Setidaknya enam warga Palestina, termasuk seorang anak, ditembak pada Senin (27/3) oleh pasukan Israel selama serangan militer ke Kamp Pengungsi Aqabat Jabr di selatan kota Yerikho. Aktivis lokal, Ibrahim Abu Dahook mengatakan kepada WAFA bahwa pasukan tentara Israel menyerbu kamp, mengepung sebuah rumah, dan menahan seorang ayah dari dua putra yang telah dibunuh oleh pasukan Israel, sehingga memicu bentrokan dengan penduduk.
Pasukan menembakkan peluru tajam, peluru logam berlapis karet, dan tabung gas air mata ke arah penduduk dan rumah mereka, menembak dan melukai empat orang, termasuk seorang anak, dengan peluru tajam. Dua lainnya ditembak dan terluka oleh peluru baja berlapis karet. Direktur Rumah Sakit Pemerintah Jericho, Nasser Al-Anani mengatakan bahwa mayoritas korban mengalami cedera ringan.
Pada hari yang sama, setidaknya enam warga Palestina terluka setelah dipukuli dan disemprot merica selama serangan pemukim Israel terhadap penduduk di Kota Huwwara di selatan Nablus, Tepi Barat. Ahmad Jibril, kepala Bulan Sabit Merah Palestina di Nablus, mengatakan kepada WAFA bahwa lima warga Palestina terluka setelah diserang oleh pemukim dan dibawa ke pusat medis di Huwwara untuk perawatan.
Dia menambahkan bahwa para pemukim berusaha mencegah akses ambulans Bulan Sabit Merah Palestina ke Huwwara. Mereka bahkan menyerang ambulans, menghancurkan kaca depan dan belakang, ketika petugas pertolongan pertama berusaha untuk memindahkan yang korban luka ke pusat medis.
Konfrontasi dilaporkan pecah antara pasukan Israel dan penduduk kota ketika penduduk berusaha untuk menangkis serangan para pemukim. Dalam perkembangan selanjutnya, para pemukim menyerang rumah dan kendaraan warga di kota yang sama, membakar truk milik salah satu warga setempat. Mereka juga menyerang ambulans yang hadir di tempat kejadian, kata Ghassan Daghlas, seorang pejabat yang bertanggung jawab atas arsip permukiman di utara wilayah pendudukan.
Ahmad Jibril mengatakan bahwa salah seorang petugas ambulans mengalami satu luka di kepala. “Kekerasan dan vandalisme pemukim terjadi dengan dukungan penuh oleh otoritas Israel. Terkadang tentara ikut serta dalam penyerangan; di lain waktu, mereka berdiri diam. Polisi tidak melakukan upaya substansial untuk menyelidiki insiden tersebut, juga tidak mengambil tindakan untuk mencegahnya atau menghentikannya secara real-time,” katanya.
Israel mendapat manfaat dari dampaknya, karena kekerasan pemukim secara bertahap merampas lebih banyak wilayah Palestina di Tepi Barat, membuka jalan bagi pengambilalihan tanah dan sumber daya oleh negara, kata B’Tselem.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








