Puluhan anak terlihat sedang berkumpul, mereka berdesak-desakan, dan berlomba-lomba memperlihatkan karya seni mereka. Ini adalah sebuah pemandangan janggal di tengah lautan tenda darurat yang didirikan untuk pengungsi Palestina di halaman Rumah Sakit al-Shifa. Banyak anak yang melukis bendera Palestina, sementara yang lain menggambar rumahnya. Beberapa dari mereka menggunakan warna-warna cerah untuk dilukis di wajah mereka oleh para relawan muda yang menjalankan acara tersebut. Semuanya berharap agar hiburan sederhana itu dapat sejenak menjeda penderitaan yang berat di Gaza dan memberikan manfaat bagi anak-anak.
“Kami tahu ini tidak akan menyembuhkan trauma mereka, tapi ini adalah upaya kecil untuk mengalihkan perhatian mereka dan sedikit memperbaiki suasana hati mereka,” kata Nadim Hamed Jad, salah satu penyelenggara. Acara ini merupakan yang keempat kali dilaksanakan sejak hari Minggu, kata penyelenggara kepada Al Jazeera. “Semua orang di Jalur Gaza, mulai dari orang tua hingga anak-anak, merasakan neraka akibat pengeboman dan penghancuran Israel yang kita lihat setiap hari,” kata Jad.
Setelah 20 hari pengeboman Israel yang tiada henti di Jalur Gaza, lebih dari 7.000 warga Palestina telah tewas, termasuk 2.913 anak-anak dan hampir 2.000 perempuan dan anak perempuan. Lebih dari 17.500 orang juga dilaporkan terluka, menurut data terbaru dari pihak berwenang di Gaza, yang juga menyebutkan diperkirakan ada 1.500 orang terjebak di bawah reruntuhan rumah mereka, termasuk sedikitnya 800 anak. Sementara itu, terdapat sekitar 50.000 pengungsi yang berharap dapat berlindung di RS al-Shifa.
Salah satu anak, Suha Shublaq yang berusia tujuh tahun menggambar rumahnya, tanpa mengetahui apakah rumahnya masih berdiri atau telah hancur. “Saya telah melihat begitu banyak orang mati,” katanya. “Saya ingin gencatan senjata sehingga saya bisa kembali ke rumah saya di lingkungan Shaaf.”
Hasan Thaher, 10, berasal dari lingkungan utara Karamah, yang diratakan dengan bom Israel pada minggu pertama serangan. “Kami harus pergi dan datang ke sini,” katanya sambil menggambar bendera Palestina dan mewarnainya. “Aku ingin hidupku kembali. Aku biasa bermain ayunan dan pergi ke toko sendirian dan bermain dengan mainanku. Aku merindukan itu semua.”
Jana Elwan mengatakan dia menggambar kucing karena ingin anak-anak kecil mengagumi karya seninya. “Saya menginginkan gencatan senjata karena mereka terus mengebom rumah kami,” kata Suha. “Saya rindu bermain dengan teman-teman dan tidak sabar untuk melakukannya lagi.”
Jad, seorang aktivis pemuda, mengatakan pesan dari anak-anak dengan sangat jelas. “Di belakang mereka ada tenda yang penuh dengan mayat, orang-orang yang terbunuh di dalam rumah mereka sendiri akibat serangan udara Israel,” katanya. “Tapi apa yang diinginkan anak-anak? Kehidupan yang aman, damai, dan kemampuan untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut.” “Kita semua ingin agresi ini berakhir. Kita bisa membicarakan bantuan kemanusiaan dan hal lainnya nanti, tapi saat ini, semua orang ingin kehancuran dan pembunuhan ini dihentikan,” tambahnya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








