Menjelang Hari Raya Idul Adha 2023, para peternak hewan sapi harus mewaspadai munculnya fenomena baru penyakit Lumpy Skin Disease (LSD). LSD merupakan virus dan memiliki gejala mirip seperti penyakit cacar air, tapi diidap oleh ternak. Ternak yang terkena LSD biasanya menunjukkan adanya benjolan di bagian kulit. Penyakit akibat virus ini apabila tidak segera ditangani dalam waktu 3 kali 24 jam, bisa mengakibatkan fatal, yaitu kematian pada sapi yang terpapar. Meskipun penyebarannya tidak secepat penyakit mulut dan kuku (PMK), LSD reaksinya lebih cepat dan mematikan.
Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat, melaporkan adanya temuan sejumlah ternak yang terkena LSD. Bupati Garut Rudy Gunawan mengatakan, penanganan kasus LSD akan menjadi salah satu fokus pihaknya. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut juga telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat agar bisa memfasilitasi pengujian laboratorium untuk ternak yang diduga terserang LSD.
Rudy menjelaskan, pihaknya telah menginstruksikan dinas terkait untuk turun langsung melakukan penanganan, khususnya ke sentra peternakan. Saat ini sudah ada beberapa kecamatan yang melaporkan kasus LSD. Namun, ia belum bisa mengungkapkan detail kasusnya karena masih menunggu laporan resmi dari dinas terkait. Rudy mengatakan, pihaknya juga akan menyiapkan vaksin untuk ternak agar tidak terpapar LSD. Ia menegaskan, penyakit LSD ini tidak bersifat zoonosis. Artinya, penularan hanya terjadi antara hewan dan hewan, tidak menular ke manusia. Dia menduga kasus itu terbawa dari daerah lain ke Kabupaten Garut. Sebab, dalam tiga bulan terakhir, lalu lintas hewan ternak mengalami peningkatan menjelang Idul Adha.
Ia menjelaskan, penanganan yang dilakukan dalam kasus LSD tak berbeda jauh dengan penanganan ketika wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) merebak di Kabupaten Garut. Penanganan utama yang dilakukan adalah biosekuriti. Artinya, kesehatan dan kebersihan kandang ternak harus terjaga. Selain itu, pengobatan harus dilakukan apabila ada ternak yang diduga terserang LSD, termasuk pemberian vitamin.
Selain Garut, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Depok Dede Zuraida mengatakan, pihaknya menemukan kasus 21 sapi terjangkit virus LSD. Pada 21 sapi yang terjangkit itu hanya ditemukan benjolan kecil, tetapi tidak bernanah.
Hingga Rabu (31/5), pihaknya telah memberikan vaksin LSD pada 571 hewan ternak. Masih ada 900 dosis vaksin lagi yang akan segera diberikan pada hewan ternak. DKP3 akan memperkuat sistem surveilans dengan mendeteksi secara dini penyakit itu. Upaya lainnya, mengawasi lalu lintas hewan ternak dari luar daerah yang masuk ke Kota Depok dan memastikan hewan itu sehat. Jika terindikasi sakit, DKP3 akan langsung mengarantina dan merawat hewan ternak itu.
Selain vaksinasi LSD, petugas DKP3 juga memberikan vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) pada 3.576 hewan ternak. ”Vaksinasi ini juga sebagai langkah pencegahan penyakit pada hewan kurban menjelang Idul Adha,” lanjutnya.
Dede menjelaskan, penyakit LSD disebabkan oleh virus dari keluarga Poxviridae yang menyebar melalui gigitan serangga, seperti nyamuk dan lalat. Pada sapi yang terjangkit LSD akan timbul benjolan seperti lato-lato. Jika penanganannya terlambat, bisa timbul nanah di sekujur tubuh hewan. Hingga saat ini belum ada pengobatan secara khusus terhadap hewan ternak terjangkit LSD. Pengobatan hanya bersifat simptomatik atau untuk meredakan gejala umum dan klinis yang muncul. Lalu, pengobatan secara suportif untuk memperbaiki kondisi tubuh ternak yang terinfeksi virus.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








