Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina pada Rabu (13/6) mengutuk keputusan kejaksaan Israel yang menutup penyelidikan atas kematian Omar Abdel-Majid Asaad, lansia Palestina-Amerika dari desa Jaljilia, utara Ramallah. Israel merasa sudah cukup mengambil tindakan disipliner hanya dengan menegur tentara yang terlibat dalam pembunuhan Omar. Kementerian menggambarkan keputusan tersebut sebagai kejahatan dan meminta pemerintah AS untuk menyelidiki masalah ini.
Kementerian Luar Negeri beranggapan bahwa penutupan kasus bertujuan untuk menyesatkan opini negara-negara, komunitas internasional, dan publik global, untuk memberi kesan bahwa penyelidikan Israel telah dilakukan terhadap kejahatan tentara pendudukan. Padahal, kejahatan mereka seringkali berakhir dengan pembebasan para pelaku, penyembunyian barang bukti, dan penyediaan pintu pelarian bagi pejabat politik dan militer yang memberikan instruksi untuk memfasilitasi pembunuhan warga Palestina.
“Ini sekali lagi membuktikan bahwa apa yang disebut sistem peradilan, penuntutan, dan pengadilan di Israel adalah bagian integral dari sistem pendudukan, mengingat bahwa sebagian besar kejahatan diabaikan dan tidak ada penyelidikan yang dilakukan atas kejahatan mereka.” Tambah Kementerian.
Kementerian meminta pemerintah AS untuk menyelidiki kejahatan ini, mengingat Asaad juga merupakan warga negara Amerika. Ia menekankan bahwa Negara Palestina sepenuhnya siap untuk bekerjasama dengan intelijen Amerika dalam mengungkap para pembunuh dan meminta pertanggungjawaban mereka. Ia juga meminta Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk mempercepat penyelidikannya atas kejahatan Israel serta meminta pertanggungjawaban dan mengadili penjahat perang Israel dan orang-orang di belakang mereka.
Pengacara keluarga Asaad, Hassan Khatib, mengatakan dia juga akan mengajukan banding atas keputusan penutupan berkas investigasi Asaad meski tak bisa mengeluarkan dakwaan terhadap tentara yang menyebabkan kematiannya. Dia mengatakan bahwa jika penuntutan militer menolak untuk menerima banding, sebuah petisi akan diajukan ke Mahkamah Agung Israel terkait hal ini.
Asaad (80) meninggal karena serangan jantung pada tanggal 12 Januari 2022 dini hari setelah tentara menghentikan mobilnya di luar desanya. Tentara kemudian menariknya keluar dari mobil, menutup matanya, memborgolnya, menyeretnya beberapa meter, dan meninggalkannya tergeletak di lantai sebuah kamar pada malam yang dingin bersama empat orang lainnya yang ditahan pada malam yang sama.
Setelah tentara meninggalkan daerah itu, beberapa jam kemudian, warga datang mencarinya dan menemukan Asaad telah tewas di lokasi tempat dia ditahan dan dianiaya oleh tentara. Tentara Israel secara jelas terbukti langsung meninggalkannya ketika mengetahui bahwa Asaad sudah meninggal.
Menurut Haaretz, pasukan yang bertanggung jawab atas kematian Asaad adalah batalion “Nitzah Yehuda”, yang terdiri dari pemukim ekstremis yang tinggal di pos terdepan di Tepi Barat. Mereka melakukan serangan terhadap warga Palestina, dengan tugas paling menonjol dari divisi tentara pendudukan itu adalah menghentikan kendaraan Palestina, menurunkan penumpangnya, lalu menyiksa dan menyerang mereka secara fisik, seperti yang terjadi dengan Asaad.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








