Selama tiga pekan terakhir ini media sosial disesaki berita yang mengangkat aksi solidaritas masyarakat dunia terhadap kampanye pengeboman Israel yang dilakukan terhadap Gaza. Seolah menyatukan masyarakat dari Jakarta hingga Kolombia, Tunisia hingga Irlandia, demonstrasi pro-Palestina menjadi gelombang yang melanda seluruh dunia. Demonstran turun ke jalan, mengutuk genosida Israel atas Palestina yang tidak berhenti hingga saat ini.
Di antara slogan yang dipekikkan adalah “From the river to the sea, Palestine will be free” atau “Dari sungai hingga ke laut, Palestina akan merdeka.” Slogan tersebut telah beredar selama beberapa dekade di kalangan warga Palestina dan aktivis pro-Palestina, mengacu pada pembebasan wilayah yang berada antara Sungai Yordan dan Laut Mediterania di wilayah bersejarah Palestina.
Namun, banyak warga Israel dan pendukung Israel mengklaim bahwa slogan tersebut merupakan seruan anti-Semit. Seruan tersebut juga dianggap menyiratkan keinginan untuk menghancurkan Israel, yang saat ini menjajah wilayah Palestina, dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania.
Pada pertengahan Oktober, polisi di Wina melarang slogan tersebut didengungkan dan mengklaim bahwa itu adalah seruan untuk melakukan kekerasan terhadap Israel. Hal serupa juga terjadi di London. Meskipun Polisi Kota London mengatakan mereka tidak akan menangkap pengunjuk rasa yang meneriakkan slogan tersebut pada protes pro-Palestina, Menteri Dalam Negeri Inggris, Suella Braverman, secara terbuka menyatakan bahwa dia yakin polisi harus melakukan intervensi, dan menyatakan bahwa slogan tersebut merupakan sebuah “ekspresi dari keinginan yang kuat untuk melihat Israel dihapuskan dari dunia”.
Anti-Zionisme bukanlah anti-Semitisme
The European Legal Support Center (ELC), yang didirikan pada tahun 2019 oleh para ahli hukum Eropa dan aktivis lainnya, mencatat bahwa slogan tersebut semakin banyak dijadikan sasaran dengan premis yang salah, seakan-akan menghasut kekerasan terhadap orang-orang Yahudi.
“Strategi di balik penggambaran slogan ini sebagai anti-Semit adalah untuk menyamakan anti-Zionisme dengan anti-Semitisme dan untuk membungkam diskusi seputar perjuangan Palestina,” kata kelompok tersebut. Bagi warga Palestina dan para pendukungnya, tuduhan tersebut bermotif politik dan tidak adil. Slogan tersebut sudah ada jauh sebelum adanya gerakan perlawanan dan bahkan sudah sama tuanya dengan perjuangan Palestina melawan Zionisme.
“Dari sungai hingga ke laut” merupakan respons terhadap fragmentasi tanah dan masyarakat Palestina akibat pendudukan dan diskriminasi Israel. Ada pengungsi Palestina yang ditolak haknya untuk kembali (Right of Return) karena hukum Israel yang diskriminatif. Ada warga Palestina yang tidak mendapat persamaan hak untuk hidup dan dianggap sebagai warga marginal di wilayah Israel. Ada warga Palestina yang hidup tanpa hak kewarganegaraan di bawah penjajahan Israel di Tepi Barat. Ada warga Palestina yang berada dalam ketidakpastian hukum di Al-Quds (Yerusalem) yang diduduki; mereka seringkali menghadapi penghancuran rumah dan pengusiran. Ada pula warga Palestina di Gaza yang hidup di bawah blokade dan agresi Israel.
Slogan ini juga hadir dalam beberapa cerita rakyat Palestina, lagu-lagu revolusioner, dan memiliki ungkapan bahasa Arab, yang paling umum adalah: min el-maiy ilel maiy (dari air ke air – mengacu pada Laut Mediterania dan Sungai Yordan). Dengan demikian, ungkapan ini sangat bersifat budaya dan berkaitan erat dengan pembentukan identitas rakyat Palestina.
Kenangan, kerinduan, dan optimisme untuk kembali
Titik balik yang menandai ketertindasan rakyat Palestina adalah Nakba (the catastrophe atau malapetaka) tahun 1948, ketika lebih dari 750.000 warga Palestina terlunta-lunta, menjadi pengungsi di di negara-negara tetangga setelah berdirinya Israel di atas tanah Palestina.
Hal terpenting yang dibawa rakyat Palestina saat Nakba adalah ingatan mereka, memori dan kenangan mereka akan hari-hari indah yang dilalui di tanah Palestina yang bersejarah. Di antara ingatan tersebut adalah lagu-lagu rakyat yang pada gilirannya menjelma slogan atau ungkapan yang mereka dengungkan untuk mengobati kerinduan kepada tanah air yang hilang, sekaligus optimisme untuk kembali ke sana. Kembali ke pangkuan tanah air yang merdeka.
Rasa kehilangan setelah Nakba telah (dan terus) tertanam dalam semua seni, sastra, dan budaya Palestina – termasuk puisi, novel, dan seni visual. Namun, ekspresi yang diungkapkan dalam slogan dan musik, mungkin karena adanya nada dan intonasi, membuatnya menjadi populer dan menjangkau khalayak yang lebih luas. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa slogan yang terus didengungkan merupakan sarana ampuh untuk tetap menanamkan ingatan sekaligus menggagalkan upaya Israel yang hendak menghapus Palestina dari ingatan dunia.
From the river to the sea, Palestine will be free. Dari sungai, hingga ke laut, Palestina akan merdeka. Seruan tersebut adalah suara untuk tercapainya kemerdekaan Palestina, sebuah wilayah yang terbentang dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania; seruan dekolonisasi, kebebasan, dan diakhirinya rezim apartheid di Palestina. To chant is to resist, and to resist is to exist.
(LMS)
Referensi:
https://decolonizepalestine.com/myth/from-the-river-to-the-sea-is-a-call-to-genocide/
https://jewishcurrents.org/what-does-from-the-river-to-the-sea-really-mean
https://www.middleeasteye.net/news/palestine-israel-from-river-to-sea-chant-mean-actually
https://nationalpost.com/opinion/europe-cracks-down-on-pro-hamas-rallies-canada-does-nott
https://www.newarab.com/features/viva-palestina-chanting-life-and-resistance-palestine
https://www.newarab.com/news/why-pro-palestinian-activism-being-suppressed-europe
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








