Korban tewas dari kalangan anak-anak Palestina telah melebihi 1.000 orang sejak Israel melancarkan serangan udara selama seminggu di Gaza dimulai pada 7 Oktober, ungkap LSM Defense for Children International (DCI). DCI melaporkan bahwa pengeboman Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 100 anak setiap harinya – setara dengan satu anak setiap 15 menit.
Jalur Gaza memiliki luas sekitar 365 km persegi, dan merupakan rumah bagi 2,3 juta warga Palestina yang setengahnya adalah anak-anak. Korban tewas keseluruhan di Gaza akibat pengeboman Israel sejak dimulainya agresi telah mencapai lebih dari 2.808 orang. LSM tersebut menekankan bahwa angka-angka itu, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, hanya mencakup jumlah orang yang dirawat di rumah sakit. Dengan perkiraan 1.000 warga Palestina yang masih berada di bawah reruntuhan, menurut Kementerian Dalam Negeri, jumlah korban tewas kemungkinan akan terus bertambah.
DCI mengatakan bahwa penghentian pasokan listrik dan bahan bakar ke Gaza membuat anak-anak Palestina menderita dampak psikologis dari “krisis kemanusiaan yang semakin mengerikan”. Kurangnya listrik telah memperburuk kelangkaan pangan, sehingga pendingin tidak bisa beroperasi. Selain itu, terputusnya pasokan air ke Gaza membuat banyak anak-anak kini terpaksa beralih ke sumber air yang telah terkontaminasi, menurut Unicef
“Dampak dari agresi ini tidak hanya akan berdampak pada korban yang meninggal atau hilang, tetapi juga terhadap kami, warga sipil dan anak-anak. Ini akan menjadi bencana besar,” kata Mohammad Abu Rukbeh, peneliti lapangan senior Gaza di DCI cabang Palestina. Menurut LSM tersebut, dampak psikologis yang dialami anak-anak yang selamat dari serangan udara di Gaza semakin diperparah oleh trauma yang sebelumnya memang sudah ada akibat blokade selama 16 tahun di jalur tersebut.
Sebelum serangan yang terjadi saat ini, satu dari empat anak-anak Gaza sudah membutuhkan dukungan psikososial, dan lebih dari setengahnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk kelangsungan hidup mereka. Empat dari lima anak Gaza hidup dalam depresi, kesedihan, dan ketakutan. “Dampak emosional yang dialami anak-anak ini sangat besar, karena mereka tidak hanya bergulat dengan penderitaan akibat situasi saat ini di kota mereka, tetapi juga tantangan berat dalam menjalani hidup tanpa dukungan mendasar dari keluarga mereka,” kata LSM tersebut.
Pada hari Selasa, politisi Palestina MK Aida Touma-Sliman mengatakan di Knesset bahwa “tidak ada anak, baik Yahudi maupun Palestina, yang bersalah. Dan tidak ada anak yang boleh menjadi korban dari siklus berdarah ini”. Sebagai tanggapan, MK Merav Ben-Ari, seorang anggota partai berhaluan tengah Yesh Atid, mengatakan: “Anak-anak di Gaza yang menanggung akibatnya sendiri.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








