Selama 13 hari berturut-turut, Kota Tua Yerikho di Tepi Barat masih berada di bawah pengepungan militer Israel, dengan pos pemeriksaan yang menghalangi lalu lintas Palestina di semua pintu masuk ke kota. Pos pemeriksaan militer sementara juga telah didirikan oleh tentara pendudukan Israel di semua pintu masuk utama ke Yerikho sejak pekan lalu, mengakibatkan kemacetan lalu lintas dan antrean kendaraan yang luar biasa panjang karena tentara secara menyeluruh memeriksa kartu identitas pengemudi dan penumpang serta barang-barang mereka.
Warga Palestina yang mencoba meninggalkan kota atau memasukinya dan mereka yang ingin bepergian ke luar negeri dan harus melalui Yerikho, menghadapi penundaan hingga berjam-jam di pos pemeriksaan militer Israel yang didirikan di jalan menuju keluar kota. Yerikho dan kamp pengungsi Aqabat Jabr yang berdekatan telah menyaksikan serangan militer Israel berulang kali sejak awal Februari, termasuk serangan berdarah di kamp pengungsi pada 6 Februari yang menewaskan lima warga Palestina.
Pasukan Pendudukan Israel juga telah memberikan perintah untuk menghentikan pembangunan terhadap 11 pemilik rumah Palestina di Desa Al-Jiftlik, lapor kantor berita Wafa. Menurut aktivis lokal, Ayman Ghareeb, sekelompok tentara Israel menyerbu ke desa tersebut pada pagi hari dan melanjutkan dengan mengeluarkan perintah yang akan menyebabkan pembongkaran rumah yang dibangun antara tahun 1960 dan 1975, dan bangunan lainnya yang masih dalam tahap konstruksi.
Otoritas Pendudukan Israel mengeluarkan pembongkaran dan Perintah Hentikan Pekerjaan untuk rumah dan fasilitas Palestina di Tepi Barat yang Diduduki dengan dalih bahwa mereka tidak memiliki izin bangunan yang diperlukan, jelas Ayman. Namun, warga Palestina jarang diberikan izin seperti itu oleh negara kolonial pemukim.
Oleh karena itu, dengan bertambahnya keluarga, warga Palestina di Wilayah Pendudukan Palestina harus memperluas rumah mereka atau membangun rumah baru tanpa izin. Ini membuat mereka tunduk pada penghancuran oleh Israel. Ketika pemberitahuan pembongkaran diberikan kepada pemilik rumah, mereka diberi pilihan untuk merobohkan rumah mereka sendiri atau membayar Pasukan Pendudukan Israel untuk melakukannya.
Menurut data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, Israel telah menghancurkan 278 rumah dan fasilitas Palestina, yang sebagian besar berada di Area C, selama tiga bulan pertama tahun ini. Sementara pembersihan etnis Palestina ini sedang berlangsung, lebih dari 600.000 orang Israel tinggal di permukiman ilegal di Al-Quds Timur yang diduduki dan Tepi Barat. Semua permukiman Israel dibangun dengan melanggar hukum internasional dan digolongkan sebagai kejahatan perang.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








