Tiga puluh satu tahun telah berlalu sejak Diaa al-Agha, tawanan terlama di Gaza mendekam di penjara Israel, sejak ia ditangkap oleh otoritas pendudukan Israel. Sejak saat itu, ibunya hanya bermimpi memiliki kesempatan untuk memeluknya. “Selama 31 tahun, dia telah ditawan di penjara pendudukan Israel. Kami merindukan kehadirannya pada Ramadan, dan kami merindukannya di semua acara dan liburan kami. Saya khawatir saya akan mati tanpa bisa memeluknya,” kata Najat Al-Agha, ibu Diaa.
Faktanya, meskipun keluarga tawanan Palestina kadang-kadang diizinkan untuk mengunjungi keluarga mereka yang ditawan di penjara Israel, para tawanan hanya diperbolehkan untuk berbicara dengan keluarga mereka yang berkunjung melalui telepon dengan batang kaca tebal yang memisahkan mereka dari pengunjung. Sangat tidak mungkin untuk melakukan kontak fisik.
Diaa Zakaria Al-Agha, 48 tahun, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, dan merupakan salah satu tawanan Palestina yang ditangkap sebelum penandatanganan Kesepakatan Oslo pada tahun 1993 dan masih berada di penjara hingga sekarang. Ibunya menjelaskan, “Sejak penangkapannya, saya tidak bisa tidur atau hidup normal karena merindukan dan mengkhawatirkannya. Ketika ia ditangkap, saya berusia 42 tahun, dan sekarang saya 73 tahun. Saya takut saya tidak dapat bertemu lagi dengannya.
“Saya ingin memeluknya seperti setiap ibu yang bisa memeluk anaknya. Diaa berbeda dari saudara laki-lakinya. Dia berjiwa sosial, mencintai anak-ana dan mencintai teman-temannya. Semua tawanan mengenal dan mencintainya.”
Sang ibu berkata bahwa kunjungan terakhirnya ke putranya di penjara bertepatan dengan Hari Ibu pada 21 Maret. Dia menempelkan pipinya ke kaca yang memisahkan tawanan dari keluarganya dan menciumnya [kaca] sebentar. Beberapa tawanan yang melihatnya berkata: “Insya Allah, Anda akan segera menciumnya tanpa kaca.”
Sang ibu terisak, “Saya pernah ke Swiss, Prancis, Maroko, Mesir, Negara Liga Arab, Aljazair, Irak dan negara-negara lain. Saya tidak melewatkan lembaga yang peduli dengan hak asasi manusia. Saya menjelaskan kepada mereka keprihatinan keluarga dan anak-anak. tentang para tawanan di penjara pendudukan Israel, kelelahan terkait dengan kunjungan keluarga ke penjara. Saya memberitahu mereka tentang ibu dan ayah yang meninggal saat anak-anak mereka berada di dalam penjara.”
“Peristiwa ibu atau ayah yang memanggil nama anak mereka yang masih ditawan, saat mereka mengembuskan nafas terakhir dalam hidup, sangat menyakitkan dan memilukan.” kata Al-Agha. Ia menunjukkan: “Kami berangkat jam tiga pagi menuju gerbang [penjara]. Kami tiba setelah melewati perjalanan selama berjam-jam. Segera setelah bus yang membawa keluarga para tawanan memasuki halaman penjara penjara, pendudukan Israel menggeledah kami dan memaksa kami melepas pakaian kami dalam cuaca yang sangat dingin dan kami harus bertelanjang kaki.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








