Layan baru berusia sembilan tahun tapi dia sudah mengalami empat kali agresi. Gadis Palestina dari Gaza itu tinggal di rumah bersama orang tua dan dua saudara laki-lakinya, Saleh (12) dan Yamen (7). Ketika putaran terakhir serangan udara Israel menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di dekat rumahnya, dia diliputi rasa takut dan cemas.
Suara Layan bergetar saat dia menggambarkan adegan yang dihadapinya. “Saya melihat api di depan saya, itu benar-benar menakutkan,” katanya. “Listrik terputus, hingga saya hanya bisa melihat kegelapan, tapi saya tahu jalan di sekitar rumah, jadi saya bisa menemukan jalan ke kamar orang tua saya.”
Ingatan akan serangan tahun 2022 di Gaza datang kembali dan dia takut akan mengalami pengalaman mengerikan yang sama sekali lagi. Pada 5 Agustus tahun lalu, rudal Israel menargetkan Menara Palestina, yang sangat dekat dengan rumah Layan. Benturan itu menghancurkan jendela kaca kamar tidurnya, mengirimkan pecahan puing tajam yang beterbangan dan mengganggu barang-barangnya, termasuk mainan dan buku sketsa berharganya.
Perasaan tidak aman ini berdampak besar pada kesejahteraan psikologis anak-anak Gaza. “Tanpa rasa aman, fungsi sosial dan pekerjaan seseorang akan terganggu, kemampuan mereka untuk belajar pun akan terganggu,” kata Muayad Jouda, seorang psikiater di Rumah Sakit Jiwa di Gaza.
“Anak-anak pasti terpengaruh oleh dampak agresi Israel, kekerasan yang meningkat, proliferasi gambar korban dan kehancuran, serta suara ledakan yang terus-menerus,” kata Jouda. “Anak-anak mungkin menunjukkan gejala seperti kemarahan yang ekstrem atau tangisan dan teriakan yang terus-menerus. Mereka mungkin berbicara tentang perang terus menerus. Mereka bahkan mungkin menggunakan permainan kekerasan. “Ketakutan mereka ketika sendiri dapat meningkat, menyebabkan penolakan untuk tidur sendiri. Selain itu, mereka mungkin menderita kolik dan nyeri fisik lainnya.”
Saat dewasa, Layan mengatakan ia bercita-cita menjadi pelukis ternama. “Saya ingin bepergian, untuk dapat membuat sketsa pemandangan yang indah, alih-alih pemandangan yang mengenaskan dari Menara Palestina yang masih hancur,” katanya. “Tapi saya juga ingin menggambarkan sisa-sisa perang dan kehancuran, untuk menunjukkan kepada dunia apa yang telah dialami anak-anak Gaza.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








