Ketika umat Islam di seluruh dunia menyambut bulan suci Ramadan, warga Palestina mempersiapkan diri untuk apa yang telah menjadi “tradisi liburan favorit Israel”: potensi serangan baru di Gaza menyusul gelombang kekerasan pemukim dan serangan militer di Tepi Barat dan Al-Quds Timur.
Kecemasan Palestina semakin meningkat sejak pemerintah Israel ekstremis sayap kanan mengambil alih kekuasaan, yang telah menyebabkan pembunuhan terhadap setidaknya 88 warga Palestina, termasuk 17 anak-anak, sejak awal tahun.
Serangan bertema Ramadan di Gaza umumnya mengikuti formula yang sama: pemerintah Israel membatasi akses jamaah muslim ke tempat-tempat suci di Al-Quds atau mengeluarkan pemberitahuan penggusuran untuk mengusir paksa warga Palestina dari rumah mereka, seperti yang mereka lakukan di Sheikh Jarrah dan banyak desa lainnya. Kelompok perlawanan Palestina di Gaza kemudian menanggapi provokasi dan kekerasan tersebut dengan melakukan protes di perbatasan timur, menggunakan balon pembakar atau menembakkan roket rakitan–tindakan tersebut kemudian ditanggapi Israel dengan pengeboman brutal di daerah padat penduduk.
Penduduk Gaza menunjukkan wajah yang lelah perang, yang ekspresi wajahnya menunjukkan kecemasan dan kegelisahan yang mendalam tentang hari-hari mendatang. Ramadan, yang dianggap sebagai bulan perdamaian dan perayaan keagamaan, dikenang di Gaza sebagai masa kesedihan dan kehilangan yang mendalam. Banyak orang yang telah mengalami siklus kematian ini bertanya-tanya apakah yang menunggu mereka adalah waktu ibadah dan pertemuan keluarga ataukah perang baru dengan lebih banyak kematian dan kehancuran.
Ratusan keluarga masih menangisi orang-orang terkasih yang dibunuh pada Ramadan 2014 selama 51 hari pengeboman Israel di Gaza, yang merenggut 2.251 nyawa orang Palestina, dengan hampir setengahnya adalah wanita dan anak-anak. Serangan Israel tahun 2021 di Gaza dimulai hanya beberapa hari sebelum dimulainya Idul Fitri, menewaskan ratusan orang dan meneror warga Palestina yang berpuasa. Kehancuran yang diakibatkan terus menimbulkan kesengsaraan dan kesedihan bagi keluarga korban, yang terluka dan ribuan orang terlantar yang rumahnya hancur dan tidak pernah dibangun kembali.
Tanpa adanya perang, mata dunia seolah berpaling dari Gaza. Padahal, kedukaan tidak langsung hilang setelah para syuhada dimakamkan. Para penyintas perang harus kembali berhadapan dengan realita yang sulit: tidak memiliki sarana untuk bertahan hidup. Beberapa keluarga yang rumahnya dibom, bertahan hidup di sekolah dan karavan dengan akses yang sangat terbatas, termasuk akses terhadap air, makanan, dan sumber daya.
Dalam sebuah artikel BBC, anak-anak Gaza–yang merupakan setengah dari total populasi–digambarkan telah tumbuh “terbiasa dengan kematian dan pengeboman”. Mereka tidak mendapat perlindungan, dan alih-alih merasakan kegembiraan selama Ramadan–membeli lentera (fanous) dan menyalakan kembang api–mereka harus menyaksikan pesawat tempur Israel yang mengebom tanah mereka menyisakan trauma atau bahkan kematian.
Meskipun ancaman perang terus membayangi, Ramadan tetap menjadi waktu perayaan di Gaza. Tali lampu dan warna-warna cerah menghiasi jalan-jalan yang diterangi oleh api yang menyala sepanjang malam, dan di sekelilingnya orang berkumpul, makan, tertawa, berbagi cerita, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan salat berjamaah hingga subuh. Beberapa kamp pengungsi bahkan telah menyelenggarakan pertemuan seadanya untuk sahur dan buka puasa. “Kami akan tetap merayakan Ramadan apa pun yang terjadi selanjutnya,”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








