• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Kisah dari Burj Barajneh: Impitan Kemiskinan dan marginalisasi Status yang Menyesakkan

by Adara Relief International
Juni 21, 2023
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 8 mins read
0 0
0
Kisah dari Burj Barajneh: Impitan Kemiskinan dan marginalisasi Status yang Menyesakkan
58
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

“Impianku untuk anak-anak adalah agar dapat memiliki kehidupan yang normal, sebagaimana anak lainnya. Aku ingin dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. mendapatkan makanan dan pendidikan.” kata Bayan. Menerima wawancara di rumahnya di sebuah kamp pengungsian Burj Barajneh, Lebanon, ia terlihat sangat kusut, berbicara dengan cemas, dan menunjukkan keputusasaan di matanya.

Bayan, seorang pengungsi Palestina di Lebanon, menghadapi tantangan untuk terus mengelola kebutuhan pokok yang sulit ia penuhi untuk kelima anaknya yang berusia antara dua hingga dua belas tahun.

Krisis multidimensi kian berlarut-larut hingga menjadi normalisasi tersendiri di Lebanon. Kontraksi ekonomi panjang terus berlanjut pada tahun 2022, dengan PDB per kapita turun 36,5% antara 2019 dan 2021. Menurut Bank Dunia, penurunan tajam laju ekonomi Lebanon masih sangat jauh dari stabilisasi apalagi pemulihan. Inflasi rata-rata mencapai 171,2% pada tahun 2022, yang terutama didorong oleh kenaikan harga makanan dan minuman non-alkohol, mengakibatkan setengah dari penduduk terjebak dalam kemiskinan yang berkepanjangan.

Adapun pengungsi Palestina, yang tinggal di kamp-kamp yang penuh sesak di Lebanon, secara historis merupakan salah satu kelompok termiskin di negara itu. Menurut Laporan Pemantauan Krisis UNRWA terbaru tentang Situasi Sosial Ekonomi Pengungsi Palestina di Lebanon, sebanyak 93 persen dari semua pengungsi Palestina di Lebanon hidup dalam kemiskinan.

“Kondisi semakin memburuk tahun ini,” kata Bayan, “anak-anak saya tidak memiliki apa-apa, tidak ada makanan, tidak ada pakaian, tidak ada apa-apa!”. Kata-katanya tidak berlebihan sebab tidak ada yang layak dan normal dalam kehidupan mereka. Rumah bagi keluarga Bayan, adalah ruang tanpa jendela dan papan kayu yang menghalangi sebagian pintu masuk; “ini untuk mencegah tikus masuk ke dalam,” jelasnya.

Bayan membawa keluarganya ke Lebanon dari Suriah yang dilanda perang. Dari pengungsian di Suriah, kini ia dan keluarganya mendapat tampungan di pengungsian Burj Barajneh di Lebanon. Kamp itu terletak di pinggiran selatan Beirut, atau sekitar 4 kilometer dari pusat Ibu Kota Lebanon.

Burj Barajneh adalah rumah bagi para pengungsi Palestina sejak tahun 1949, yang awalnya menampung mereka yang melarikan diri dari wilayah Galilee (Al-Jalil) di utara Palestina pada Nakba 1948. Terhitung sejak 1969, populasi kamp berkembang pesat sehingga mengubah desain kamp secara keseluruhan. Pekerjaan pembangunan dilakukan secara acak, tanpa ada kesempatan untuk menambah pondasi. Jalan menjadi sangat sempit dan infrastruktur mengalami banyak kerusakan. Pada tahun 1982, sebagian dari kamp ini hancur karena invasi Israel dan perang sipil Lebanon.

Kemudian sejak perang Suriah dimulai, Kamp Burj Barajneh turut menampung para pengungsi Suriah sehingga semakin penuh sesak. Awalnya difungsikan untuk menampung 3,500 orang, kini penghuni kamp telah bertambah hingga lebih dari 10 kali lipat yaitu sekitar 40,000 orang. Menurut sensus pada 2021, setidaknya setengah dari penghuni kamp adalah pengungsi Palestina, baik mereka yang mengungsi langsung dari Palestina maupun para pengungsi Palestina yang sebelumnya mengungsi di Suriah.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Kabel listrik di kamp pengungsi, Kamp Burj Barajneh, Lebanon, Agustus 2021 (Sumber foto: UNICEF/Lebanon/2021/Juliette Touma)

Ketika menelusuri kamp, terlihat ​​air menetes ke kabel listrik yang kusut di antara jendela-jendela yang berimpitan. Ini mengakibatkan setiap tahunnya terdapat anak-anak yang meninggal karena menyentuh atau menginjak kabel basah. Lebih dari 67 orang, termasuk anak-anak, meninggal akibat kabel listrik ini dalam tujuh tahun terakhir.

Selain masalah keamanan, anak-anak di Lebanon mengalami masalah besar dalam pendidikan. Banyak di antara mereka yang tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka karena persoalan ekonomi. Tekanan keuangan rumah tangga memaksa anak-anak putus sekolah dan memutuskan untuk bekerja. UNRWA memperkirakan bahwa lebih dari 1.275 siswa pengungsi Palestina meninggalkan sekolah selama tahun ajaran 2020–2021 di Lebanon,dengan 55 persen di antaranya meninggalkan sekolah karena tekanan psikologis.

Krisis keuangan juga mengondisikan peningkatan permintaan untuk tempat pendaftaran di sekolah umum di kalangan siswa Lebanon yang orang tuanya tidak lagi mampu membiayai pendidikan swasta. Di kalangan pengungsi Palestina, permintaan pendaftaran sekolah UNRWA meningkat karena banyak siswa tidak dapat menemukan tempat di sekolah umum Lebanon. Masalah lain muncul, karena UNRWA saat ini menghadapi kebangkrutan akibat kurangnya pendanaan. Negara-negara donor hanya menyediakan $107 juta dana baru untuk badan PBB yang secara spesifik mengurus pengungsi Palestina ini, jauh di bawah $300 juta yang dibutuhkan untuk terus membantu jutaan orang di wilayah penjajahan Israel dan kamp-kamp pengungsi di negara-negara tetangga. UNRWA saat ini membutuhkan dana untuk membuka lebih dari 700 sekolah dan 140 klinik yang dibutuhkan dari September hingga Desember 2023.

Phillippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA mengatakan dalam konferensi pers pada Kamis (6/6) bahwa UNRWA membutuhkan $150 juta untuk menjaga semua layanan agar dapat berjalan hingga akhir tahun, dan tambahan $50 juta untuk memulai tahun 2024 Selain itu, badan tersebut juga membutuhkan $75 juta untuk menjaga jaringan pipa makanan di Gaza tetap beroperasi dan sekitar $30 juta untuk program distribusi uang tunai di Suriah dan Lebanon.

marginalisasi Status

Suzan Hassan Ghazali, 25, menahan air matanya sembari memegang ijazah di tangannya. Ia mengenakan toga dan gaun wisudanya, tetapi tidak melihat masa depan yang selalu ia impikan.

Beberapa tahun yang lalu, Suzan dan ibunya sedang mendiskusikan rencana masa depan. Dia mengatakan kepadanya bahwa dia ingin menjadi seorang arsitek, namun raut wajah ibunya tidak seperti yang ia harapkan. Ibunya tahu bahwa orang Palestina tidak bisa menjadi arsitek di Lebanon. Aturan tenaga kerja di Lebanon membatasi profesi yang dapat diambil oleh para pengungsi Palestina, sehingga putrinya tidak akan mampu mengejar mimpinya. Suzan akhirnya belajar ekonomi, yang menurutnya paling dekat dengan arsitektur.

Suzan duduk dengan toga dan baju wisudanya. (sumber foto: nakba.amnesty.org)

“Setidaknya saya masih bisa menikmati matematika di jurusan ini,” katanya kepada Amnesty International. Sepanjang masa kuliahnya, Suzan harus terus menekan godaan untuk pindah ke jurusan arsitektur. Dia menghabiskan banyak malam tanpa tidur menangis, tetapi tidak punya pilihan selain menerima kenyataan yang tidak adil ini. Dia menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini: “Yang terburuk, saya masih tidak dapat menemukan pekerjaan karena saya orang Palestina. Saya selalu ditanya tentang kewarganegaraan saya saat wawancara kerja. Ketika saya mengatakan bahwa saya orang Palestina, tanggapan langsung mereka adalah ‘kami akan menelepon Anda nanti’, dan tidak ada yang pernah menelepon kembali.”

Meskipun demikian, Suzan menjelaskan kepada Amnesty International bahwa dia tidak menyerah pada mimpinya: “Saya memberi tahu ibu saya bahwa saya akan mengejar gelar di bidang ekonomi, tetapi begitu saya lulus dan mendapatkan pekerjaan, saya akan menabung untuk membayar sekolah arsitektur. Saya bisa menjadi arsitek di negara lain. Orang mengira saya berhati dingin karena ingin meninggalkan orang tua saya untuk tinggal dan bekerja di luar negeri. Tetapi yang tidak mereka ketahui adalah bahwa hal pertama yang ingin saya lakukan ketika menjadi seorang arsitek adalah membangun rumah impian bagi ibu saya.”

Suzan adalah pengungsi Palestina generasi kedua. Ia lahir di Kamp Burj Al-Barajneh di Lebanon, tetapi keluarganya berasal dari Haifa yang kini menjadi wilayah Israel. Hanya 3.500 dari 70.000 penduduk asli Palestina yang tersisa di Haifa setelah pengusiran pada 1948 akibat pembentukan Negara Israel; sisanya tewas karena pembantaian, melarikan diri, atau diusir dari rumah mereka. Meskipun mendapatkan perlindungan di negara-negara tempat mereka mengungsi, tidak semua pengungsi ini mendapatkan kewarganegaraan baru, salah satunya di Lebanon.

Lebanon telah menolak integrasi Palestina ke dalam masyarakat lokal. Banyak orang di Lebanon masih menuduh orang Palestina sebagai penyebab perang saudara di Lebanon dan menganggap mereka sebagai elemen asing dalam masyarakat Lebanon. Akibatnya, pengungsi Palestina di Lebanon mengalami marginalisasi status yang buruk. Mereka tidak dapat memperoleh kewarganegaraan Lebanon sehingga tidak memiliki hak sebagaimana warga negara lain; misalnya,mereka tidak dapat bekerja di sebanyak 39 profesi, tidak bisa memiliki properti, tidak memiliki akses ke pendidikan gratis, dan harus mengeluarkan izin yang sulit didapat untuk membawa bahan bangunan ke dalam kamp dan merenovasi rumah mereka. Meskipun para pengungsi Palestina ini telah lahir dan besar di Lebanon, bahkan merupakan generasi kedua atau ketiga, mereka tetap berstatus sebagai pengungsi dan tidak bisa mendapatkan kewarganegaraan Lebanon.

Harapan untuk Kembali

(dari kiri ke kanan) Ramz, Zahiya, dan Leila, keluarga Palestina lintas generasi [Al Jazeera]
Sebuah flat dua kamar tidur dengan struktur bata tinggi di Burj Barajneh yang tidak beraturan adalah rumah bagi keluarga Leila yang lahir pada 1962. Rumah itu adalah tempat ia dilahirkan dan satu-satunya rumah yang pernah dia kenal di Lebanon. Kisahnya sebagai pengungsi Palestina di Lebanon tidak unik, namun ketangguhannya melukiskan gambaran yang mencolok dari kisah kolektif perempuan Palestina di Lebanon.

Lebih dari 750.000 warga Palestina diusir setelah pembentukan negara Israel pada 1948 dalam peristiwa “Nakba” yang berarti ‘malapetaka’. pembantaian dan pengusiran Zionis Israel menandai sejarah menyakitkan bangsa Palestina yang terusir dan terjajah hingga saat ini, atau 75 tahun kemudian. Para pengungsi awalnya disambut di Lebanon di tengah keyakinan luas bahwa mereka akan segera pulang. Namun, saat bulan berganti tahun dan tahun berganti dekade, mereka tidak pernah dapat kembali.

Berasal dari desa al-Kabri di Galilea (Al-Jalil), orang tua Leila juga melarikan diri ke Lebanon dengan keyakinan bahwa mereka hanya akan tinggal selama beberapa hari. Setelah tujuh dekade di Burj Barajneh, ibu Leila, Zahiya Dgheim yang berusia lebih dari 90 tahun masih mengenang rumah masa mudanya: sebuah rumah bata tiga lantai yang menghadap ke mata air di desanya yang sekarang telah hancur.

“Al-Kabri adalah tempat terindah di bumi,” katanya perlahan, saat dia berbaring di bawah selimut tebal di tempat tidur besarnya di rumah keluarga di Burj Barajneh. Zahiya, yang menderita infeksi paru-paru kronis, telah menikah selama empat tahun ketika negara Israel didirikan pada 1948.

“Hari pernikahan saya adalah hari terindah,” katanya, mengingat tahun-tahunnya di negeri asalnya, Palestina. “Mereka [menutupi] saya dengan perhiasan emas yang melapisi gaun bordir dan mengarak kami dalam upacara pernikahan.”

“Mereka menempatkan saya di atas kuda putih,” tambahnya. “Di sekitar saya ada teman-teman saya yang membawa lilin; semua orang menari untuk menghormati kami.” ia mengenang saat-saat indah bersama mendiang suaminya.

Zahiya memang memiliki kenangan yang indah akan tanah airnya. Namun bagi putrinya, Leila, satu-satunya kenyataan adalah menjadi pengungsi Palestina di Lebanon. Setelah menikah, Leila pergi dengan suaminya, seorang Palestina yang memiliki pekerjaan di Libya, hanya untuk kembali sebagai ibu dari empat anak perempuan kurang dari 10 tahun kemudian, setelah pasangan tersebut berpisah.

“Saya kembali, dan semuanya berubah; Saya tidak mengenali jalanan kamp,” kata Leila. Dengan anak bungsunya yang saat itu baru berusia tiga bulan, Leila menyadari bahwa dia sangat perlu menemukan cara untuk menghidupi diri dan keluarganya saat pindah kembali ke rumah orang tuanya. Namun, dengan status sebagai pengungsi Palestina, peluang untuk mendapatkan pekerjaan di luar kamp hampir tidak ada, jadi ia mendirikan kios yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari.

“Saya biasa membawa barang bolak-balik dengan gerobak kayu besar–saya akan mendorongnya sendirian,” katanya, dengan air mata mengalir di wajahnya, “saya akan berjalan dari Dahiyeh [area terdekat] dengan kantong roti di kepala saya, tidak peduli cuaca apa pun.”

Tiga tahun kemudian, Leila menutup kiosnya untuk menjalankan kios kasir di pasar sayur lokal, pekerjaan yang dia jalani kemudian selama 21 tahun demi keempat putrinya. Keempat putri Leila, yang juga menghabiskan hidup mereka di Burj Barajneh, tumbuh sebagai bagian dari generasi ketiga pengungsi Palestina di Burj Barajneh. Meskipun telah berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi mereka, Leila sadar bahwa banyak hak mereka sebagai pengungsi yang akan ditolak.

Ramz, putri bungsu Leila, berusia 28 tahun dan menderita cacat perkembangan. Ia mengatakan akan merasa senang jika dapat bergabung dengan fasilitas pendidikan dan bekerja untuk anak-anak. “Saya berharap dapat bergabung dengan lembaga pendidikan, untuk belajar bagaimana bekerja dengan anak-anak,” kata Ramz.

Tapi ini bukan pilihan karir yang layak, kata Leila. Ia menjelaskan bahwa kamp-kamp seperti Burj Barajneh tidak memiliki akses ke pusat-pusat publik yang mendukung para pengungsi dengan disabilitas untuk dapat berkembang. Penyandang disabilitas Palestina di Lebanon dikecualikan dari layanan pemerintah dan karenanya hanya bergantung pada bantuan dari LSM.

Leila dan putri-putrinya telah menciptakan tradisi mereka sendiri, termasuk pertemuan mingguan di rumah keluarga untuk bermalam bersama. Kadang-kadang, cucu-cucunya berkumpul di sekitar nenek buyut mereka Zahiya, untuk mendengar lebih banyak tentang Palestina yang tak henti-hentinya ia ceritakan.

“Saya memberi tahu cucu-cucu saya, suatu hari, saya harap kalian dapat kembali dan melihat rumah kami,” kata Zahiya. Sebagaimana ibunya, Leila juga memiliki harapan untuk kembali, bahkan jika itu di akhir hayatnya. “Pada akhirnya, kami ingin mati di tanah kami dengan harga diri,” kata Leila, “Tidak di sini, tidak seperti anjing, tidak seperti ini.” pungkasnya.

Orang-orang Palestina di kamp tersebut masih berpegang pada “warisan yang tersisa” dari mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat, yang telah menjadi ikon perjuangan diaspora Palestina untuk mendapatkan hak untuk kembali. Bagi mereka, Palestina selamanya adalah tanah air yang dirindukan untuk kembali.

Pada musim dingin 2021, Tim Adara berkesempatan mengunjungi salah satu keluarga beranggota seorang ibu dan empat anak di Kamp Burj Barajneh. Rumah mereka adalah rumah susun dengan kondisi yang sangat gelap, karpet yang mereka gunakan pun sedikit lembab. Keluarga itu berasal dari Safad–Palestina, lalu mengungsi ke pengungsian Gaza, dan mengungsi lagi ke pengungsian Lebanon. Realita bahwa mereka adalah pengungsi Palestina yang mengungsi lagi, tidak menyurutkan semangat ibu-ibu untuk mengajarkan anak-anaknya bahwa mereka adalah bangsa Palestina. Ketika anak-anak itu ditanya “Siapa kalian?”, mereka menjawab “Aku anak Palestina, cita-citaku membebaskan Palestina dan Masjid Al-Aqsa”.

Daftar Pustaka

https://nakba.amnesty.org/en/chapters/lebanon/#

https://reliefweb.int/report/lebanon/lebanon-msna-bulletin-2022-key-findings-november-2022

https://www.unicef.org/lebanon/stories/situation-much-worse-year-my-children-have-nothing-no-food-no-clothes-nothing

https://www.aljazeera.com/news/2023/6/3/un-agency-for-palestinians-raises-just-107m-of-300m-needed

https://reliefweb.int/report/lebanon/lebanon-unrwa-protection-monitoring-report-q3-2022

https://www.aljazeera.com/features/2018/5/27/one-family-three-women-70-years-in-exile

https://www.unrwa.org/where-we-work/lebanon/burj-barajneh-camp

https://www.unrwa.org/newsroom/photos/palestine-refugees-lebanon-teeter-edge-existence

https://adararelief.com/berpacu-dengan-waktu-pengungsi-palestina-di-libanon-berjuang-mengatasi-kemiskinan/#_ftn22

https://adararelief.com/unrwa-situasi-pengungsi-palestina-di-lebanon-sangat-memprihatinkan/

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: ArtikelEkonomiKamp PengungsiPengungsiPengungsian
ShareTweetSendShare
Previous Post

Pasca Pandemi, Sahabat Peduli Al Quds (SPQ) Kian Gencar Himpun Kebaikan untuk Palestina

Next Post

Menko PMK Ingatkan Angka Stunting di Lampung Utara Masih Tinggi 

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
22

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
25
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
94
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Menko PMK Ingatkan Angka Stunting di Lampung Utara Masih Tinggi 

Menko PMK Ingatkan Angka Stunting di Lampung Utara Masih Tinggi 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630