Pernahkah rumah kalian mati lampu? Seperti apa rasanya? Sangat tidak nyaman bukan, terutama pada saat musim panas. Udara terasa terik, rumah menjadi gelap, aktivitas pun menjadi sulit atau bahkan sama sekali tidak bisa dilakukan saat mati lampu. Tapi pernahkah teman-teman membayangkan bagaimana rasanya mati lampu selama lebih dari sepuluh jam setiap harinya? Itulah kenyataan yang selama ini terjadi di Palestina, terutama di Jalur Gaza.
Pada 30 Juli 2023, ratusan warga Gaza turun ke jalan. Mereka memprotes pemadaman listrik yang terus-menerus terjadi, terutama selama musim panas. Warga Gaza juga menuntut diakhirinya blokade yang telah berlangsung selama lebih dari 17 tahun, mengakibatkan angka pengangguran melonjak tinggi, ekonomi menjadi lumpuh, dan kehidupan semakin mencekik.
Di belahan dunia lainnya, musim panas disambut dengan suka cita, sebab identik dengan masa liburan anak sekolah. Namun, tidak demikian halnya di Palestina; setiap tahunnya, musim panas selalu menambah penderitaan penduduk yang pada hari-hari biasa pun sangat menderita akibat penjajahan Zionis yang tidak kunjung usai.
Setiap Hari Terasa Seperti Neraka

“Rumah kami sekarang menyerupai kuburan. Suhunya tinggi dan sangat lembab,” kata Enas Rami, seorang ibu rumah tangga di Jalur Gaza, menggambarkan kondisi rumahnya ketika musim panas. “Kami hanya memiliki listrik selama sekitar lima jam sehari, itu pun hidup-mati. Anak-anak juga mengalami biang keringat karena kami tidak memiliki kipas angin,” ia menambahkan.
Pada pertengahan tahun 2023 ini, Badan Meteorologi Dunia telah mengeluarkan peringatan untuk negara Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) bahwa wilayah tersebut mengalami suhu yang sangat ekstrem. Di Palestina, khususnya di Jalur Gaza, peringatan ini mengundang rasa takut yang berbeda bagi lebih dari dua juta orang yang tinggal di daerah yang diblokade tersebut.
Suhu musim panas di Palestina pada tahun ini berkisar di angka 38°C, bahkan bisa lebih tinggi dari itu. Suhu yang ekstrem, ditambah dengan pemadaman listrik terus-menerus, membuat warga Gaza frustrasi karena tidak dapat menjalankan aktivitas mereka sebagaimana mestinya.
“Setelah lulus kuliah, saya tinggal di rumah karena tidak ada kesempatan kerja. Saya hanya menghabiskan sebagian besar waktu di depan komputer, bermain game, dan menonton film,” Uday Obaid, seorang sarjana muda, mengatakan kepada MEE. Dari kalimatnya, tergambar betapa sulitnya mencari lapangan pekerjaan di Gaza akibat blokade yang telah berlangsung belasan tahun.
“Sekarang krisis listrik semakin parah. Saya menghabiskan sebagian besar hari-hari saya tidur di atap rumah hanya untuk merasakan angin sejuk. Di dalam rumah rasanya tidak tertahankan tanpa listrik. Harga satu kilowatt mencapai delapan kali lipat dari harga semula,” demikian ia menjelaskan pengaruh musim panas terhadap mental warga Gaza yang untuk bertahan hidup sehari-hari saja sudah sangat sulit.
Bagi para pedagang kecil di Gaza, musim panas dan pemadaman listrik menjadi satu paket yang mengancam mata pencaharian mereka. Kamal Al-Ayi, Manajer Perusahaan Pasokan Makanan di Gaza mengatakan, “Pabrik kami membutuhkan listrik yang stabil untuk menjaga agar mesin tetap beroperasi dan produk bisa didinginkan agar tidak rusak karena panas.”
“Generator harus tetap menyala agar jalur produksi dapat berlanjut. Ini memerlukan biaya mahal, karena membutuhkan banyak bahan bakar untuk menghidupkannya selama dua atau tiga hari dalam seminggu.” Ia menjelaskan bahwa selama musim panas ia bahkan harus menyalakan generator setiap hari dan terpaksa menaikkan harga makanan yang ia jual. Hal itu kemudian membuat masalah baru, yaitu krisis pangan sebab warga Gaza tidak sanggup untuk membeli makanan.
“Ini adalah akhir tahun sekolah. Biasanya pabrik kami akan membuat banyak permen dan cokelat. Seharusnya ini menjadi momentum untuk meraup keuntungan, tetapi kami harus mengubah jadwal kami dan bekerja ketika kami mendapat pasokan listrik agar harga produk tetap terjangkau,” katanya.
Menghadapi musim panas tanpa adanya listrik, warga Gaza dari seluruh kalangan menghadapi ancaman yang sama: keracunan makanan, penurunan kualitas hidup, tidak berfungsinya layanan kesehatan, sulitnya memperoleh air bersih, ditambah masalah kesehatan mental akibat tekanan yang terlampau berat.
“Saya menyimpan buah segar di lemari es, yang hanya bertahan sekitar 10 jam sehari,” kata Ibrahim Omar, seorang pemilik kedai kopi. “Pelanggan juga berkurang, karena kami tidak bisa menyalakan AC, kipas angin, atau menampilkan pertandingan sepak bola di layar. Kami telah menderita masalah yang sama selama bertahun-tahun, tetapi belum terselesaikan.”
“Malam hari gelap gulita. Kami terkadang menggunakan senter di ponsel kami untuk memandu jalan kami,” kata Omar. “Ada juga risiko kecelakaan mobil yang fatal karena kami tidak dapat melihat pada malam hari. Anak-anak tidak bisa tidur karena kepanasan, dan saya punya kerabat yang membutuhkan mesin penyambung hidup yang mengandalkan listrik. Dia terpaksa membayar biaya yang sangat tinggi untuk menyalakan generator sepanjang hari.”
Panas yang Membunuh

Dina Ahmad (33), menggendong bayinya yang baru lahir. Keduanya terlihat lengket dan berkeringat. Dia meletakkan kepala putranya di salah satu tangannya, sementara tangan lainnya memegang selembar kertas dan menjadikannya kipas darurat. Bayi itu menyusu sebentar-sebentar karena panas yang ekstrem, sebelum menatap kembali ke arah ibunya. Ketiga putra Dina lainnya yang lebih tua memahami situasinya sedikit lebih baik. Masing-masing, meski frustrasi, memegang kipas buatan sendiri untuk mengurangi hawa panas.
Dina dan seluruh anaknya duduk di lantai. Mereka merasa bahwa lantai terasa jauh lebih sejuk daripada sofa. Kadang-kadang, selama sore hari yang sangat panas di rumah, Dina menyemprotkan air ke lantai, kemudian mereka duduk berjam-jam di ubin dengan pakaian basah. Meski pintu dan jendela mereka terbuka lebar, tanpa kipas angin, AC, atau air dingin di lemari es, panas di dalam rumah mereka rasanya tetap saja menyiksa.
Dina dan keluarganya mengatakan bahwa mereka merindukan saat-saat memiliki kipas angin. “Terkadang saya merasa panas ekstrem ini bisa membunuh,” keluh Dina. “Saya membayangkan anak-anak saya akan mati lemas. Jika Anda tidak bisa menyalakan kipas angin selama waktu terpanas, bukankah itu menjelaskan banyak hal tentang bagaimana kami hidup?” dia mengajukan pertanyaan retoris.
Gaza saat ini hanya memiliki satu pembangkit listrik yang berfungsi untuk menyuplai listrik ke seluruh wilayah, sedangkan empat generator lainnya saat ini sudah tidak berfungsi. Sumber daya lainnya yang mengatur listrik di Gaza adalah Israel Electric Corporation, namun tetap tidak bisa mencukupi kebutuhan karena hanya menyediakan 120 megawatt dari total 500 megawatt per hari yang dibutuhkan penduduk Gaza.
Jamal Ismail, Kepala Otoritas Energi di Gaza, mengatakan, “Defisit energi telah mencapai sekitar 60 persen, meskipun kami telah berupaya untuk menjatah dan meluncurkan smart meter. Kami menginvestasikan uang yang dihemat untuk meningkatkan kualitas generator. Kami juga mendapat hibah dari Qatar, yang menutupi sebagian biaya.”
Smart Meter atau Meteran Pintar, sungguh kontradiktif dari makna namanya. Alih-alih membantu, teknologi ini justru semakin mencekik warga Gaza, yang lebih dari separuhnya menderita kesulitan ekonomi akibat blokade Israel. Perusahaan listrik telah mengeluarkan pengumuman tentang aturan baru yang mewajibkan penduduk untuk mengganti meteran listrik manual lama mereka dengan meteran listrik pintar baru yang disediakan oleh perusahaan. Meteran baru ini akan memaksa orang untuk membayar di muka untuk menggunakan listrik. Bagi banyak orang di Gaza, di tengah krisis ekonomi, persyaratan itu tidak dapat dijangkau. Jarang sekali ada orang yang memiliki cukup uang untuk membayar di muka.
Dalam konferensi pers yang diadakan di kantor media pemerintah di Gaza pada bulan Juli, direktur umum perusahaan listrik, Maher Ayesh, menjelaskan masalah utama yang mendasari krisis listrik Gaza adalah kebutuhan energi yang meningkat, baik di bangunan tempat tinggal maupun fasilitas lainnya. Peningkatan populasi, tetapi terjadi stagnasi bahkan penurunan sumber daya yang tersedia, menjadi masalah serius di Gaza.
“Kami telah menghadapi ketidakmampuan yang semakin besar untuk memasok listrik sejak tahun 2000, dan ketidakmampuan itu meningkat seiring dengan berkurangnya sumber daya kami yang terbatas dari waktu ke waktu,” kata Ayesh. Sementara pesan di media sosial menuntut agar perusahaan listrik meningkatkan layanannya, perusahaan mengklaim bahwa meteran pintar akan bermanfaat bagi masyarakat, karena mereka akan mengoptimalkan penggunaan daya dan meningkatkannya hingga 50%. “Tujuan perusahaan adalah 300.000 pelanggan di Gaza akan beralih ke meteran pintar pada akhir tahun 2024,” kata Ayesh. “Sejauh ini kami telah memasang 50.000 meteran.”
Akan tetapi, untuk keluarga seperti Dina Ahmad, aturan baru ini tidak akan membuat perbedaan yang berarti. “Aku akan merusak meteran pintar itu jika mereka memaksa kami untuk menggunakannya. Kami akan tinggal di gua sebagai gantinya,” katanya. “Perusahaan listrik seharusnya membantu kami alih-alih mencari cara untuk membuat kami kewalahan.” “Ketika hal-hal dasar seperti pasokan listrik membutuhkan keajaiban untuk tersedia, kami melihat betapa berbedanya kami dari seluruh dunia,” kata Dina, sambil menunjuk putra-putranya yang tersiksa karena panas. “Blokade Israel memisahkan kami dari dunia, mengubah kebutuhan dasar kami seperti makanan dan listrik menjadi keinginan.”
Oven yang Memanggang Seluruh Isinya

Penderitaan akibat musim panas yang menyengat juga dirasakan oleh para tawanan Palestina di penjara-penjara Israel. Pusat Studi Tawanan Palestina PCPS mengonfirmasi bahwa tawanan Palestina, terutama yang berada di penjara selatan, mengalami kondisi sangat keras di tengah gelombang panas hebat yang melanda wilayah tersebut.
Sebagian besar penjara telah berubah menjadi “oven yang menghanguskan”. Bagaimana tidak, para tawanan dikurung di dalam sel yang tertutup dari semua sisi dengan ventilasi yang tidak memadai. Beberapa kipas yang ada di dalam sel hanya mengalirkan udara panas yang mencekik, semakin menambah penderitaan tawanan, terutama dengan meningkatnya kelembaban. Bahkan pekarangan penjara tidak dapat diakses karena panas yang ekstrem.
Penjara selatan, termasuk Negev, Rimon, Nafha, dan Eshel, yang menampung hampir setengah dari jumlah total tawanan, terletak di Gurun Negev. Wilayah ini merupakan tempat terjadinya lonjakan suhu dan kelembaban hingga tingkat yang mengkhawatirkan. Para tawanan menggambarkan penjara ini sebagai bagian dari neraka, sebab tubuh mereka terasa seperti terbakar di tungku yang menyala-nyala.
Riyad Al-Ashqar, Direktur Pusat Studi Tawanan Palestina, memperingatkan dampak buruk terhadap kesehatan tawanan dalam kondisi cuaca ekstrem seperti itu. Dia menyatakan keprihatinan atas sengatan panas, pingsan, dan kesulitan bernapas karena suhu yang sangat panas dan buruknya ventilasi. Kondisi ini menimbulkan ancaman yang lebih besar bagi kehidupan tawanan yang sakit, karena perawatan medis yang diberikan tidak mencukupi, tawanan juga mengalami pengabaian medis dan kematian yang perlahan.
Dalam kondisi iklim yang luar biasa ini, para tawanan terpaksa menggunakan air untuk membasahi pakaian mereka terus menerus, memercikkannya ke lantai sel dan koridor mereka, karena administrasi penjara tidak memedulikan kesejahteraan mereka dan kadang-kadang menyita kipas mereka sebagai tindakan hukuman.
Al-Ashqar menekankan bahwa suhu di Penjara Negev yang mencapai sekitar 50 derajat Celcius, memperburuk kondisi tawanan yang sudah menderita karena praktik Israel yang menindas dan tindakan hukuman yang dikenakan pada mereka. Situasi tersebut dapat menyebabkan munculnya reptil dan serangga yang berbahaya dan berbisa. Ular gurun yang mematikan, hewan pengerat, kalajengking, dan makhluk berbahaya lainnya dapat dengan mudah mencapai sel dan tenda para tawanan, menimbulkan ancaman serius bagi kehidupan mereka sementara administrasi tetap acuh tak acuh terhadap keselamatan mereka.
Pusat Studi Tawanan Palestina telah meminta lembaga internasional untuk campur tangan dan melindungi para tawanan dari kondisi cuaca ekstrem, yang menambah penderitaan di samping praktik sewenang-wenang pendudukan Israel terhadap para tawanan, terutama pada musim panas ini.
Musim Boleh Berganti, tetapi Penduduk Palestina Masih Menderita

Musim panas tahun ini memang menjadi masa yang berat bagi penduduk Palestina, tapi tidak menjadikannya sebagai satu-satunya musim yang berat. Pada faktanya, setiap hari, tanpa mengenal musim, penduduk Palestina harus menderita akibat penggusuran rumah, pengusiran paksa, penghancuran lahan pertanian, bahkan penyerangan dan pembunuhan yang tidak pandang bulu. Di Palestina, musim yang berganti hanya mengubah bentuk penderitaan satu ke bentuk yang lainnya, tetapi tidak mengurangi apalagi mengakhiri segala bentuk penderitaan yang mereka alami akibat penjajahan Zionis di tanah air mereka.
Tahun ini pun sama. Musim panas menjadi momen yang dimanfaatkan oleh Zionis untuk menambah penderitaan penduduk Palestina, termasuk yang tinggal di pengungsian dan tawanan yang berada di penjara. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, penduduk Palestina dipaksa untuk “terbiasa” dengan panas yang menyengat pada musim panas maupun dingin yang membekukan pada musim dingin. Tak ada jalan lain yang mereka miliki selain berusaha beradaptasi dengan kondisi tersebut, sebab selagi Zionis masih menjajah tanah Palestina, setiap musim selalu menjadi musim penderitaan bagi penduduk Palestina.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.#/20230730-business-booms-for-gaza-repairman-as-heatwave-fans-demand/
https://daysofpalestine.ps/pcps-israeli-prisons-turn-into-scorching-ovens-under-heatwaves/
https://www.newarab.com/news/heatwave-gaza-adds-electricity-shortage-misery
https://www.middleeasteye.net/news/middle-east-heatwave-hits-pictures
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








