Para menteri dan anggota parlemen sayap kanan terkemuka Israel memimpin pawai pro-permukiman besar-besaran di Tepi Barat pada Senin (10/4), sebagai bentuk dukungan provokatif untuk perluasan permukiman. Pawai yang diamankan oleh ratusan tentara Israel tersebut bergerak maju menuju pos permukiman Evyatar yang telah dievakuasi, dekat Huwwara, kota yang dibakar pada bulan Februari oleh ratusan pemukim.
Di antara ribuan orang yang berpartisipasi terdapat tujuh menteri pemerintahan sayap kanan, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, dan Menteri Misi Nasional Orit Strock. Setidaknya 20 anggota parlemen juga bergabung, bersama dengan para rabi dan pemimpin permukiman, termasuk anggota gerakan permukiman Nachala dan pendukung perluasan permukiman di Tepi Barat.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengutuk keras pawai yang akan melanggar kebebasan bergerak warga Palestina di daerah tersebut. “[Pawai] adalah eskalasi dan provokasi yang berbahaya bagi rakyat Palestina dan perpanjangan seruan penghasutan hak Israel dan hak fasis untuk memperluas permukiman di tanah yang dicuri,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Ben Gvir, seorang pemukim Israel, mengatakan pawai itu sebagai sikap mereka. “Ini (adalah) deklarasi yang menunjukkan bahwa kami di sini, dan kami sedang berbaris menuju masa depan. Dan hari ini, para menteri di pemerintahan Israel menyatakan bahwa pawai ini adalah pernyataan yang jelas. Saya harap Israel memahami ini.”
Pemukim Israel mendirikan Evyatar sebagai pos pemukiman ilegal pada Mei 2021 di atas tanah Palestina di Jabal Sabih, selatan Desa Beita di provinsi Nablus. Menyusul protes Palestina tanpa henti terhadap perampasan tanah, Israel mencapai kesepakatan dengan para pemimpin pemukim yang membuat puluhan pemukim dievakuasi dari pos terdepan pada bulan Juli tahun itu, meninggalkan pasukan militer di daerah tersebut.
Kesepakatan itu juga memungkinkan pasukan Israel untuk mempertahankan sekitar 50 karavan pemukim yang dilarang sebelumnya, dan mengatakan bahwa pemukim akan “kembali” ke tanah itu ketika otoritas Israel menetapkannya sebagai “milik negara”. Hingga saat ini, hampir 700.000 pemukim melanggar hukum internasional dengan mendiami lebih dari 250 permukiman dan pos terdepan di Tepi Barat dan Al-Quds Timur yang berdiri di atas tanah Palestina.
Sumber:
https://www.palestinechronicle.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








