Kehidupan di kedua sisi perbatasan Jalur Gaza mulai kembali normal pada Minggu (14/5). Ini terjadi setelah gencatan senjata yang dimediasi Mesir menghentikan pertempuran lima hari antara Israel dan Jihad Islam. Serangan tersebut telah menewaskan 34 warga Palestina dan seorang warga Israel, Reuters melaporkan.
Israel membuka kembali pengiriman barang dan penyeberangan perbatasan komersialnya, memungkinkan bahan bakar mengalir ke satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza yang diblokade. Toko-toko dan kantor-kantor publik dibuka kembali dan massa kembali ke jalan-jalan yang telah sepi selama berhari-hari.
Para pemimpin dari kedua belah pihak menegaskan komitmen mereka terhadap gencatan senjata, tetapi memberikan interpretasi yang berbeda tentang ketentuan tersebut, seperti apakah Israel akan mengakhiri pembunuhan yang ditargetkan terhadap para pemimpin gerakan perlawanan Palestina.
Di Gaza, orang-orang mengambil sisa-sisa barang mereka setelah berhari-hari pengeboman yang menurut Israel menargetkan pusat komando Jihad Islam dan infrastruktur militer lainnya, tetapi nyatanya merusak dan menghancurkan puluhan rumah masyarakat sipil. “Ini kamar saya, ada mainan yang biasa saya mainkan dan buku-buku yang biasa saya pelajari, tidak ada yang tersisa,” kata Ritaj Abu Abeid, 12, saat dia berdiri di dalam kamar tidurnya yang rusak.
Maddah Al-Amoudi, 40, salah satu dari sekitar 3.000 nelayan Gaza yang diblokir untuk melaut, juga menyambut baik kembalinya kehidupan normal. “Kami tidak punya alternatif selain laut. Jika ada pekerjaan di laut kami bisa mendapatkan uang dan makanan untuk anak-anak kami dan jika tidak ada laut, kami tidak memperoleh apa-apa.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








