Pasukan Israel melukai warga sipil Palestina dan wartawan dalam serangan di kota Ramallah di Tepi Barat pada Rabu malam (7/6). Sejumlah besar kendaraan militer dan tentara menyerbu Kota Tua Ramallah untuk menghancurkan rumah seorang warga Palestina yang dituduh mendalangi pengeboman mematikan di Yerusalem tahun lalu. Warga membalas dengan melemparkan batu dan proyektil lainnya ke tentara bersenjata lengkap untuk mempertahankan diri.
Tentara Israel menembakkan peluru tajam dan gas air mata ke penduduk, melukai sedikitnya 35 orang, termasuk 20 orang yang menderita luka tembak, menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Dua wartawan, Rabee Munir, dan Mu’min Samreen, sengaja ditembak dengan peluru baja berlapis karet, kata saksi mata. Menurut petugas medis, Samreen juga dipukul di kepala dan terluka parah. Dia menderita gegar otak, patah tulang tengkorak, dan pendarahan internal tetapi sekarang sudah berada dalam kondisi stabil.
Militer Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya sedang meninjau laporan-laporan tentang luka-luka yang diderita oleh warga Palestina dan memastikan wartawan yang hadir di tempat kejadian. Kementerian Informasi Palestina mengatakan “penargetan langsung” terhadap wartawan adalah bagian dari “agresi terbuka” oleh Israel terhadap wartawan Palestina. Menurut kantor berita resmi Palestina Wafa, kementerian tersebut mengatakan serangan terhadap awak media “menuntut pertanggungjawaban tentara pendudukan, yang merasa mudah menarik pelatuk untuk menarget jurnalis, dan dengan sengaja menyerang mereka”.
Penggerebekan itu merupakan bagian dari operasi penghancuran rumah keluarga Islam Faroukh. Insinyur mesin berusia 26 tahun itu ditangkap pada Desember lalu oleh pasukan Israel karena dicurigai melakukan pengeboman kembar di Yerusalem yang menewaskan dua orang Israel dan melukai 20 lainnya. Otoritas Israel mengumumkan mereka akan menghancurkan rumahnya di Ramallah untuk mencegah orang lain meniru tindakannya.
Israel secara rutin menghancurkan rumah keluarga warga Palestina yang melakukan serangan terhadap warga Israel. Praktik ini dikutuk oleh kelompok HAM sebagai bentuk hukuman kolektif yang melanggar hukum. Serangan hari Rabu tersebut terjadi di jantung Ramallah, yang merupakan bagian dari “Area A” Tepi Barat menurut Perjanjian Oslo, yang berarti bahwa itu harus berada di bawah pemerintahan Otoritas Palestina.
Mohammad Shtayyeh, perdana menteri PA, mengatakan Israel “mengabaikan kedaulatan Palestina” dan “menduduki kembali” Tepi Barat. “Apa yang dilakukan otoritas pendudukan adalah kejahatan keji,” kata Shtayyeh saat berkunjung ke rumah Faroukh yang dihancurkan (8/6). “Seluruh keluarga berubah menjadi tunawisma dalam semalam,” tambahnya. Ia berjanji untuk membangun kembali setiap rumah yang dihancurkan oleh Israel.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








