Apa memori masa kecil yang tersimpan di benak kalian saat hari pertama masuk sekolah? Rasa antusias saat bertemu teman-teman setelah libur, memakai seragam dan atribut sekolah baru, membeli kebutuhan peralatan sekolah yang unik dan lucu, atau mungkin rasa khawatir saat menghadapi fase baru dalam dunia pendidikan? Bisa jadi kita semua pernah mengalami hal-hal tersebut saat masa sekolah, sebab tahun ajaran baru di Indonesia selalu memiliki “warna” tersendiri. Biasanya toko-toko yang menjual buku dan peralatan sekolah akan menggelar diskon khusus, lembaga-lembaga bimbingan belajar mulai menggencarkan promosi, dan keluarga yang memiliki anak usia sekolah juga antusias mengantarkan sang anak menuju sekolah untuk pertama kalinya.
Tapi di Palestina, sepertinya memori tahun ajaran baru yang tersimpan di benak anak-anak sangat berbeda. Mereka tidak terlepas dari ancaman tembakan dan gas air mata, hanya karena mereka ingin menimba ilmu di sekolah. Waktu berangkat dan pulang sekolah menjadi sesuatu yang menakutkan, sebab mereka harus berhadapan dengan pos pemeriksaan atau pemukim jahil yang sering mengejar dan menyerang mereka tanpa sebab. Orang tua yang melepas anak-anak mereka pergi ke sekolah pun seakan harus bersiap dengan segala kemungkinan, sebab bisa jadi itu adalah momen terakhir mereka bisa melihat sang anak.
Tahun Ajaran Baru pada Tahun Paling Mematikan
Bulan Agustus lalu, lebih dari 1,3 juga anak Palestina di Tepi Barat, Al-Quds (Yerusalem) Timur, dan Jalur Gaza telah memasuki tahun ajaran baru. Namun, tahun ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa-siswi Palestina karena banyaknya gejolak yang terjadi sejak awal tahun, ujar Lynn Hastings, Koordinator PBB di Wilayah Palestina.
Bagaimana tidak, pada paruh pertama tahun 2023, PBB telah mencatat lebih dari 423 pelanggaran yang menargetkan anak-anak. Pelanggaran-pelanggaran tersebut mencakup penembakan sekolah atau siswa, penghancuran gedung sekolah, penghadangan siswa di pos pemeriksaan, gangguan dan pelecehan oleh pemukim, serta pelanggaran-pelanggaran lainnya. Akibat hal ini, sebanyak 50.000 anak Palestina terkena dampak yang mengganggu mereka secara fisik maupun psikologis, yang tentunya sangat memengaruhi mereka saat menjalani proses belajar di sekolah.
Hastings mengatakan, “Sekolah harus menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar, berkembang, dan dilindungi. Di sinilah generasi muda didorong untuk bertanya, mengeksplorasi, dan mengembangkan potensi mereka sepenuhnya. Namun, bagi anak-anak di wilayah Palestina yang dijajah, 2023 merupakan tahun yang sangat buruk.“
“Anak-anak kehilangan waktu belajar selama berminggu-minggu pada tahun ini akibat serangan terhadap UNRWA dan guru sekolah negeri di Tepi Barat, eskalasi kekerasan pada bulan Mei di Gaza, dan operasi pasukan Israel di kamp pengungsi Palestina di Tepi Barat,” lanjutnya. “Semakin lama anak-anak kehilangan pendidikan, semakin sulit untuk memberikan kompensasi dan mengganti kerugian tersebut; semua komunitas akan merasakan dampaknya.”
“Pada kenyataannya, keadaan menjadi lebih buruk,” tambah Koordinator Kemanusiaan PBB tersebut. “Sejak awal tahun ini, 42 anak Palestina telah dibunuh; 35 di Tepi Barat, termasuk di Al-Quds (Yerusalem) Timur, dan tujuh lainnya di Jalur Gaza. Di Tepi Barat, jumlah total anak-anak Palestina yang terbunuh tahun ini hampir sama dengan jumlah anak-anak yang terbunuh sepanjang tahun 2022.”
Pernyataan tersebut bukanlah mengada-ada, berikut adalah fakta kondisi tahun ajaran baru di beberapa kota di Palestina:
Al-Quds (Yerusalem)
Di Al-Quds (Yerusalem), anak-anak dengan semangat berbaris di lapangan pada hari pertama tahun ajaran baru, meskipun mereka harus menghadapi rintangan yang tidak mudah setiap pagi saat berangkat sekolah. Para siswa di Al-Quds (Yerusalem), terutama yang bersekolah di dekat kawasan Masjid Al-Aqsa, hampir setiap hari berhadapan dengan pasukan Israel yang menghadang mereka. Pasukan Israel seringkali menggeledah tas mereka, bahkan baru-baru ini menyita buku pelajaran dan barang-barang mereka yang terdapat simbol Palestina seperti bendera, peta, atau kunci.



(Sumber: https://twitter.com/QudsNen/status/1693353844149731623?t=ywA0HB1FOv9cwZfv9_C0MQ&s=19
https://twitter.com/QudsNen/status/1693279632122872108?t=ePfnGQDOD7wCtwpofDYYIw&s=19)
Jeeb Al-Deeb
Di Jeeb Al-Deeb, anak-anak terpaksa belajar di lapangan terbuka karena sekolah mereka dihancurkan. Namun demikian, para siswa tetap terlihat antusias untuk bersekolah. Selain itu, guru-guru yang mendampingi mereka juga tidak mengenal kata menyerah untuk mendampingi proses belajar anak-anak, meskipun mereka harus mengajar di ruang terbuka karena tidak mempunyai pilihan lain. Di dalam foto berikut ini, anak-anak sedang menjalani proses penyambutan siswa baru. Anak-anak tersebut mendengarkan instruksi dari guru mereka kemudian dilanjutkan dengan belajar di pinggir jalan, beralaskan batu dan tanah.



(Sumber: https://twitter.com/QudsNen/status/1693188251610198206?t=HL7jfY3Om6K0AG_M2LydPg&s=19)
Masafer Yatta
Di Masafer Yatta, anak-anak Palestina juga terpaksa belajar di lapangan dengan batu sebagai kursinya. Hal ini disebabkan banyak sekolah di Masafer Yatta telah dihancurkan oleh pasukan Israel, dan sekolah-sekolah yang masih berdiri juga telah diancam akan dihancurkan juga. Jika itu terjadi, maka anak-anak di Masafer Yatta bisa jadi akan kehilangan akses pendidikan, atau terpaksa belajar di ruang terbuka terus-menerus seperti yang terjadi saat ini. Akan tetapi, terlepas dari berbagai kesulitan yang dihadapi, anak-anak Palestina di Masafer Yatta tetap semangat dalam belajar. Di bawah teriknya matahari, dengan batu dan tanah sebagai kursinya, anak-anak ini tetap terlihat antusias membaca buku pelajaran sekolah mereka bersama teman-teman.




(Sumber: https://twitter.com/QudsNen/status/1693148456007721192?t=QI6dCMyQD1hYb7jNeYN6eQ&s=19)
Qalqilya
Di Qalqilya, kondisi fasilitas pendidikan masih lebih baik dibanding Masafer Yatta. Di kota ini, anak-anak Palestina masih bisa belajar di gedung sekolah dan memiliki ruangan kelas, meskipun tidak terlalu besar. Dengan fasilitas sekolah yang masih cukup baik, anak-anak di Qalqilya bisa mengikuti proses tahun ajaran baru dengan baik dan bersekolah di ruangan kelas seperti anak-anak pada umumnya.


(Sumber: https://twitter.com/QudsNen/status/1693275032724672750?t=SB_6fin5_uG227uJKOoXPQ&s=19)
Nablus
Di Nablus, anak-anak Palestina terlihat berjalan kaki bersama-sama pada hari pertama sekolah. Siswa Palestina di Nablus juga cukup beruntung karena masih memiliki gedung sekolah untuk belajar, meskipun gedung sekolah mereka sederhana dan terlihat sudah cukup tua. Meskipun demikian, siswa dari berbagai usia di Nablus tetap terlihat bersemangat untuk melakukan perjalanan ke sekolah bersama teman-teman mereka untuk menuntut ilmu bersama.


(Sumber: https://twitter.com/QudsNen/status/1693187165302264035?t=6SfSqUl7DI8c9egxgaf__g&s=19)
Hebron
Di Hebron, gedung sekolah tempat anak-anak Palestina belajar memiliki bentuk yang agak unik karena berupa bangunan besi yang dikelilingi jeruji. Sekilas terlihat seperti penjara, tetapi hanya tempat inilah yang mereka punya dan bisa digunakan untuk proses belajar-mengajar. Meski tampak seperti penjara, di gedung sekolah inilah logika dan pemikiran anak-anak Palestina dibebaskan untuk berkelana, sebab seperti anak-anak lainnya di seluruh dunia, mereka juga berhak memiliki mimpi dan cita-cita untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.



(Sumber: https://twitter.com/QudsNen/status/1693173480202666448?t=PFG7wnE_qMwLu_Q77gp8tw&s=19)
Yahudinisasi Pendidikan Masih Terus Berlanjut
Hingga saat ini, kondisi pendidikan di Palestina masih memprihatinkan. Anak-anak masih sering diganggu dan digeledah saat berangkat dan pulang sekolah, guru-guru dan staf pendidikan kerap menjadi sasaran penyerangan, sekolah-sekolah pun satu per satu terus dihancurkan atau ditutup paksa, sedangkan sekolah yang masih beroperasi selalu menjadi sasaran tembakan peluru dan bom gas air mata. Jika dibiarkan, anak-anak Palestina terancam bisa kehilangan akses pendidikan sama sekali, atau terpaksa menempuh pendidikan dengan bersekolah di lembaga pendidikan yang menggunakan kurikulum Israel, sekalipun mereka menolaknya.
Permintaan anak-anak Palestina tak banyak: mereka hanya ingin belajar dengan damai seperti anak-anak lainnya. Maka adakah alasan bagi kita untuk mengabaikan hak mereka?
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://english.wafa.ps/Pages/Details/135976
https://english.wafa.ps/Pages/Details/137267
https://www.#/20230827-un-schools-in-gaza-begin-school-year-uncertain-if-they-will-stay-open/
https://daysofpalestine.ps/gazas-students-return-to-school-for-new-academic-year/
https://english.wafa.ps/Pages/Details/137267
https://daysofpalestine.ps/israeli-occupation-to-demolish-53-palestinian-schools-in-west-bank/
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








