Pada Senin malam, Tamim Daoud, seorang anak Palestina berusia empat tahun, pergi tidur di rumahnya di al-Remal, sebuah lingkungan di Jalur Gaza Tengah. Daoud, yang sebulan lagi genap berusia lima tahun, terbangun bersama keluarganya pada pukul 2 dini hari oleh suara bom Israel.
Tamim menangis tersedu-sedu. Dia mengalami serangan panik. Ibunya, Lina (29), yang sedang hamil delapan bulan, berusaha menenangkannya untuk kembali tidur, tetapi anak itu terus menangis. Dia menjadi sesak napas dan terengah-engah. Akhirnya Tamim kembali tidur, tetapi sekitar lima jam kemudian, dia mengalami serangan panik lagi.
“Aku membawanya ke rumah sakit,” kata ayahnya. “Tapi jantungnya berhenti berfungsi dalam perjalanan ke sana.” Di rumah sakit, Tamim mendapat perawatan medis, namun detak jantungnya sangat lemah. “Putra saya dirawat di unit perawatan intensif. Para dokter memberi tahu saya bahwa dia meninggal saat fajar,” kata Mohammed kepada MEE. “Jantung putra kecil saya tidak kiuat dengan kengerian pengeboman itu.”
Lahir di “penjara terbuka terbesar di dunia”, kehidupan singkat Tamim ditandai dengan kekerasan sejak awal. Ketika dia baru berusia enam bulan, Tamin menjalani operasi jantung terbuka di Tepi Barat. Untuk menjaga kesehatan jantungnya yang rapuh, ia mengonsumsi obat-obatan termasuk furosemide dan captopril.
Tahun lalu, pada 17 Desember, anak berusia empat tahun itu melakukan perjalanan ke “Israel” untuk mengevaluasi kondisi kesehatannya. Penilaian medis menyeluruh dilakukan dan Tamim telah mengalami perbaikan yang signifikan. Para dokter memutuskan untuk menghentikan pengobatannya. Namun, setelah perawatan dihentikan, kesehatan Tamim memburuk, dan segera menjadi jelas bahwa perubahan rencana adalah sebuah kesalahan.
“Kami melanjutkan perawatan dan alhamdulillah kesehatannya menunjukkan peningkatan yang signifikan sekali lagi, tetapi Israel malah memutuskan untuk membunuh putra saya dengan darah dingin,” kata ayah Tamim kepada MEE.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








