Penembakan Gas Air Mata di Final Sepak Bola Palestina
Sepak bola tanah air dilanda huru-hara pasca FIFA mengumumkan pencabutan hak Indonesia untuk menjadi tuan rumah dalam ajang turnamen Piala Dunia U-20. Keputusan badan sepak bola dunia itu diumumkan setelah pertemuan antara Ketua Umum Federasi Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Erick Thohir, dan Presiden FIFA Gianni Infantino. Dalam pernyataan resminya, FIFA menyebutkan bahwa pembatalan itu karena situasi terkini yang berkembang di Indonesia, dengan turut menyatakan akan tetap berkomitmen untuk mendukung transformasi sepak bola Indonesia terkait tragedi yang terjadi pada bulan Oktober 2022 (Tragedi Kanjuruhan). Selain itu, isu lain yang juga berkembang terkait keputusan pembatalan FIFA adalah mengenai kehadiran Timnas Israel pada Piala Dunia U-20. Berbagai elemen masyarakat Indonesia, termasuk Gubernur Bali dan Jawa Tengah telah menyatakan penolakan mereka atas kehadiran Timnas Israel ke Indonesia yang menyalahi UUD 1945 yang menolak penjajahan.

Namun, belum selesai huru-hara di kalangan para penggemar sepakbola, Israel kembali membuat keributan. Pada Kamis malam (30/3), pasukan Israel menembakkan gas air mata saat pertandingan final sepak bola Palestina di Stadion Internasional Faisal Al-Husseini di jalan Dahiat al-Barid di al-Ram, sebelah utara Al-Quds (Yerusalem). Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mengatakan penyerangan terjadi saat pertandingan final Piala Abu Ammar, tepatnya ketika waktu jeda pertandingan antara klub Markaz Balata dari Nablus dan Jabal Al-Mukaber dari Al-Quds (Yerusalem).
Dua kendaraan lapis baja Israel merangsek masuk ke stadion, menembak lapangan dan tribun dengan gas air mata dari bahan kimia yang dapat menyebabkan sakit mata dan gangguan pernapasan yang parah, iritasi kulit, pendarahan, bahkan kebutaan. Para suporter yang panik bergegas berlarian ke lapangan, berusaha mendapatkan udara segar di tengah kerusuhan yang terjadi. Sebanyak tiga orang dilarikan ke rumah sakit, sementara sejumlah pemain sepak bola dan suporter yang mengalami sesak, termasuk anak-anak, dirawat di lapangan.



“Tanpa peringatan sebelumnya, tentara pendudukan menghujani stadion dengan bom gas air mata yang dijatuhkan di lapangan dan di antara tribun yang diisi oleh ratusan penggemar bola, termasuk anak-anak,” kata Presiden PFA, Jibril al-Rajoub. “Saya pikir mereka adalah neo-Nazi. Menargetkan pemain dan penggemar sepak bola, dan menembakkan gas air mata di lapangan dan stadion adalah noda di wajah pendudukan [Israel],” kata Rajoub.
Rajoub mengatakan, saat itu sama sekali tidak ada gesekan atau bentrokan antara penduduk Palestina dengan pasukan Israel. Oleh karena itu, semua yang hadir sangat terkejut ketika tiba-tiba tabung gas air mata Israel menghujani lapangan. “Kami percaya bahwa bukti ini dapat menjadi dasar untuk menghadapi kejahatan pendudukan terhadap rakyat kami dan olahraga Palestina oleh para neo-Nazi,” katanya kepada TV Palestina saat berada di stadion.
Saed Abu Saleem, penjaga gawang dan kapten Markaz Balata, mengatakan kepada TV Palestina: “Ini adalah penjajahan. Mereka ingin membuat hidup seperti neraka bagi rakyat Palestina. Para suporter datang untuk melihat tim mereka bermain, tetapi pendudukan tidak menginginkan anak-anak maupun lansia sekalipun, untuk bisa hidup normal seperti orang-orang di seluruh dunia,” katanya. Ia menekankan bahwa banyak suporter yang melakukan perjalanan jauh dari kota-kota di Tepi Barat untuk menyaksikan pertandingan. Abu Saleem juga mengatakan bahwa gas air mata bahkan mencapai ruang ganti para pemain, mengakibatkan sejumlah pemain menderita sesak, seperti Rami Hamadi, kiper Jabal Al Mukaber, yang harus dirawat pada babak kedua.
Akibat serangan tersebut, pertandingan antara Markaz Balata dan Jabal Al-Mukaber hampir dibatalkan, tetapi wasit melanjutkannya setelah penundaan selama satu jam. Pertandingan tersebut mengantarkan klub Jabal Al Mukaber sebagai pemenang dengan skor 1-0 setelah pemain Zaid Qunbor mencetak gol sundulan pada menit ke-27. Sammir Issa, manajer Jabal Al Mukaber, mengatakan bahwa mereka telah mendedikasikan kemenangan tersebut untuk Ahmed Abu Khadija, pemain sepak bola yang telah ditawan oleh Israel tanpa dakwaan selama tiga minggu terakhir.

Ahmed Abu Khadija adalah salah satu pemain sepak bola Klub Jabal Al Mukaber, yang dinobatkan sebagai juara Liga Sepak Bola Profesional. Ia ditangkap hanya beberapa jam setelah timnya memenangkan Liga Profesional pada 3 Maret 2023. Ahmed Abu Khadija adalah salah satu korban dari terorisme dalam dunia olahraga yang terus dilancarkan Israel hingga saat ini.
Sampai sekarang, Israel sama sekali belum membuka suara terkait serangan mendadak tersebut, baik itu tentang motif penyerangan maupun siapa yang memberikan perintah untuk menyerang. “PFA akan mengajukan keluhan kepada FIFA tentang insiden tersebut dan mengkomunikasikan masalah tersebut dengan federasi sepak bola di Asia dan seluruh dunia. Terorisme terhadap olahraga harus diakhiri,” pungkas Jibril al-Rajoub, Presiden PFA.
Jejak terorisme Israel dalam olahraga sepak bola

Serangan Israel saat pertandingan final sepak bola Palestina di Stadion Internasional Faisal Al-Husseini bukanlah kasus pertama terorisme yang Israel lakukan di dunia olahraga. Tahun lalu, tepatnya pada 21 November 2022, pasukan pendudukan Israel juga secara tiba-tiba menyerang sebuah lapangan sepak bola yang terletak di kota al-Khader, selatan Bethlehem, hampir sama seperti serangan yang mereka lakukan di Stadion Internasional Faisal al-Husseini.
Direktur lapangan al-Khader, Yousef Sayel, mengatakan bahwa pasukan bersenjata berat secara tiba-tiba menerobos masuk ke halaman luar lapangan saat turnamen sepak bola sedang berlangsung pada malam hari. Pasukan Israel langsung menembakkan tabung gas air mata ke arah stadion dan lapangan, menyebabkan sejumlah pemain dan penonton menderita sesak akibat terhirup gas air mata.
Daerah al-Khader telah menjadi sasaran pencurian tanah oleh Israel sejak tahun 1967. Israel telah membangun permukiman kolonial Efrat dan Neve Daniyyel di atas lahan seluas 6.329 dunam tanah Palestina yang disita dari al-Khader. Israel juga telah membangun tembok apartheid, mengisolasi sekitar 5.620 dunam tanah kota untuk kegiatan permukiman kolonial dan mengusir penduduk desa ke dalam area yang padat, dikelilingi oleh tembok, permukiman ilegal dan instalasi militer. Tak cukup puas dengan itu, Israel masih terus menyita lebih banyak tanah di al-Khader untuk membangun terowongan dan penyeberangan, juga untuk membatasi gerakan penduduk Palestina dari Kota Betlehem ke desa-desa lainnya.
Sebulan setelahnya, pada 22 Desember 2022, dunia digemparkan oleh pembunuhan salah satu pemain sepak bola terbaik Palestina, Ahmed Atef Daraghmeh (23). Ia ditembak mati oleh pasukan pendudukan Israel di Nablus, Tepi Barat, ketika terjadi bentrokan antara penduduk Palestina dengan pasukan Israel yang menyerbu Nablus dengan tujuan untuk mengawal warga Yahudi Zionis yang memaksa masuk ke situs Makam Yusuf.
Ahmed Daraghmeh adalah seorang pemuda Palestina yang berasal dari kota Tubas. Ia tercatat sebagai pemain sepak bola dari klub Liga Premier Tepi Barat Thaqafi Tulkarem. Karirnya sebagai pemain sepak bola yang berpretasi, dicatat dalam situs sepak bola Arab populer Kooora yang mencantumkan namanya sebagai pencetak gol terbanyak pada musim itu, yaitu sebanyak enam gol. Masih belum jelas apakah Daraghmeh memang ditargetkan atau tidak, yang jelas tindakan Israel tersebut telah menodai wajahnya sendiri dalam dunia olahcraga karena menghabisi impian seorang atlet muda Palestina yang tengah naik daun.

Sama sekali tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Daraghmeh terlibat dalam konfrontasi yang merenggut nyawanya tersebut. Militer Israel membuat alibi bahwa mereka “menembaki warga Palestina yang telah melemparkan bahan peledak dan menembaki pasukan Israel saat tiba di Nablus,” kemudian menambahkan bahwa “‘tersangka’ telah ditembak.” Jibril Rajoub, kepala Asosiasi Sepak Bola Palestina dan Komite Olimpiade Palestina kemudian menyeru kepada FIFA dan organisasi internasional lainnya agar menegakkan hukum dan memberikan sanksi pada Israel atas tindakan keji tersebut. Sayangnya, tidak ada tindak lanjut dan sanksi tegas dari FIFA atas tindakan keji tersebut.
Sebelumnya, PFA sudah pernah memberikan teguran kepada FIFA karena perbedaan sikap dan standar ganda yang FIFA tunjukkan ketika berurusan dengan Israel dan dengan negara penjajah lainnya. Pada tahun 2017, Palestina telah mengajukan kepada FIFA agar enam tim sepak bola Israel di Tepi Barat tidak diberikan izin untuk ikut serta dalam pertandingan internasional yang diadakan FIFA. Keenam klub tersebut berlokasi di permukiman Maale Adumim, Ariel, Kiryat Arba, Givat Zeev, Oranit, dan Lembah Yordan, yang semuanya merupakan permukiman ilegal karena dibangun di atas tanah Palestina.
Alih-alih mendengarkan seruan Palestina, FIFA justru tetap mengizinkan keenam klub tersebut untuk bertanding dan menolak untuk menjatuhkan sanksi pada mereka. FIFA kemudian mengungkapkan bahwa pertimbangannya adalah “karena alasan tersebut tidak ada hubungannya dengan sepak bola,” dan “tidak dapat diabaikan atau diubah secara sepihak oleh organisasi non-pemerintah seperti FIFA.” Sejalan dengan prinsip umum yang ditetapkan dalam Statuta FIFA, yakni “harus tetap netral terkait masalah politik.
Meskipun mendapat respon yang tidak sesuai harapan, Palestina tetap menyeru kepada FIFA agar Israel dikeluarkan dari keanggotaan FIFA. Palestina mengingatkan FIFA bahwa memiliki tim di Tepi Barat telah melanggar aturan FIFA sendiri, yang menyatakan bahwa “asosiasi anggota dan klub tidak boleh bermain di wilayah asosiasi anggota lain tanpa persetujuan.” Pada kasus yang lain, ketika Rusia menduduki Krimea pada 2014, afiliasi Eropa FIFA, UEFA, memblokir Rusia untuk memasukkan tim dari Krimea ke liga nasionalnya berdasarkan aturan tersebut. Akan tetapi, untuk Israel, patut dipertanyakan mengapa FIFA melakukan tindakan yang bertolak belakang padahal mengacu pada aturan yang sama.
Beberapa tahun setelahnya, pada 12 Oktober 2021, Presiden FIFA, Gianni Infantino saat itu dijadwalkan untuk menghadiri pertemuan dengan Presiden PFA Jibril Rajoub di Ramallah. Pertemuan tersebut rencananya akan membahas mengenai perkembangan sepak bola di Palestina dan diskusi untuk memecahkan solusi terkait masalah yang terjadi di dunia sepak bola Palestina.
Akan tetapi, pertemuan tersebut kemudian dibatalkan karena Presiden FIFA lebih memilih menghadiri sebuah acara bersama dengan mantan duta besar AS untuk Israel David Friedman di “Museum Toleransi”. “Museum Toleransi” adalah sebutan untuk bangunan yang Israel dirikan di atas pemakaman Islam bersejarah Ma’manullah, di kota Al-Quds (Yerusalem) Timur. Tindakan FIFA tersebut kemudian dianggap sebagai pelanggaran prinsip terhadap nilai-nilai toleransi beragama dan hidup berdampingan secara damai, yang kedua nilai tersebut seharusnya didukung oleh undang-undang FIFA.
Akibat kejadian tersebut, PFA memutuskan membatalkan pertemuan, mengingat bahwa FIFA lebih memilih untuk menghadiri kegiatan Israel yang mengambil tempat di pemakaman muslim tertua di Al-Quds yang dibangun sejak abad ke-11 tersebut. Pemakaman Islam Ma’manullah adalah situs yang sangat penting bagi penduduk Palestina dan dinyatakan sebagai situs bersejarah oleh Dewan Tertinggi Muslim pada tahun 1927, dan dinyatakan sebagai “situs antik” oleh British Mandate of Palestine pada tahun 1944. Pemakaman tersebut berisi jasad ribuan orang Arab dan muslim Palestina yang makamnya dinodai oleh bangunan lokasi konferensi Israel dengan FIFA tersebut.
Hanya sehari setelah hadir ke acara Israel yang mengambil tempat di pemakaman Palestina, FIFA kembali mengejutkan dunia sepak bola karena mengatakan bahwa mereka telah menyarankan agar Israel menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 2030. “Dalam diskusi mereka, ketua FIFA mengemukakan gagasan bahwa Israel akan menjadi tuan rumah #WorldCup pada 2030, bersama dengan negara-negara lain di kawasan itu, terutama dengan Uni Emirat Arab,” kata juru bicara Perdana Menteri Israel Naftali Bennett di Twitter.
Pernyataan FIFA tersebut kemudian menuai beragam respon, mengingat bahwa Israel adalah negara penjajah yang telah berulang kali melakukan penyerangan terhadap penduduk Palestina, termasuk serangan di arena olahraga dan menargetkan para atlet. Dengan keputusan FIFA untuk menjadikan Israel sebagai tuan rumah pada Piala Dunia 2030, sesungguhnya secara terang-terangan FIFA telah melanggar aturan dan prinsip terhormat dalam dunia olahraga yang mereka buat sendiri.

Sepak bola adalah bentuk olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas dan keadilan bagi semua orang yang terlibat di dalamnya, baik di antara para pemainnya, wasit, maupun para suporter. Prinsip terhormat tersebut juga menjadi landasan bagi pelaksanaan seluruh olahraga dalam ruang lingkup apa pun, baik itu hanya pertandingan kecil antarteman maupun kompetisi besar antarnegara.
Tentunya, permainan olahraga yang sportif tidak akan pernah bisa dilakukan oleh negara yang sama sekali tidak menjunjung tinggi prinsip-prinsip terhormat dalam olahraga, atau bahkan terang-terangan melanggarnya, seperti yang Israel lakukan terhadap Palestina. Penyerangan terhadap pertandingan sepak bola serta penangkapan dan pembunuhan para atlet tidak hanya menunjukkan bahwa Israel telah melanggar aturan, tetapi juga menjadi bukti bahwa FIFA secara tidak langsung telah menutup mata dari hal tersebut karena masih memberikan Israel panggung dalam dunia olahraga, melanggengkan terorisme di dunia olahraga yang mereka lakukan.
Jika FIFA masih menghormati aturan dan prinsip terhormat dalam dunia olahraga, sudah seharusnya mereka mengambil tindakan tegas dan tidak lagi memberi panggung kepada Israel, apalagi menjadikannya sebagai tuan rumah. Sebab, sesungguhnya tanah yang disebut “rumah” oleh Israel adalah tanah yang mereka curi dari penduduk Palestina. Dengan kata lain, terorisme Israel sudah sangat jelas terbukti dari berbagai aspek, sehingga memberikan mereka izin untuk berlaga di dunia olahraga berarti turut serta dalam melanggengkan terorisme Israel terhadap olahraga yang membuat penduduk Palestina semakin menderita.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=Idg-6hvkUrQ
https://english.wafa.ps/Pages/Details/135133
https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-cup-final-forces-fired-tear-gas
https://www.newarab.com/news/israeli-forces-tear-gas-palestinians-football-cup-final
https://english.wafa.ps/Pages/Details/133880
https://www.aljazeera.com/news/2022/12/22/israeli-army-kills-man-in-west-bank-confrontations-medics
https://www.arabnews.com/node/2220451/sport https://www.trtworld.com/middle-east/palestinian-football-player-killed-by-israeli-army-in-west-bank-63782 https://www.#/20221222-israel-kills-palestinian-footballer-in-nablus/ https://www.middleeasteye.net/news/palestine-israel-west-bank-raid-footballer-killed
https://english.wafa.ps/Pages/Details/132007
https://english.wafa.ps/Pages/Details/126416
https://www.#/20211013-bennett-fifa-says-israel-could-host-2030-world-cup-with-arab-states/
https://www.aljazeera.com/sports/2021/10/13/israel-fifa-suggests-2030-world-cup-bid-with-neighbours
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








