• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Menteri Israel Bilang Penduduk Palestina Tidak Ada, Ini Bukti Keberadaan Penduduk Palestina

"Tidak Ada yang Namanya Orang Palestina"

by Adara Relief International
Maret 31, 2023
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 10 mins read
0 0
0
Menteri Israel Bilang Penduduk Palestina Tidak Ada, Ini Bukti Keberadaan Penduduk Palestina
88
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, belum lama ini dibanjiri kecaman dari berbagai pihak karena mengatakan “Tidak ada yang namanya orang Palestina”. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam pidatonya di Paris, Prancis, pada Minggu (19/3).

Pidato Smotrich tersebut tersebar hanya beberapa jam setelah delegasi Palestina dan Israel mengadakan pertemuan puncak regional di Sharm El-Sheikh, Mesir. Pertemuan tersebut, yang diikuti oleh delegasi dari AS, Yordania dan Mesir, merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang sebelumnya diadakan di Aqaba, Yordania, bulan lalu, untuk membahas upaya meredakan ketegangan sebelum dimulainya bulan suci Ramadhan.

Pidato tersebut Smotrich sampaikan ketika ia sedang menghadiri pertemuan khusus Yahudi sayap kanan di Paris, dalam upacara peringatan kematian seorang aktivis sayap kanan Prancis, Jaques Kupfer. Kupfer adalah seorang pejabat berpengaruh bagi Zionis. Dia adalah kepala Departemen Zionis Sedunia untuk Diaspora Zionis, seorang pembicara Prancis, anggota Eksekutif Zionis, dan anggota Dewan Gubernur Badan Yahudi. Kupfer juga merupakan salah satu aktivis Partai Likud, partai terbesar dalam politik Israel yang kini dipimpin oleh Benjamin Netanyahu.

Smotrich berdalih bahwa penyangkalannya terhadap eksistensi penduduk Palestina sebenarnya merupakan doktrin yang berasal dari Jaques Kupfer. Ia mengatakan, “Kebenaran Jacques harus disebarkan dengan sekuat tenaga dan tanpa keraguan: Dia mengatakan bahwa tidak ada yang namanya penduduk Palestina—karena tidak ada yang namanya orang Palestina.”

Dalam lanjutan pidatonya, Smotrich mengatakan bahwa “Penduduk Palestina adalah penemuan yang berusia kurang dari 100 tahun.” Smotrich mengklaim bahwa orang-orang Palestina, yang ia anggap tidak ada, telah menciptakan “orang-orang fiktif” karena mereka tidak menyukai fakta orang-orang Yahudi kembali setelah 2.000 tahun. Ia mengatakan, “Setelah 2.000 tahun pengasingan, orang Israel akhirnya kembali ke ‘rumah’, dan ada orang Arab di sekitarnya yang tidak menyukainya. Jadi apa yang mereka lakukan? Mereka menciptakan orang fiktif dan mengklaim hak fiktif di Tanah Israel hanya untuk melawan gerakan Zionis.”

Berbicara di podium, di dekat Smotrich terdapat peta berdasarkan lambang milisi Zionis Irgun, yang menunjukkan Israel menduduki Tepi Barat dan Yordania. Peta yang diperlihatkan di podium tempat Smotrich berbicara juga menunjukkan bagian Suriah dan Lebanon, wilayah yang termasuk dalam konsep Eretz Yisrael – Israel Raya – bagian penting dari zionisme ultranasionalis yang mengklaim semua tanah tersebut milik negara Zionis.

Smotrich kemudian mengatakan bahwa pemerintah Prancis dan AS perlu mendengar “kebenaran” tentang Palestina. Ia membuat pengakuan bahwa orang-orang Yahudi Israel seperti ia dan kakek-neneknya, adalah penduduk Palestina yang sesungguhnya. “Tahukah Anda siapa orang Palestina itu? Saya adalah orang Palestina.” Ia menambahkan bahwa mendiang kakeknya adalah “Generasi ke-13 Yerusalem”, yang membuatnya pantas untuk disebut sebagai “Orang Palestina sejati”.

Lebih lanjut, Smotrich mempermainkan emosi audiens dengan melontarkan sejumlah pertanyaan retoris: “Siapa raja Palestina pertama? Bahasa apa yang digunakan orang Palestina? Apakah pernah ada mata uang Palestina? Apakah ada sejarah atau budaya asli Palestina?” Ia kemudian menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan tersebut, “Tidak. Tidak ada yang namanya orang Palestina.”

Video : www.instagram.com

Tanggapan Indonesia terhadap Pidato Smotrich

Israeli minister Bezalel Smotrich

Pernyataan yang Bezalel Smotrich utarakan dalam pidatonya tersebut sontak membuat penduduk Palestina dan negara lainnya bereaksi dengan mengirimkan kecaman kepadanya. Beberapa negara yang mengecam pernyataan rasis menteri Israel tersebut di antaranya Amerika Serikat, Prancis, China, Kanada, Yordania, Arab Saudi, dan tentu saja, Indonesia.

Menanggapi pidato Smotrich, Mohammad Shtayyeh, perdana menteri Otoritas Palestina (PA), mengatakan bahwa pernyataan terbaru Smotrich adalah “bukti konklusif dari ideologi ekstremis dan rasis dari Zionis yang mengatur pemerintah Israel saat ini”. “Pernyataan yang menghasut ini, yang konsisten dengan klaim pertama Zionis tentang ‘sebuah tanah tanpa rakyat untuk rakyat tanpa tanah’, dan bahwa tanah Palestina ‘disengketakan’, dan yang menunjukkan arogansi kekuasaan, tidak menggoyahkan rasa kepemilikan orang-orang Palestina atas tanah dan sejarah Palestina.”

Ia menambahkan, “Semua sisa-sisa arkeologi dan sejarah membuktikan keterikatan orang Palestina dengan tanahnya sejak awal sejarah manusia dimulai,” kata Shtayyeh dalam sesi kabinet PA di Ramallah. “Israel adalah negara kolonial yang didirikan oleh para penjajah dan pemukim, dan itu meluas seperti kolonialisme pemukim lainnya sepanjang sejarah. Kami telah belajar dari sejarah bahwa kolonialisme akan berakhir, dan bahwa keinginan dan kepemilikan rakyat kami tidak akan tergoyahkan oleh pernyataan-pernyataan tersebut, juga oleh pemalsuan sejarah dan klaim palsu mereka,” katanya.

Kementerian Luar Negeri Palestina juga mengutuk keras pernyataan Smotrich dan pejabat tinggi Israel lainnya yang baru-baru ini memasukkan hasutan terhadap warga Palestina dan kepentingan ekonomi mereka. Ia menegaskan bahwa posisi tersebut mencerminkan “mentalitas gelap kolonial yang telah mendominasi” Israel dan mendorong ”tumbuhnya ekstremisme dan terorisme Yahudi” terhadap Palestina.

Ia mengatakan, “Seruan resmi oleh pejabat di puncak hierarki politik Israel ini bertujuan untuk menciptakan kekacauan dan melanjutkan siklus kekerasan. Mereka bertujuan menyabotase upaya untuk mencapai ketenangan, mentalitas yang memusuhi perdamaian dan solusi politik untuk konflik berdasarkan prinsip perdamaian solusi dua negara dan didasarkan pada pendalaman dan perluasan pemukiman di sepanjang jalur aneksasi bertahap dan merayap dari Tepi Barat,” kata kementerian itu.

Indonesia yang diwakili oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) juga mengambil sikap tegas dalam merespon pernyataan Smotrich. Kemlu mengecam keras pernyataan Smotrich yang terang-terangan mengingkari eksistensi orang-orang Palestina. Kemlu juga menegaskan bahwa Indonesia akan selalu konsisten untuk terus mendukung perjuangan penduduk Palestina.

Tanggapan Kemlu Indonesia terhadap pidato Smotrich diunggah melalui akun resmi Twitter @KemluRI: “Indonesia mengecam keras sikap Menteri Keuangan Israel yang mengingkari eksistensi bangsa Palestina dan tidak menghormati eksistensi serta kedaulatan wilayah Yordania.” “Indonesia akan terus konsisten mendukung perjuangan bangsa Palestina dan menghormati kedaulatan wilayah Yordania,” demikian isi pernyataan dari Kemlu RI.

Bukan Kejadian Pertama

Pidato Smotrich ini bukanlah kejadian pertama ia menyebarkan doktrin palsu mengenai eksistensi penduduk Palestina. Sebelumnya, pada 1 Maret 2023, Smotrich menyeru agar Desa Palestina Huwwara dimusnahkan, menyusul amukan para pemukim ekstremis yang melakukan pembantaian di desa tersebut.

Seruan tersebut menuai kecaman dari dunia internasional, termasuk Departemen Luar Negeri AS yang mengungkapkan bahwa tindakan Smotrich tersebut “menjijikkan”. Tindakan Smotrich tersebut juga membuat kanal berita Mondoweiss menggambarkan Smotrich sebagai “Simbol kebijakan genosida Israel yang mengamuk”.

Pada tahun 2016, Smotrich juga pernah menjadi pusat perhatian karena ungkapan rasis yang ia tujukan kepada perempuan-perempuan Palestina. Saat itu, ia mengatakan bahwa seharusnya perempuan Palestina dan perempuan Yahudi Israel disediakan bangsal bersalin yang terpisah. Ia berkata, “Istri saya sebenarnya bukan rasis, tetapi setelah melahirkan dia ingin istirahat dan tidak ingin ada ‘pesta massal’ yang menjadi budaya di antara keluarga perempuan Arab setelah melahirkan.”

Akan tetapi, Bezalel Smotrich bukan pula orang pertama yang dengan keras menentang eksistensi orang-orang Palestina dengan berbagai kalimat rasisnya. Bertahun-tahun sebelum Smotrich, pernyataan serupa juga sudah pernah dikemukakan oleh sejumlah pendukung Zionis dari berbagai negara. Para penganut Zionis sepertinya memperlakukan doktrin ini layaknya merawat tanaman, yang harus disiram secara rutin agar tidak layu, apalagi mati.

Bermula pada 1843, Pendeta Evangelis Gereja Skotlandia, Alexander Keith, yang percaya pada “pemulihan” orang Yahudi Eropa ke Palestina, menulis dalam salah satu buku populernya bahwa orang Yahudi adalah “orang tanpa negara; bahkan tanah milik mereka sendiri, dan sebagian besar yang mereka tuju adalah negara tanpa rakyat”. Keith telah mengunjungi Palestina pada tahun 1839 dan 1844. Ungkapannya tersebut kemudian diambil oleh banyak orang Zionis Inggris atau Amerika Protestan selama sisa abad ke-19 sampai diambil oleh gerakan Zionis Yahudi pada abad ke-20 sebagai slogan mobilisasi.

Israel Zangwill, seorang berkebangsaan Inggris, pada tahun 1901 menjadi Zionis Yahudi pertama yang menyebarkan slogan bahwa Palestina adalah “negara tanpa rakyat untuk rakyat tanpa negara”. Belakangan, setelah mengakui bahwa memang ada penduduk di Palestina, dia mendukung “pemindahan” orang-orang Arab Palestina ke luar negara mereka untuk memberi ruang bagi orang-orang Yahudi yang menjajah.

Seorang ideolog Zionis, Nahum Sokolow, kemudian mengutip Zionis Inggris Protestan Sir B. Arnold yang pada tahun 1903, menulis sebuah kolom yang ditujukan kepada para pembaca Yahudi: “Anda memiliki sebuah negara, warisan dari ayah Anda”, menambahkan bahwa “Palestina memiliki populasi yang tipis”. Arnold menyimpulkan bahwa “tidak ada bangsa yang dapat mengklaim nama Palestina. Campuran suku dan bahasa yang kacau balau; sisa-sisa migrasi dari utara dan selatan…”

Kepala Organisasi Zionis, Chaim Weizmann, mengulangi perumusan Zionis Zangwill pada tahun 1914 ketika dia menyatakan bahwa “ada sebuah negara yang kebetulan disebut Palestina, sebuah negara tanpa rakyat, dan, di sisi lain, terdapat orang-orang Yahudi, dan tidak memiliki negara”. Menteri luar negeri Inggris, Arthur Balfour, merancang Deklarasi Balfour pada November 1917 yang terkenal ketika dia secara sepintas menyebut ratusan ribu penduduk asli Palestina sebagai “komunitas non-Yahudi yang ada” yang “hak sipil dan agamanya” adalah tidak untuk dilanggar, tetapi yang jelas tidak memiliki hak nasional apa pun.

Balfour kemudian bersikeras tanpa penyesalan bahwa orang Palestina tidak lebih dari sekadar orang dari tanah yang telah dijanjikannya kepada orang Yahudi Eropa: “Zionisme, baik itu benar atau salah, baik atau buruk, berakar pada tradisi lama. Dalam kebutuhan saat ini, dalam harapan masa depan, itu jauh lebih penting daripada keinginan dan prasangka 700.000 orang Arab yang sekarang mendiami tanah kuno itu”.

Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh Golda Meir, mantan Perdana Menteri dari Partai Buruh Israel. Golda Meir yang beraliran kiri mengatakan pada Juni 1969, ungkapan yang sama persis dengan Smotrich, bahwa ‘Tidak ada yang namanya orang Palestina’. Selain itu, Sheldon Adelson, donor Zionis terbesar selama beberapa dekade, juga mendukung mitos fanatik yang sama. Ia mengatakan “Tidak ada yang namanya orang Palestina,” yang ada hanya “orang Suriah selatan.”

Sementara kasus terbaru sebelum Smotrich, Pemimpin Partai Likud, Benjamin Netanyahu, juga mengatakan hal yang serupa pada tahun 2019. Netanyahu mengklaim bahwa orang Palestina itu “sama sekali tidak ada” ketika orang Yahudi Eropa bermigrasi ke Palestina pada tahun 1800-an. “Mereka (Orang Palestina) bilang ‘kami sudah di sini selama berabad-abad’. Tidak, mereka tidak melakukannya,” kata Netanyahu.

Netanyahu juga pernah menuliskan di akun twitternya: “Tidak ada hubungan antara orang Filistin kuno & orang Palestina modern, yang nenek moyangnya berasal dari Jazirah Arab ke Tanah Israel ribuan tahun kemudian.” Netanyahu baru-baru ini menegaskan bahwa ketika orang Yahudi Eropa memulai proyek kolonisasi mereka di Palestina, negara itu “kosong untuk semua maksud dan tujuan”.

Bukti Keberadaan Penduduk Palestina

Di balik pernyataan-pernyataan tanpa dasar yang mereka kemukakan, sepertinya Israel lupa bahwa mereka sendiri sebenarnya secara tidak sadar pernah mengakui keberadaan penduduk Palestina. Pada Camp David Accords tahun 1978, kesepakatan itu menyerukan “otonomi” Tepi Barat dan Gaza sebagai realisasi dari perjanjian itu terhadap “hak sah rakyat Palestina dan persyaratan adil mereka. Dengan cara ini, rakyat Palestina akan berpartisipasi dalam penentuan nasib dan masa depan mereka sendiri”, meskipun beberapa persetujuan lainnya akan merujuk pada istilah “penduduk Tepi Barat dan Gaza” daripada “rakyat” Palestina.

Juga dalam Kesepakatan Oslo tahun 1993, sebagai tanggapan atas pengakuan ketua PLO Yasser Arafat atas “hak Israel untuk hidup damai dan aman”, Israel mengakui keberadaan rakyat Palestina. Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, Israel “memutuskan untuk mengakui PLO sebagai perwakilan rakyat Palestina dan memulai negosiasi dengan PLO dalam proses perdamaian Timur Tengah.”

Ribuan tahun sebelum itu pun, penduduk Palestina juga telah menorehkan tinta dalam catatan sejarah. Adalah Prof. Mukhtar Yahya, salah satu akademisi Islam di Indonesia yang menuliskan sejarah penduduk Palestina dalam bukunya yang berjudul “Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah”. Beliau pernah menjadi rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 1959 – 1960, juga merupakan anggota Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Pentafsir Al-Qur’an Departemen Agama RI.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Prof. Mukhtar Yahya menuliskan di dalam bukunya bahwa “Orang-orang Kana’an, penduduk Kana’an (Palestina), adalah dari suku Amaliqah (Golongan bangsa Arab yang telah punah/Al Arab Al Baidah). Mereka telah bermukim di Palestina ini semenjak zaman yang lama, yaitu kira-kira 2.500 tahun sebelum Masehi.”[1]

Beliau menambahkan, “Orang-orang Kana’an mendirikan kerajaan-kerajaan atau negara-negara kecil yang terdiri dari kota-kota, antara lain kota Betshean, Megiddo, Ariha (Yerikho), dan Al-Quds. Ada kira-kira 35 kerajaan kecil yang mereka dirikan di Palestina. Orang luar yang hendak memasuki atau merebut kota-kota orang-orang Kana’an ini akan mendapat kesulitan, karena kota-kota mereka itu kuat, mempunyai benteng-benteng alamiah, jalan-jalannya ruwet, sukar dilalui. Orang-orang Kana’an itu sendiri adalah orang-orang yang kuat dan perkasa, lagi berjumlah banyak. Penghidupan mereka terutama sekali bertani dan membuat kereta-kereta yang dipergunakan dalam medan perang. Kereta perang yang mereka hasilkan terkenal rapi pembuatannya.”[2]

Prof. Mukhtar Yahya kemudian menjelaskan bahwa sekitar tahun 2.000 SM, Nabi Ibrahim a.s. berhijrah dari Kota Ur di Babilonia Lama ke Kana’an (Palestina) ini, ketika Babilonia Lama diperintah oleh Raja Namrud. Nabi Ibrahim a.s. kemudian menetap di Palestina bersama orang-orang Kana’an. Anak cucunya yakni Nabi Ishaq a.s. dan Nabi Ya’qub a.s. kemudian menjadi asal usul Bani Israil yang keturunannya menetap di bumi Palestina. Yahudi sama sekali tidak disebutkan hingga periode sekitar 536 SM. Yahudi digambarkan sebagai orang-orang yang menjadi tawanan Babilon yang kemudian menyebut diri mereka “Bangsa Yahudi”, yang mengincar Palestina untuk dijadikan sebagai “negara Yahudi”.

Dan apabila bukti sejarah tidak juga dapat membuat Zionis berbesar hati untuk mengakui kekeliruan besar mereka yang sama sekali tidak konsisten itu, mungkin sudah saatnya alam yang memberikan bukti nyata. Zaitun, tanaman yang lekat kehadirannya dengan tanah Palestina, telah menjadi bukti bahwa Palestina bukanlah “tanah tanpa orang”. Berdasarkan catatan sejarah, zaitun telah tumbuh di Palestina sejak 5000 tahun yang lalu, jauh sebelum Yahudi menginjak tanah Palestina. Zaitun bukanlah pohon biasa, ia bukan tanaman liar yang bisa tumbuh begitu saja, melainkan tanaman yang membutuhkan perawatan khusus untuk dapat tumbuh dengan baik. Dan tentunya tangan-tangan terampil yang merawat pohon zaitun sejak bertahun-tahun yang lalu tidak lain tidak bukan adalah milik penduduk Palestina.

Akan tetapi, tak peduli seberapa banyak bukti-bukti mengenai keberadaan penduduk Palestina dipaparkan dalam tulisan ini, sangat kecil, atau bahkan sama sekali tidak ada kemungkinan Zionis akan menarik kembali pernyataan palsu mereka. Penolakan mereka terhadap eksistensi penduduk Palestina bukanlah kesimpulan dari serangkaian data-data ilmiah ataupun argumentasi akademik yang dapat dipertanggungjawabkan, melainkan merupakan pembenaran dari penjajahan yang terus mereka lancarkan di Palestina hingga detik ini.

Doktrin yang mereka kemukakan membentuk suatu pernyataan sebab-akibat yang mereka gunakan dan pertahankan selama bertahun tahun. Pertama, jika orang-orang Palestina itu tidak ada dan Zionis menjajah tanah Palestina, maka Zionis tidak perlu merasa bersalah terhadap hal itu selamanya. Kedua, kalaupun orang Palestina itu ada dan Zionis menjajah tanah Palestina, Zionis akan tetap melanjutkan penjajahan, dengan demikian sama sekali tidak ada ruang untuk rasa kemanusiaan sama sekali, terlepas dari apa pun pernyataan mereka.

Pernyataan Smotrich mungkin sekarang membuat kehebohan di seluruh dunia, baik di kehidupan nyata maupun di dunia maya. Akan tetapi, patut diingat bahwa Bezalel Smotrich hanyalah salah satu dari sekian banyak pendukung Zionis yang tidak pernah berhenti menunjukkan kebenciannya terhadap penduduk Palestina, baik itu melalui pelecehan verbal maupun penganiayaan secara fisik.

Layaknya bidak-bidak catur, masih banyak pendukung Zionis lainnya yang barangkali belum terlihat karena masih memilih untuk berdiri di belakang, namun setiap saat bisa saja mereka akan maju untuk memusnahkan penduduk Palestina. Bedanya, catur memiliki sejumlah aturan dalam permainannya, sementara Zionis sama sekali tidak memiliki aturan, sebab apa yang paling penting bagi mereka hanyalah ambisi egois mereka untuk merebut tanah Palestina dari penduduk aslinya.

Setelah Smotrich, tidak menutup kemungkinan akan ada lagi pendukung Zionis yang suatu saat mengemukakan doktrin yang sama pada masa depan. Akan tetapi, semakin banyak mereka bermunculan, semakin banyak juga penduduk Palestina yang akan melawan, baik dengan fisik, pemikiran, dan tentunya dengan senjata yang tidak dimiliki oleh Zionis, yaitu dengan iman dan doa. Dan Indonesia, seperti yang dikatakan oleh Kemlu RI, akan senantiasa konsisten membersamai perjuangan penduduk Palestina, karena Indonesia dengan tegas mengakui keberadaan penduduk Palestina dan mengecam keras segala bentuk penjajahan di muka bumi ini.

 

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.

 

Sumber:

Yahya, Mukhtar. 1985. Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20230323070011-120-928433/as-ri-kecam-ucapan-menteri-israel-yang-sebut-palestina-tak-pernah-ada

https://www.liputan6.com/global/read/5240638/indonesia-as-hingga-china-mengutuk-sikap-menteri-israel-yang-menyangkal-keberadaan-palestina

https://www.aljazeera.com/news/2023/3/20/palestinians-an-invention-of-past-century-israel-smotrich

https://mondoweiss.net/2023/03/in-paris-speech-israel-finance-minister-bezalel-smotrich-claims-palestinians-dont-exist/

https://www.#/20230320-far-right-israel-mk-declares-i-am-palestinian/

https://www.#/20230321-pa-calls-for-icc-to-arrest-israeli-finance-minister-smotrich/

https://www.#/20230320-jordan-slams-israel-minister-over-use-of-greater-israel-map/

https://www.#/20230321-smotrich-remarks-wrong-disrespectful-dangerous-counterproductive/

https://www.#/20230328-selective-outrage-in-palestine-the-problem-is-not-just-smotrich-but-zionism/

https://www.middleeasteye.net/news/israel-smotrich-palestinians-no-such-thing

https://www.middleeasteye.net/opinion/palestinians-dont-exist-smotrich-only-repeats-zionists-always-said

https://english.wafa.ps/Pages/Details/133978

https://english.wafa.ps/Pages/Details/133973

https://english.wafa.ps/Pages/Details/133977

  1. Mukhtar Yahya, 1985, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, Hlm. 44 ↑
  2. Ibid ↑

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: ArtikelPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Meski Sama-sama Menderita Akibat Blokade, Warga Gaza Rela Bagikan Makanan Tanpa Dapat Upah

Next Post

Dinkes Kota Bekasi Siapkan Vaksin Polio Tidak Hanya untuk Anak

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
22

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
25
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Dinkes Kota Bekasi Siapkan Vaksin Polio Tidak Hanya untuk Anak

Dinkes Kota Bekasi Siapkan Vaksin Polio Tidak Hanya untuk Anak

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630