Seorang remaja Palestina tewas kehabisan darah setelah serangan penembakan di pos pemeriksaan militer Qalandia di Tepi Barat, menurut kantor berita Palestina, WAFA. Ishaq Hamdi Ajlouni (17) ditembak mati oleh pasukan Israel setelah dia dituduh melepaskan tembakan di pos pemeriksaan pada Sabtu (24/6) dan melukai seorang penjaga keamanan, kata kantor berita tersebut.
Brigade Syuhada Al-Aqsa mengklaim Aljouni sebagai anggota mereka. “(Dia) Pejuang heroik kami, dia bisa secara langsung menargetkan tentara pendudukan (Israel) di pos pemeriksaan Qalandia,” kata brigade tersebut dalam sebuah pernyataan. Polisi mengatakan pemuda itu berasal dari lingkungan Kufr Aqab di utara pos pemeriksaan, mengklaimnya menggunakan senapan M-16 untuk melakukan penembakan.
Pos pemeriksaan Qalandia adalah gerbang utama yang digunakan oleh warga Palestina antara Al-Quds Timur dan Ramallah, tempat kedudukan Otoritas Palestina di Tepi Barat. Kekerasan telah melanda Tepi Barat sejak minggu lalu saat pasukan Israel menyerbu kamp pengungsi Jenin untuk menangkap dua orang yang dicari.
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk pada Jumat (23/6) mengecam penggunaan “persenjataan teknologi militer” Israel dalam serangan itu, sementara Amerika Serikat mengatakan pada hari yang sama bahwa pihaknya “secara aktif terlibat” dengan Israel setelah lonjakan kekerasan terjadi.
Pasukan Israel telah mengerahkan helikopter tempur selama penggerebekan Kamp Jenin – pertama kalinya setelah 20 tahun di Tepi Barat–yang menghantam kamp dan memakan korban sebanyak 91 orang. Sehari setelah serangan mematikan itu, beberapa orang bersenjata Palestina membunuh empat pemukim Israel di sebuah pom bensin antara Kota Ramallah dan Nablus di Palestina. Beberapa jam setelah penembakan, pemukim Israel menyerbu kota-kota Palestina, membakar properti dan menghancurkan mobil, menewaskan seorang pria Palestina.
Ketegangan di wilayah tersebut terus meningkat karena Israel telah memperluas serangan militernya di wilayah pendudukan dalam beberapa bulan terakhir di bawah pemerintahan sayap kanannya. Lebih dari 700.000 pemukim Israel tinggal di permukiman ilegal yang tidak diakui oleh hukum internasional di Tepi Barat dan Al-Quds Timur, yang direbut Israel dalam Perang 1967.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








