Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin mengatakan, Pemerintah terus melakukan sejumlah langkah strategis yang didukung komitmen kuat antarlembaga dalam upaya penurunan angka stunting. Oleh karena itu, Wapres Ma’ruf optimistis dapat mencapai target penurunan angka stunting yang ditetapkan sebesar 14 persen pada tahun 2024.
Hal ini disampaikan Wapres berkaitan prediksi Bappenas yang menyebut 10 target RPJMN Pemerintah yang sulit dicapai, salah satunya stunting. Wapres mengakui, pada tahun yang lalu penurunannya tidak cukup memuaskan. Hal ini karena regulasi percepatan penurunan stunting baru dikeluarkan pemerintah saat itu.
Di samping itu, Wapres menyampaikan bahwa laporan dari data dan pengamatan langsung di lapangan, terdapat beberapa daerah dengan penurunan angka stunting yang sangat memuaskan. “Itu juga bisa dilihat dari penurunan yang cukup tinggi di beberapa daerah sampai ada yang 10 persen. Di Kepulauan Riau ini penurunannya 15,2 untuk tahun 2022,” kata Ma’ruf dikutip dari siaran persnya saat kunjungan kerja ke Kepulauan Riau, Kamis (8/6).
Kiai Ma’ruf juga menyebut, meskipun setiap provinsi menghadapi berbagai kondisi dan tantangan yang beragam, dirinya yakin target penurunan stunting secara nasional akan dapat tercapai. Diketahui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 mengalami penurunan sebesar 2,8% dibandingkan dengan 2021. Angka stunting tahun 2022 turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di tahun 2022.
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI Syarifah Liza Munira menerangkan survei status gizi pada dasarnya mengukur gambaran status gizi balita. Utamanya adalah mengukur empat status gizi, yaitu stunting, overweight, wasting dan underweight. Selain itu ditambah juga dengan beberapa determinan yang terkait.
“Dari keempat angka status gizi, angka stunting turun sebesar 2,8% dan overweight turun 0,3%. Sementara wasting dan underweight meningkat sedikit, yaitu sebesar 0,6% untuk wasting dan 0,1% untuk underweight,” ujarnya. “Angka stunting saat lahir untuk tahun 2022 sebesar 18,5%. Ini untuk titik pertama. Kemudian di titik kedua, angka stunting pada kelompok umur 6–11 bulan sebesar 13,7% yang naik menjadi 22,4%, sementara pada kelompok umur 12–23 bulan mengalami peningkatan yang cukup tajam sebesar 1,6 kali. Jadi itu adalah titik yang penting dan strategis untuk diintervensi,” tegas Liza.
Liza menambahkan bahwa untuk titik pertama, intervensi penting dilakukan pada masa kehamilan atau sebelumnya. Sedangkan untuk titik intervensi kedua dilakukan ketika menjalani masa MP-ASI atau makanan tambahan setelah masa ASI eksklusif. Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengatakan pencegahan stunting yang lebih tepat harus dimulai dari hulu yaitu sejak masa kehamilan sampai anak umur 2 tahun atau 1000 hari pertama kehidupan. Pada periode setelah lahir yang harus diutamakan adalah pemantauan pertumbuhan yang dilakukan setiap bulan secara rutin. Dengan demikian, dapat diketahui sejak dini apabila anak mengalami gangguan pertumbuhan.
Sumber:
https://www.badankebijakan.kemkes.go.id
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








