Direktur Pusat Studi Tawanan Palestina (Palestinian Prisoners Club/PPC), Riyadh Al-Ashqar, mengungkapkan pada Jumat (2/6) bahwa 160 dari 700 tawanan Palestina yang sakit di penjara Israel berada dalam kondisi kritis, dengan 20 orang yang menderita kanker.
“Musa Sofan, yang telah berada di penjara selama 20 tahun dan menderita kanker, adalah salah satu tawanan yang sakit di dalam penjara Israel,” kata Al-Ashqar. Ia menuding otoritas Israel tidak memberikan Sofan kesempatan untuk memperoleh perawatan yang layak. Layanan Penjara juga terus mencegah pembebasannya untuk mendapat perawatan dan menyangkal haknya untuk: “Setidaknya meninggal di antara kerabatnya daripada di penjara.”
Mengenai pengadilan Israel, yang menolak pembebasan tawanan yang sakit parah, Walid Daqqa, dia berkata: “Pengadilan tidak melihat kemungkinan untuk dapat membebaskannya, melainkan apakah mereka memiliki yurisdiksi untuk menangani kasusnya atau tidak.” Daqqa, menurut Al-Ashqar, dikembalikan ke Penjara Al-Ramlah dengan klaim yang tidak berdasar. Daqqa menghadapi situasi yang sangat sulit, sementara pemerintah Israel, terutama Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir secara langsung menghasut pengadilan untuk melawannya dan meminta untuk tidak menyelidiki kasusnya.
Selain tawanan yang sakit, jumlah tawanan Palestina yang menjalani hukuman seumur hidup di dalam penjara Israel juga telah mengalami peningkatan menjadi 558, termasuk 42 dari Al-Quds. Menurut PPC, tawanan terlama dari Al-Quds adalah Samir Abu Nimah, yang telah berada di penjara sejak 1986. Sedangkan Abdullah Al-Barghouti, dari Ramallah, telah menjalani hukuman terlama karena dijatuhi hukuman 67 kali seumur hidup.
Baru-baru ini, pengadilan militer Israel juga telah menghukum Yousef Asi dan Yahya Merei dari Salfit, masing-masing dengan hukuman seumur hidup, ditambah 30 tahun dan denda 1,5 juta shekel. Asi dan Merei dituduh membunuh seorang pemukim ekstremis dari permukiman ilegal Ariel di Tepi Barat, yang melanggar hukum internasional. Pada 26 Juli 2022, pendudukan Israel menghancurkan rumah kedua tawanan tersebut yang berada di Kota Qarawat Beni Hassan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








