Warga Rwanda berduka atas kehilangan orang yang dicintai dan rumah yang hancur akibat banjir dahsyat dan tanah longsor melanda negara itu. Bencana tersebut menewaskan sedikitnya 130 orang dan menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
Salah satu video yang diunggah Rwanda Broadcasting Agency memperlihatkan suasana kacau di kawasan terdampak banjir. Terlihat air berlumpur mengalir ke jalan-jalan dan merusak rumah-rumah. “Kami bangun pukul 02.00 dini hari dan mendengar orang-orang berteriak,” kata warga Distrik Karongi, Rwanda, Angelique, Rabu (3/5).
Sungai lumpur menyapu rumah dan infrastruktur lainnya serta memutus jalan setelah hujan lebat mengguyur beberapa daerah. Kerusakan terparah dialami Provinsi Barat yang berbatasan dengan Danau Kivu. “Saya menemukan anak saya terkubur di bawah batu dan batu bata yang menimpanya saat hujan deras. Dia meninggal di rumah sakit,” kata Anonciata, di distrik Karongi yang terdampak paling parah. “Ini sangat menghancurkan keluarga kami. Salah satu anak saya yang lain juga terluka parah di kepala. Saya berdoa dia selamat.”
Imacule Kankwanzi mengatakan kehidupan normal terhenti di desanya karena tidak ada makanan dan jalan diblokir. “Rumah kami hancur atau kebanjiran,” katanya. “Rumah saya benar-benar terendam air. Singkatnya, kami putus asa dan tanpa harapan.”
Pemerintah mengerahkan truk-truk pasokan darurat seperti makanan dan barang-barang pokok lainnya ke daerah-daerah yang paling terdampak parah. Para pengungsi berlindung di tenda-tenda. Mereka disarankan untuk tetap di sana sampai hujan berhenti, karena khawatir akan terjadi tanah longsor dan banjir lebih lanjut sebab sungai masih deras dan tanah yang tidak stabil.
“Korban tewas sekarang 130 orang. Kami tidak tahu jumlah total tunawisma saat ini, tetapi penghitungan sedang berlangsung,” kata wakil juru bicara pemerintah Alain Mukuralinda. “Yang kami tahu adalah lebih dari 5.100 rumah hancur dan mereka semua memiliki keluarga yang tinggal di dalamnya.” 2.500 rumah lainnya telah rusak sebagian, menurut penghitungan pemerintah. Mukuralinda mengatakan tercatat 77 orang terluka dalam bencana tersebut, termasuk 36 orang yang masih dirawat di rumah sakit dengan luka berat.
Perdana Menteri Edouard Ngirente pada Kamis (4/5) mengunjungi daerah yang terkena dampak paling parah. Dia bergabung dengan keluarga yang berkabung saat mereka bersiap untuk menguburkan orang yang dicintai. Pemerintah akan memberikan kompensasi sebesar 100.000 franc Rwanda ($110) kepada setiap keluarga dengan kerabat yang tewas dalam bencana tersebut.
Uni Afrika, badan-badan PBB, dan negara-negara seperti Prancis termasuk di antara mereka yang mengirimkan belasungkawa ke Rwanda. Afrika Timur sering mengalami cuaca ekstrem selama musim hujan, seperti Uganda yang juga menderita dalam beberapa hari terakhir dengan enam orang dilaporkan tewas akibat tanah longsor. Bulan lalu, sedikitnya 14 orang tewas setelah hujan lebat memicu banjir dan tanah longsor di Ethiopia selatan, sementara ratusan ternak mati dan puluhan rumah rusak.
Pada Mei 2020, setidaknya 65 orang tewas di Rwanda saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Sementara itu, lebih dari 200 orang tewas akibat banjir dan tanah longsor dalam empat bulan pertama tahun 2018. Para ahli mengatakan peristiwa cuaca ekstrem terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang meningkat karena perubahan iklim — dan Afrika, yang paling sedikit menyumbang pemanasan global, menanggung beban terbesar.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








