Kejahatan dan kebencian pemukim Israel terhadap umat Kristen terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya tindakan pemukim Yahudi yang meludahi jemaat Kristen di Yerusalem. Serangan terhadap umat Kristen telah meningkat selama akhir pekan yang bertepatan dengan awal hari raya Yahudi, Sukkot. Puluhan ribu pemukim ilegal Israel menyerbu kota, memicu peningkatan kebencian terhadap umat Kristen dan Muslim. Rekaman pemukim Israel meludahi jemaat Kristen telah beredar luas di media sosial. Gereja-gereja di Al-Quds (Yerusalem) juga mengonfirmasi bahwa jumlah serangan terhadap umat Kristen terus meningkat.
Merujuk pada lonjakan rasisme anti-Kristen yang dilakukan Israel, Patriark Latin Al-Quds, Pierbattista Pizzaballa, mengatakan bahwa insiden tersebut bukanlah hal baru. “Namun, kami merasa bahwa belakangan ini hal tersebut menjadi lebih sering.” Patriark menambahkan, “Ini terkait dengan kelompok dan gerakan ultra-Ortodoks dan Zionis. Kehadiran kelompok-kelompok ini di Kota Tua Al-Quds ini menjadi lebih banyak dibandingkan dulu. Tidak ada keraguan bahwa ada kalangan para rabi yang menyetujui, bahkan mendorong dilakukannya hal itu.” Pizzaballa juga menyalahkan pemerintah ekstrem kanan Israel di bawah pimpinan Benjamin Netanyahu atas meningkatnya serangan anti-Kristen. “Sekalipun mungkin sebagian dari gerakan-gerakan ini merasa belum mendapat dukungan [oleh negara], tetapi setidaknya mereka dilindungi.”
Ia berpendapat bahwa apa yang terjadi pada umat Kristiani bukanlah insiden yang terpisah. “Kami melihat peningkatan kekerasan di masyarakat Israel dan Palestina. Apa yang kita lihat pada umat Kristiani adalah bagian dari fenomena yang lebih luas. Suara-suara moderat tidak lagi terdengar dan suara-suara ekstrem semakin kuat. Kami telah menghubungi pihak berwenang dan polisi mengenai masalah ini.” Sementara itu, para pemukim Israel mengatakan bahwa serangan itu adalah bagian dari “tradisi Yahudi kuno.” Salah satu ekstremis Israel, Elisha Yered, yang dicurigai terlibat dalam pembunuhan remaja Palestina Qusai Jamal Maatan, membela tindakan meludah tersebut dalam sebuah postingan di platform media sosial X (Twitter).
“Ini saat yang tepat untuk menyebutkan bahwa meludah di dekat pendeta atau gereja adalah kebiasaan Yahudi kuno. Bahkan ada berkat khusus dalam hukum Yahudi yang harus diucapkan ketika Anda melihat gereja,” kata Yered. “Mungkin karena pengaruh budaya Barat, kita agak lupa apa itu agama Kristen, tapi menurut saya jutaan orang Yahudi yang menjalani perang salib di pengasingan, penyiksaan Inkuisisi, pertumpahan darah, dan pogrom massal tidak akan pernah melupakannya.” Para pemimpin Gereja telah memperingatkan bahwa kekerasan anti-Kristen oleh pemukim Israel telah meningkat tahun ini. Mereka juga mengeluh bahwa polisi menolak menangani situasi ini dengan cukup serius dan mengidentifikasi meningkatnya daftar insiden kekerasan sebagai tren kejahatan kebencian yang meresahkan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








