Para penghuni terakhir Desa Ein Semia dengan sangat berat hati memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka dan membiarkan desa itu kosong melompong. Pada 22 Mei 2023, sebanyak 27 keluarga mengemasi barang-barang sambil menghancurkan sisa-sisa bangunan tempat mereka tinggal. Mereka adalah kloter terakhir dari 200 penduduk yang sebelumnya mendiami desa itu selama berpuluh-puluh tahun.
Penduduk menjelaskan bahwa serangkaian kekerasan yang dilakukan oleh para pemukim Israel pada malam hari, yaitu memblokir jalan menuju desa, serta melemparkan batu ke rumah-rumah mereka, telah memaksa mereka untuk pergi. Menurut kesaksian Hazem Ka’abneh, salah seorang penduduk, sebagaimana dikutip dari laman +972 Magazine, selama lima hari itu, tidak ada penduduk yang dapat tidur dengan aman.
“Dalam lima hari terakhir, para pemukim Israel berkumpul hingga larut malam, kemudian menyerbu desa kami dengan melemparkan batu ke rumah dan properti kami. Hal itu sangat menakutkan, terutama bagi perempuan dan anak-anak. Tidak ada yang bisa tidur pada malam hari”. Katanya.
Ein Samia terletak di sebelah permukiman ilegal Yahudi, Kochav HaShachar dan berada di sebelah timur Tzir Alon, sebuah wilayah yang pemukim berusaha kuasai dalam beberapa tahun terakhir. Wilayah tersebut merupakan satu dari 180 desa Palestina di Area C Tepi Barat yang “tidak diakui” oleh Otoritas Israel, dan penduduknya tidak diberikan izin untuk melakukan pembangunan dan tidak diberi akses untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air dan listrik.
Menurut Yesh Din, lembaga HAM Israel, selain karena pembatasan dalam berbagai hal oleh Israel, kekerasan pemukim telah menjadi fenomena yang menyusahkan di Tepi Barat, dan terus memburuk dari hari ke hari. Di Ein Samia – seperti daerah lain di tepi barat – penderitaan masyarakat Badui telah berlangsung selama beberapa dekade. Selama kurang lebih 60 tahun, masyarakat Badui bermukim dan menggarap lahan pertanian di sekitar Kafr Malik–kawasan yang disebut Ein Samia. Keluarga-keluarga ini pertama kali mengungsi pada 1960-an dan menggarap lahan tersebut sebagai mata pencaharian mereka.
Penduduk Ein Semia telah mengalami kesulitan dan pelecehan, tetapi kejadian baru-baru ini berubah menjadi menyeramkan. Pendirian ‘Micha Farm’, sebuah pos penggembalaan pemukim, menandai titik balik yang tidak hanya mengganggu kehidupan penduduk, tetapi juga memicu gelombang kekerasan. Dengan frekuensi yang semakin meningkat, pemukim bersenjata dan anjing penyerang menyerbu tanah mereka, mencuri ternak, merusak tanaman, dan menjadikan penduduk Palestina sebagai sasaran serangan fisik. Situasi ini menjadi tak tertahankan.
Sebanyak delapan pos pemukim telah dibangun di sekitar wilayah tersebut, dan sejak itu, serangan terhadap para penduduk mulai terjadi. Menurut berbagai kesaksian, para pemukim Israel dari pos-pos permukiman ini terlibat dalam puluhan insiden kekerasan dalam beberapa tahun terakhir, dan bertanggung jawab atas kenaikan kasus kekerasan di wilayah ini dan Tepi Barat.
Sebelum para penduduk mengungsi ke wilayah sekitar permukiman tersebut, mereka terlebih dahulu tinggal di wilayah Kochav HaShachar yang kini menjadi tempat tinggal para pemukim Israel. Militer Israel memindahkan mereka dengan dalih untuk mendirikan pangkalan militer, tetapi yang terjadi kemudian adalah wilayah Palestina tersebut dijadikan permukiman bagi pemukim Israel. Selain itu, militer Israel juga menghancurkan sekolah anak-anak Palestina
B’Tselem, sebuah NGO Israel, telah mengamati dan mencatat kekerasan yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap penduduk Palestina yang menunjukkan bahwa antara tahun 2019 dan 2023, tentara menghancurkan 18 bangunan di ‘Ein Samia, yang menyebabkan 41 orang kehilangan tempat tinggal, termasuk 18 anak-anak.
Kekerasan pemukim Israel telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan pembangunan permukiman baru. Mereka mendirikan karavan-karavan di empat bukit di daerah tersebut, dan menggembalakan ternak mereka sana. Pada saat yang sama, para pemukim mengusir penduduk Palestina dari tanah penggembalaannya dan mencegah mereka memperoleh penghasilan, sambil terus menyerang desa Palestina.
B’Tselem menanggapi kepergian penduduk Desa Ein Semia dengan menyatakan bahwa warga komunitas tersebut telah menderita kekerasan yang disebabkan oleh pasukan Israel selama bertahun-tahun. Bentuk kekerasan tersebut antara lain, yaitu: pembatasan terhadap pembangunan hunian dan infrastruktur, penghancuran hunian, serta kekerasan oleh pemukim yang sepenuhnya didukung oleh negara.
Strategi ini bertujuan untuk memberikan kendali lebih banyak kepada warga Israel atas tanah Palestina di sebagian besar wilayah Tepi Barat. Hal ini ilegal menurut hukum internasional, karena pengusiran para penduduk Palestina merupakan suatu bentuk kejahatan perang.
Yunda Kania Alfiani
Penulis merupakan Relawan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan
Referensi
Israel forcibly transfers the community of ‘Ein Samia
Under settler terror, Palestinians tear down and flee their village
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








