Mayar (11) dan Ali (8) pada hari itu sibuk membeli permen dan makanan, menyiapkan pakaian mereka, dan tidur lebih awal pada Senin malam. Merek bersemangat menanti hari esok untuk ikut rekreasi sekolah yang menyenangkan di Jalur Gaza. Sekitar lima jam sebelum perjalanan, serangan udara Israel menghantam rumah mereka, merenggut nyawa kedua saudara kandung tersebut dan ayah mereka.
Sebuah video yang beredar online menunjukkan sang ibu mengucapkan selamat tinggal pada jenazah anak-anaknya dan suaminya yang terkapar di tanah. “Semoga Allah merahmati kalian. Belahan jiwaku, anak-anakku,” katanya, ketika kerabatnya mencoba menariknya untuk mencegahnya jatuh.
Keluarga itu sedang tidur ketika jet tempur Israel menargetkan seluruh lantai bangunan tempat tinggal mereka di lingkungan al-Remal di pusat Kota Gaza. Lima belas warga Palestina tewas dalam serangan itu, termasuk empat anak dan empat perempuan. Lebih dari 20 lainnya terluka, termasuk tiga anak dan tujuh perempuan, beberapa di antaranya dalam kondisi serius dan kritis, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
“Pada pagi yang menyedihkan ini, dengan hati yang berduka, sekolah mengucapkan selamat tinggal kepada dua siswanya yang tidak bersalah, yang menjadi syahid akibat pengeboman Zionis di Jalur Gaza,” demikian pihak sekolah Mayar dan Ali menuliskan di Facebook.
“Mayar adalah teman baik putri saya, Leen. Dia murid yang luar biasa dan Leen sangat mencintainya,” kata Aya Abu Taqia (35). “Mereka sangat bersemangat dengan perjalanan hari ini. Kemarin, kami membeli permen dan makanan karena Leen, Mayar, dan teman-temannya berencana membawa tikar piknik untuk duduk dan berbagi makanan. Saya belum pernah melihat mereka bersemangat seperti ini sebelumnya.”
“Saya takut Leen akan mengetahui berita itu,” katanya. “Namun, saya menceritakan berita itu secara bertahap, sebelum memberitahunya bahwa Mayar yang dia kenal telah mati syahid. Kemudian dia pingsan sambil menangis,” terangnya. “Leen kaget, tidak mudah menjelaskan tentang kematian kepada seorang anak berusia 11 tahun.”
“Saya belum memberitahu Jamal bahwa Ali, temannya, juga dibunuh. Saya tidak tahu bagaimana saya akan memberitahunya. Hati kecilnya pasti tidak bisa menerima semua ini,” Yusra al-Aklouk, ibu dari sahabat dan teman sekelas Ali, juga memposting kisahnya di Facebook. “Dia telah kehilangan ayah, kakek, dan pamannya [dalam serangan Israel pada Mei 2021]. Ini adalah pengalaman keempatnya kehilangan orang yang sangat dekat dengannya, ”katanya. Ali telah menjadi teman dekat Jamal sejak ayahnya terbunuh, dan menjadi sumber penghiburan dan dukungan, demikian Yusra menyampaikan.
“Saya ceritakan ada pengeboman di daerah sekitar, lalu saya bilang bom itu mengenai bangunan tempat tinggal Ali. Dia bertanya kepada saya tentang Ali, Kemudian saya mengatakan kepadanya bahwa Ali telah syahid,” katanya. “Dia menangis. Tapi kemudian dia mulai mengingatkan saya tentang semua hal yang selalu saya katakan kepadanya tentang bertemu [orang yang dicintai] di surga nanti.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








