Blokade yang dilakukan Israel di Jalur Gaza sejak tahun 2006 telah menyebabkan 80 persen dari 2,3 juta penduduknya bergantung pada bantuan internasional, kata PBB. Dalam laporannya tentang pengembangan ekonomi Wilayah Palestina untuk tahun 2022, Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) mengatakan: “Hasil pembatasan, blokade total, dan operasi militer Israel telah menjadi penindasan terhadap investasi dan sektor produktif Gaza, menyebabkan runtuhnya ekonomi Gaza”. Laporan tersebut juga menunjukkan hilangnya tanah dan sumber daya alam yang dirampas Israel untuk dibuat pemukiman. Selain itu, kemiskinan endemik, ruang fiskal yang menyusut, penurunan bantuan asing, dan penumpukan hutang publik dan swasta juga menjadi faktor utama yang memengaruhi ekonomi Gaza.
Menurut laporan tersebut, seseorang yang tinggal pada tahun 2022 di Gaza, salah satu daerah terpadat di dunia, terpaksa menghabiskan separuh waktunya tanpa listrik, tanpa air bersih, atau tanpa akses ke sistem pembuangan limbah yang sesuai. Dalam laporannya, yang disiapkan sebelum putaran pengeboman Israel terbaru sejak 7 Oktober, UNCTAD mengatakan Gaza membutuhkan miliaran dolar dalam bantuan ekonomi internasional untuk memberikan kompensasi selama bertahun-tahun blokade yang telah menahan ekonominya dan mengekang perkembangannya.
“Donor dan masyarakat internasional perlu memperluas bantuan ekonomi yang signifikan untuk memperbaiki kerusakan ekstensif yang dialami Gaza di bawah blokade yang berkepanjangan dan agresi militer, yang telah menahan laju ekonomi dan menghancurkan infrastruktur,” kata laporan itu.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








