Warga Palestina di Jalur Gaza yang terblokade telah dibiarkan tersiksa akibat kenaikan suhu karena pemadaman listrik yang meluas. Timur Tengah dan Afrika Utara telah mengalami suhu yang sangat panas, beberapa negara bahkan mencatat angka rekor, mendorong Organisasi Meteorologi Dunia untuk mengeluarkan peringatan.
Bagi dua juta orang yang tinggal di Gaza, yang telah berada di bawah blokade darat, laut, dan udara Israel selama lebih dari 17 tahun, banyak yang merasa takut menghadapi bulan-bulan mendatang. Kebanyakan orang hanya mendapatkan jatah sekitar 10 jam listrik sehari. Pemadaman listrik yang terus-menerus juga berdampak langsung pada bisnis, fasilitas medis, dan ekonomi yang lebih luas.
Suhu yang telah melampaui 38C, mulai menimbulkan ketidaknyamanan dan kemarahan, karena orang-orang harus berjuang untuk menyelesaikan tugas sehari-hari tanpa listrik yang memadai.
Kamal Al-Ayi, manajer Al-Ayi untuk Pasokan Makanan yang berbasis di Gaza, mengatakan kepada Middle East Eye bahwa perusahaannya sedang berjuang untuk mempertahankan mesinnya.
“Pabrik-pabrik kami membutuhkan listrik terus-menerus untuk menjaga agar mesin tetap beroperasi dan untuk menjaga agar produk tetap didinginkan agar tidak rusak karena panas,” katanya.
Pemadaman listrik juga memaksa banyak perusahaan dan usaha kecil mengalami kerugian finansial, karena mereka menggunakan generator. “Generator harus tetap menyala agar jalur produksi dapat berlanjut. Namun itu sangat mahal – membutuhkan banyak bahan bakar untuk menghidupkannya selama dua atau tiga hari seminggu,” kata Ayi.
Baru-baru ini, Ayi terpaksa menyalakan generator setiap hari, dan biaya tambahan memaksanya menaikkan harga barang, membuat banyak produk makanan tidak terjangkau oleh penduduk setempat.
“Ini adalah akhir tahun sekolah, jadi biasanya pabrik kami akan membuat banyak permen dan cokelat. Seharusnya ini adalah waktu puncak untuk mendapatkan keuntungan, tetapi kami harus mengubah jadwal kami dan bekerja ketika kami memiliki listrik untuk mencoba dan menjaga agar produk tetap terjangkau, ”katanya.
Pemilik usaha kecil juga menanggung beban krisis listrik. Ibrahim Omar, seorang pemilik kedai kopi, mengatakan sejak awal musim panas ia merugi besar. “Saya menyimpan buah segar di lemari es, yang hanya bertahan sekitar 10 jam sehari,” katanya. “Pelanggan yang masuk juga lebih sedikit, karena kami tidak bisa menyalakan AC, kipas angin, atau menampilkan pertandingan sepak bola di layar. Kami telah menderita masalah yang sama selama bertahun-tahun, tetapi belum terselesaikan.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








