Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan Kabupaten Bogor menjadi daerah yang rawan terkena bencana longsor di Indonesia. “Jadi, dalam catatan kami, Bogor itu merupakan daerah rawan longsor paling tinggi di Indonesia, kemudian disusul Cilacap, dan Banjarnegara. Sementara posisi kedua, ketiga, keempat, dan kelima berganti-ganti setiap tahun, puncaknya tetap dipegang Kabupaten Bogor,” ungkap Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari saat Konferensi Pers secara virtual, Senin (27/3).
Abdul Muhari menyebut Kabupaten Bogor juga kerap mendominasi bencana banjir dan cuaca ekstrem. Muhari mengatakan faktor urbanisasi serta alih fungsi lahan yang dilakukan dalam skala cukup masif menjadi penyebab utama bencana longsor hingga banjir menerjang Kabupaten Bogor. Meskipun demikian, kata Muhari, jumlah bencana banjir maupun tanah longsor naik turun setiap tahunnya. Untuk tren banjir misalnya, pada 2018 tercatat 13 kasus. Kemudian 18 kasus banjir pada 2019, 34 kasus banjir pada 2020, 46 kasus banjir pada 2021, dan 24 kasus banjir selama 2022.
Tren kasus bencana tanah longsor juga berkurang. Rinciannya, pada 2018 ada 33 kasus, kemudian naik jadi 52 kasus pada 2019, lalu 74 kasus pada 2020. Selanjutnya kasus tanah longsor di Kabupaten Bogor melonjak menjadi 163 kasus pada 2021, dan turun menjadi 78 kasus sepanjang 2022. “Tapi kalau misalkan kita lihat distribusi bulan apa, sih, sebenarnya banjir paling banyak terjadi di Bogor? Itu memang kita lihat pada Maret–April dan September–November,” ujar Muhari.
Diketahui, Kabupaten Bogor dikepung bencana longsor, banjir, dan angin kencang, pada Minggu (26/3). Lokasi pertama yakni longsor di Kecamatan Ciawi. Di lokasi ini, hujan deras menyebabkan tembok penahan tanah (TPT) setinggi tiga meter dan panjang delapan meter longsor menimpa satu rumah warga. Titik kedua yakni banjir yang masih berada di Ciawi. Banjir disebabkan hujan deras sehingga kali meluap dan merendam beberapa rumah dengan ketinggian sekitar 40 cm. Terakhir, bencana angin kencang di Kecamatan Bojonggede. Angin kencang ditambah dengan struktur bangunan yang sudah rapuh mengakibatkan satu rumah warga ambruk.
Sebelumnya tebing pinggir rel kereta api relasi Bogor-Sukabumi, longsor dan menimpa lima rumah warga di Kampung Sinarsari, RT 07/RW 04, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan. Akibatnya, enam warga tertimbun tanah longsoran. Dua orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dan empat lainnya masih proses pencarian. Peristiwa itu terjadi pada Selasa malam (14/3) sekitar pukul 23.30 WIB. Awalnya, kondisi cuaca di wilayah itu usai diguyur hujan, dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








