Otoritas pendudukan Israel hari Selasa (28/3) telah mengeluarkan perintah pembongkaran untuk sebuah masjid di daerah selatan Hebron, WAFA melaporkan. Menurut Rateb Jabour dari Komite Perlawanan Tembok dan Permukiman di Masafer Yatta, warga Palestina yang tinggal di lingkungan Khashm al-Daraj harus menghancurkan masjid. Namun, mereka memiliki waktu dua minggu untuk menolak perintah itu. Masjid tersebut, tambahnya, melayani beberapa komunitas di Masafer Yatta dan Perbukitan Hebron Selatan.
Perintah pembongkaran datang di tengah kekhawatiran bahwa pemerintah sayap kanan baru Israel yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu, yang berisi tokoh-tokoh rasis yang terkenal sangat memusuhi warga Palestina, dapat mendorong lebih banyak penghancuran rumah dan infrastruktur Palestina di Tepi Barat, terutama di Masafer Yatta.
Pada 4 Mei tahun lalu, Pengadilan Tinggi Israel memutuskan bahwa sudah tidak ada hambatan hukum terhadap rencana pengusiran warga Palestina dari Masafer Yatta untuk membuka area pelatihan militer. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN-OCHA) kemudian mengatakan bahwa keputusan tersebut “secara efektif menempatkan penduduk pada risiko pengusiran paksa, pemindahan sewenang-wenang dan pemindahan paksa.”
Menurut UN-OCHA, pada 1980-an zionis Israel menetapkan sebagian Masafer Yatta sebagai “Zona Tembak 918” dan menyatakannya sebagai zona militer tertutup. Sejak deklarasi ini, penduduk asli Palestina menghadapi risiko pengusiran paksa, penghancuran, dan pemindahan paksa. Dua desa, Khirbet Sarura dan Kharoubeh, sudah tidak ada lagi karena sudah dibongkar.
“Sekitar 20 persen dari Tepi Barat telah ditetapkan sebagai ‘Zona Penembakan’. Ini memengaruhi lebih dari 5.000 warga Palestina dari 38 komunitas,” jelas UNOCHA. “Saat ini, Masafer Yatta menampung 215 rumah tangga Palestina atau sekitar 1.150 orang, 569 di antaranya adalah anak-anak.” Dalam upaya untuk memaksa warga Palestina keluar dari daerah itu, otoritas pendudukan telah mencabut akses penduduk ke fasilitas dasar, termasuk drainase, dan menolak izin untuk membangun rumah baru untuk memenuhi kebutuhan populasi yang terus bertambah.
Tahun lalu, Israel telah menghancurkan 953 bangunan Palestina di Tepi Barat dan Al-Quds, menurut laporan Uni Eropa pada Selasa (28/3), Kantor Berita Anadolu melaporkan. “jumlah tertinggi yang tercatat sejak 2016”, kata kantor tersebut.
Menurut pernyataan itu, lebih dari 80 persen bangunan yang dihancurkan – 781 bangunan – berlokasi di Area C Tepi Barat, yang berada di bawah kendali penuh militer Israel, menggusur hampir 1.031 warga Palestina. “Dari struktur yang ditargetkan dalam periode pelaporan selama satu tahun, 101 struktur didanai oleh UE atau negara anggota UE (senilai $366.960). Jumlah tersebut merupakan kerugian finansial tertinggi ketiga sejak 2016,” kata pernyataan itu. Uni Eropa juga melaporkan 849 serangan pemukim terhadap warga Palestina pada tahun 2022. Tidak ada komentar dari otoritas Israel atas pernyataan Uni Eropa tersebut.
Israel banyak menggunakan dalih kurangnya izin konstruksi untuk menghancurkan bangunan Palestina, terutama di Area C. Di bawah Kesepakatan Oslo 1995 antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dibagi menjadi tiga bagian – Area A, B, dan C.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








