Issam A. Adwan, seorang jurnalis di Gaza, membagikan kisahnya kepada MEE tentang agresi Gaza yang baru saja terjadi:
Saya merasa udara menggantung berat saat rasa takut yang luar biasa meresap ke kamar tidur dan perasaan tidak nyaman merayapi kulit. Sekitar pukul 02.00 (23.00 GMT) pada Selasa, 9 Mei, goncangan hebat akibat pengeboman di luar membangunkan saya. Saya memeriksa telepon saya dan ketakutan terburuk saya terbukti ketika saya melihat berita bahwa militer Israel sekali lagi menyerang Gaza. Daerah saya, khususnya, berada dalam bahaya besar menjadi sasaran berikutnya dari pesawat tempur Israel. Sebagai seorang jurnalis, saya menggunakan Twitter untuk memberi tahu dunia apa yang sedang terjadi.
Statistik mengerikan tersebut merupakan indikasi meningkatnya kekerasan. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, serangan udara Israel pada dini hari merenggut nyawa 15 warga Palestina, termasuk empat wanita dan empat anak. Tragedi pembunuhan ini semakin menggarisbawahi sifat tidak masuk akal dari kekerasan Israel. Saya kemudian memikirkan perang sebelumnya pada 2008–2009; 2012; 2014; 2021; dan 2022 dan ingatan akan nyawa tak berdosa yang telah hilang, termasuk anak-anak dan wanita.
Saya selalu tahu bahwa ketidakpastian hidup di Gaza adalah beban berat bagi orang tua, dan rasa takut kehilangan anak setiap saat adalah mimpi buruk yang terus menerus. Tetapi setelah putri saya, Sarah, lahir hampir setahun yang lalu, apa yang saya ketahui secara abstrak menjadi semakin nyata. Sebagai orang tua, menghadapi perang ini dan akibatnya bisa terasa melemahkan. Ketika saya melihat ke dalam mata anak saya, saya tidak bisa tidak merasakan beratnya situasi kami; bertanya-tanya bagaimana masa depannya atau apakah dia akan memilikinya ataukah harapan dan impiannya akan tergantikan dengan rasa takut dan kehilangan, kesedihan dan trauma.
Ketegangan menggantung berat di udara malam saat suara ledakan bergema di seluruh area. Di seluruh Gaza, para orang tua berkumpul dengan erat bersama anak-anak mereka, melakukan yang terbaik untuk melindungi mereka dan meyakinkan mereka bahwa mereka akan baik-baik saja, meskipun dalam hati mereka tahu bahwa tidak ada jaminan. Dengan setiap serangan baru, momok kematian semakin dekat, menutupi hidup dan impian kami untuk anak-anak kami.
Realitas menjadi orang tua di tempat yang dilanda perang seperti Gaza berarti perjuangan terus-menerus antara harapan dan keputusasaan. Namun, kematian, bagi kami, terasa lebih mudah daripada membayangkan bahwa anak kami akan menjadi yang berikutnya. Setiap hari, kami dihadapkan pada bukti suram dari keberadaan kami yang retak: gedung-gedung yang dibom, rumah sakit darurat, dan kehidupan teman dan tetangga kami yang hancur.
Pada keheningan di antara kekacauan, saya melihat bayi saya tidur, dadanya naik dan turun dengan napas yang lembut. Saya mengagumi kepolosannya dan kemampuannya untuk bersuka cita, meski pada waktu yang sama, saya tertegun membayangkan dunia yang hanya menunjukkan begitu sedikit kebaikan kepada anak-anak Palestina. Saat saya menatap mata anak saya, saya melihat secercah mimpi yang dia bawa di dalam dirinya: mimpi tentang kehidupan yang bebas dari ancaman kekerasan yang terus-menerus, tentang dunia di mana dia dapat tumbuh dan berkembang tanpa rasa takut.
Tragedi ini menusuk hati seperti ditikam belati, dan rasa sakitnya tidak pernah benar-benar hilang. Mau tidak mau saya menempatkan diri saya pada posisi orang tua yang terpaksa mengubur anak-anak mereka, yang harapan, impian, dan tawanya dipadamkan oleh mekanisme perang yang tidak manusiawi. Merasakan hal ini menyebabkan saya sangat tertekan secara emosional, terombang-ambing antara kemarahan, kesedihan, dan perasaan tidak berdaya yang mendalam.
Bagi seorang pengungsi seperti saya, yang kakeknya termasuk di antara orang-orang yang lolos dari kematian di kota Barbara yang hancur (sekarang menjadi bagian dari Ashkelon), pengeboman yang terus berlanjut adalah pengingat serius bahwa Nakba belum berakhir. Saat kami memperingati 75 tahun Nakba pada bulan ini, kami menyadari bahwa bencana kehilangan tanah air kami pada tahun 1948 terus membentuk hidup kami dan perjuangan kami yang berkelanjutan untuk keadilan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








