawa menjadi tidak ada artinya.”
Dari 476 truk bantuan dan pasokan yang ditujukan ke Gaza, bahkan setelah hampir sebulan pengeboman tanpa henti, tidak ada setetes pun bahan bakar yang berhasil lolos karena pembatasan yang dilakukan pemerintah Israel. “Dengan banyaknya nyawa yang dipertaruhkan, khususnya di rumah sakit seperti Al-Awda, bantuan untuk fasilitas ini terletak pada kedatangan truk bantuan yang membawa bahan bakar. Tanpa suara tegas dari komunitas internasional yang menuntut tindakan segera sebelum waktu habis, pasien-pasien ini mungkin akan segera berpindah ke dalam kantong jenazah,” kata Jafari.
Selain menyediakan layanan darurat dan khusus, Rumah Sakit Al-Awda adalah penyedia layanan bersalin utama dan satu-satunya di Jalur Gaza utara. Sejak 7 Oktober, lembaga ini telah memberikan layanan kepada lebih dari 3.360 orang, termasuk merawat 1.572 pasien yang terluka dan melahirkan 219 bayi. Sekitar 80% pasien yang saat ini dirawat di Rumah Sakit Al-Awda adalah wanita dan anak-anak.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








