Pemerintah tengah gencar meningkatkan upaya dan tindakan untuk menurunkan tingkat stunting di Indonesia. Stunting akan berdampak pada bonus demografi yang akan dimiliki Indonesia beberapa tahun ke depan. Bonus demografi adalah populasi penduduk yang produktif (usia kerja) jauh lebih banyak ketimbang penduduk yang tidak produktif. Bonus demografi ini akan berdampak baik pada peningkatan kesejahteraan Indonesia jika sumber daya manusia memiliki kapasitas yang unggul. Namun, kesempatan emas ini bisa gagal dimanfaatkan jika stunting tidak segera dicegah.
Indonesia akan melewatkan masa bonus demografi dengan tidak optimal karena gagal menciptakan generasi emas Indonesia. Banyaknya penduduk bisa menciptakan kondisi yang buruk jika tidak dikelola dengan baik, terutama jika penduduk usia kerja tidak memiliki keahlian dan keterampilan sehingga meningkatkan jumlah pengangguran, tingkat kriminalitas, tingkat kemiskinan, dan pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.
Diketahui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 mengalami penurunan sebesar 2,8% dibandingkan dengan 2021. Angka stunting tahun 2022 turun dari 24,4% pada 2021 menjadi 21,6% pada 2022. Meskipun demikian, menurut World Health Organization (WHO), masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap buruk jika prevelensi stunting lebih dari 20%. Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia masih belum aman.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan ada dua penyebab stunting, yaitu lingkungan dan genetik. Stunting akibat lingkungan masih dapat diintervensi sehingga masih dapat diatasi. Faktor lingkungan yang berperan dalam menyebabkan perawakan pendek antara lain status gizi ibu, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi pada anak.
Selain disebabkan oleh lingkungan, stunting dapat disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal. Namun, sebagian besar stunting disebabkan oleh kekurangan gizi. Penanganan stunting akan lebih bijak dilaksanakan oleh semua orang di lingkungannya, terutama yang terdapat anak balita dan pasangan usia muda terhadap kemungkinan terjadinya stunting. Biaya pencegahan stunting tentu lebih murah dan dampaknya lebih terkendali, daripada menangani stunting yang sudah terjadi.
Salah satu alat yang digunakan oleh pemerintah untuk mengukur kinerja pelaksanaan program/ intervensi percepatan penurunan stunting adalah Indeks Khusus Penanganan Stunting (IKPS). Kinerja pelaksanaan program diukur berdasarkan 6 dimensi, yaitu kesehatan, gizi, perumahan, pangan, pendidikan, dan perlindungan sosial. Sumber data yang digunakan adalah Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis oleh BPS. IKPS mulai disusun pada tahun 2018.
Sumber:
https://ibuwarung.republika.co.id
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








