Ratusan orang Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Yerusalem) Timur pada Rabu pagi (26/4) dan mengibarkan bendera Israel. Serangan tersebut terjadi saat Israel menandai 75 tahun ‘pembentukan negara’ mereka. Dengan perlindungan tentara, ultranasionalis Israel menyerbu halaman melalui Gerbang Al-Mughrabi. Pada saat yang sama, pasukan keamanan memberlakukan pembatasan masuk pada warga Palestina. Situs berita Arab48 melaporkan bahwa petugas keamanan mengusir seorang gadis dan empat pemuda dari masjid sehubungan dengan serangan Israel.
Israel menandai peringatan 75 tahun ‘kemerdekaan’ (penjajahan atas Palestina) pada pekan ini, yang memiliki makna berbeda bagi warga Palestina. Penduduk Palestina mengenal hari ‘pembentukan negara’ Israel sebagai Nakba atau “malapetaka”, menandai pengusiran lebih dari 700.000 warga Palestina dari tanah air bersejarah mereka. Pasukan keamanan Israel mengatakan bahwa Tepi Barat dan Gaza akan ditutup selama perayaan. Menurut Times of Israel, penutupan akan dimulai pada Senin pukul 5 sore dan berlangsung hingga Rabu siang. Militer mengatakan penyeberangan akan dibuka kembali “tergantung terhadap penilaian situasional”.
Sehari sebelumnya, Zionis Israel juga mencegah azan magrib dikumandangkan di Masjid Al-Aqsa dengan memotong kabel pengeras suara masjid. Mereka berdalih bahwa orang Yahudi sedang melaksanakan perayaan di Lapangan Buraq (Tembok Barat) yang berdekatan dengan masjid. Ini terjadi ketika sejumlah tokoh Al-Quds (Yerusalem) menyeru warga Palestina untuk melakukan salat Maghrib dan Isya di aula Bab al-Rahma dalam upaya untuk melindunginya dari serangan dan pelanggaran oleh pasukan pendudukan dan pemukim. Untuk kedua kalinya dalam dua hari, polisi pendudukan Israel telah menyerbu Aula Bab Al-Rahma dan mencabut kabel listrik barunya. Mereka juga mencegah jamaah Muslim memasukinya.
Pasukan Israel secara teratur mengosongkan Masjid Al-Aqsa dari warga Palestina di luar waktu salat lima waktu, terutama pada malam hari dan setelah salat Subuh. Hal tersebut mereka lakukan untuk memastikan kelancaran serangan pemukim Israel. Menurut perjanjian internasional selama beberapa dekade, yang dikenal sebagai status quo, Masjid Al-Aqsa adalah situs Islam sehingga kunjungan, doa, dan ritual nonmuslim dilarang untuk dilakukan.
Kelompok-kelompok pemukim Israel, berkoordinasi dengan militer Israel, telah lama melanggar aturan internasional dan memfasilitasi penggerebekan harian ke Masjid Al-Aqsa. Mereka melakukan doa dan ritual keagamaan tanpa izin dari Palestina atau Yordania, yang merupakan penjaga situs Islam dan Kristen di Al-Quds (Yerusalem). Sementara itu, pasukan Israel membatasi siapa yang dapat memasuki Masjid Al-Aqsa dan kapan mereka dapat masuk, yang menurut warga Palestina merupakan pelanggaran terhadap perjanjian yang mengizinkan umat Islam beribadah di situs suci tersebut.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








