Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tengah melanda sejumlah wilayah Indonesia. Antara lain terjadi di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Bali, dan Pulau Jawa. Karhutla membuat sejumlah kota terselimuti kabut asap.
Di Kota Jambi, Stasiun Jambi Paal Lima mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Jambi pada Selasa pukul 16.00 WIB sebesar 131, dan masuk kategori tidak sehat. Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Jambi Taufik mengatakan bahwa jumlah kasus penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di daerah tersebut pada September 2023 mencapai 7.717 kasus yang tersebar di 20 Puskesmas se-Kota Jambi, kasus ISPA didominasi anak anak. Melonjaknya kasus ISPA membuat petugas Puskesmas kewalahan.
Selain itu, kabut asap membuat wilayah Jambi dan Palembang memberlakukan kegiatan belajar mengajar daring alias Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pemberlakuan PJJ juga terjadi di Banjarmasin, untuk siswa sekolah jenjang PAUD hingga SMP, akibat kabut asap karhutla yang kian meluas. Data yang dilansir Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin menyebutkan 5896 kasus ISPA sampai dengan bulan September 2023 dengan klasifikasi umur 0–60 tahun sebanyak 688 kasus.
Akibat banyaknya kabut asap ini, Malaysia pun ikut komplain kepada Pemerintah Indonesia karena menganggap Indonesia sebagai sumber asap yang ada di Malaysia. Menurut Menteri Sumber Daya Alam, Lingkungan, dan Perubahan Iklim Malaysia Nik Nazmi Nik Ahmad, pihaknya telah menyurati pihak terkait di Indonesia untuk mengatasi masalah tersebut. Kemudian, berita dari kantor berita asing juga mengatakan bahwa karhutla di Indonesia menyebabkan asap lintas batas hingga Malaysia.
Oleh karena itu, Malaysia tengah bersiap untuk menutup sekolah-sekolah gara-gara kabut asap imbas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Indeks polusi udara (API) di sejumlah wilayah Malaysia dilaporkan buruk. Menurut situs API Malaysia, indeks polusi udara di sejumlah wilayah Negeri Jiran itu tercatat pada Rabu (4/10) petang pada level 138 atau dalam kondisi tidak sehat.
Direktur Jenderal Departemen Meterologi Malaysia (MetMalaysia) Muhammad Helmi Abdullah mengatakan, berdasarkan ASEAN Specialized Meteorological Center (ASMC) yang melaporkan rekaman citra satelit National Oceanic and Atmospheric Administration 20 (NOAA-20), tidak ada titik api kategori High Confidence Level yang tercatat di Semenanjung Malaysia, Sabah, dan Sarawak. Sementara, 353 titik api terdeteksi di Kalimantan dan 113 titik api terdeteksi di Sumatra.
ASMC mengatakan, stasiun kualitas udara di wilayah Sumatra bagian selatan dan tengah, serta di Kalimantan tengah melaporkan tingkat kualitas udara yang tidak sehat. Namun, pernyataan Malaysia dibantah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Menteri LHK) Siti Nurbaya Bakar. “Kita terus mengikuti perkembangan dan tidak ada transboundary haze ke Malaysia. Tidak ada asap yang menyeberang,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Senin (2/10).
Menurut data BMKG yang didapat dari pantauan satelit Himawari, citra sebaran asap wilayah Indonesia pada tiga hari tersebut terdeteksi di sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Arah angin di Indonesia pada umumnya dari tenggara ke barat laut-timur laut. Tapi, tidak terdeteksi adanya asap lintas batas. “Jadi jelas, keduanya menyatakan tidak ada asap lintas batas,” ujar Siti.
Meski begitu, ia mengakui terdapat berbagai catatan yang perlu jadi perhatian sejumlah pihak. Saat ini, pihaknya tengah berjibaku memadamkan kebakaran lahan di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta beberapa daerah lain di Sumatra dan Kalimantan. Pemadaman juga dilakukan di sebagian wilayah Jawa.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








