“Gencatan senjata yang mendesak adalah masalah hidup dan mati bagi jutaan orang di Jalur Gaza,” kata seorang pejabat pada pengarahan darurat Dewan Keamanan PBB. Ia memperingatkan peningkatan korban anak-anak karena Israel terus menerus membombardir daerah kantong tersebut.
“Warga Palestina di Gaza menghadapi krisis hidup atau mati. Ini semakin diperparah oleh sulitnya memberikan bantuan kepada lebih dari dua juta penduduk Jalur Gaza,” kata Philippe Lazzarini, kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), pada pertemuan hari Senin. “Tingkat kehancuran belum pernah terjadi sebelumnya. Tragedi kemanusiaan yang terjadi di bawah pengawasan kami sungguh tak tertahankan,” ia melanjutkan. “Blokade yang dilakukan terhadap Gaza saat ini adalah hukuman kolektif.”
Lebih dari setengah juta warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengeboman Israel yang telah berlangsung selama tiga minggu. Mereka kini berlindung di sekolah-sekolah dan gedung-gedung UNRWA yang penuh sesak, dengan makanan dan air yang langka dan seringkali tidak ada tempat untuk tidur.
“Kelaparan dan keputusasaan berubah menjadi kemarahan terhadap masyarakat internasional,” kata Lazzarini. Ia menambahkan bahwa sedikit bantuan yang diizinkan masuk melalui Mesir pekan lalu tidaklah cukup.
Israel mulai mengizinkan bantuan terbatas ke Gaza pada tanggal 21 Oktober, namun inspeksi mendalam terhadap setiap konvoi telah menyebabkan penundaan yang lama. Israel juga dengan tegas menolak izin pengiriman bahan bakar, sehingga beberapa rumah sakit yang beroperasi di Gaza berisiko ditutup.
‘Ini tidak boleh menjadi kerusakan tambahan’
Para pejabat PBB juga menekankan meroketnya jumlah korban jiwa di Gaza, khususnya di kalangan anak-anak. Jumlah korban jiwa dalam agresi saat ini tidak ada bandingannya bahkan dalam konflik paling berdarah sekalipun.
“Lebih dari 420 anak terbunuh atau terluka di Gaza setiap hari – angka yang seharusnya sangat mengguncang kita semua,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell. Lazzarini menambahkan: “Ini melampaui jumlah anak-anak yang terbunuh setiap tahunnya di seluruh zona konflik dunia sejak tahun 2019,” tekannya.
Israel telah memperingatkan bahwa bahaya yang lebih besar akan terjadi ketika mereka mengintensifkan serangan darat ke Gaza. Mereka telah memerintahkan orang-orang di Gaza utara dan Kota Gaza untuk mengungsi ke bagian selatan wilayah tersebut atau berisiko diperlakukan sebagai “kaki tangan teroris”. Namun, warga Palestina di Gaza juga belum menemukan keamanan di wilayah selatan, karena Israel terus melakukan pengeboman terhadap rumah-rumah.
“Saya sudah mengatakannya berkali-kali, dan saya akan mengatakannya lagi, ‘tidak ada tempat yang aman di Gaza’,” kata Lazzarini. Permohonannya kepada DK PBB muncul setelah badan tersebut gagal mengeluarkan empat resolusi terpisah yang menyerukan gencatan senjata atau “jeda kemanusiaan”. Satu diveto oleh Amerika Serikat, dan satu lagi diveto oleh Rusia dan Tiongkok. Sementara itu, yang lainnya gagal memperoleh minimal sembilan suara.
Pada Jumat, Majelis Umum PBB memberikan suara yang sangat mendukung resolusi yang menyerukan gencatan senjata kemanusiaan segera, namun resolusi tersebut tidak mengikat. AS dan Israel termasuk di antara 14 negara yang memberikan suara menentang resolusi tersebut. KTT darurat tersebut juga menyuarakan kekhawatiran atas kemungkinan bahwa perang di Gaza berisiko berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








