Perubahan iklim menyebabkan krisis kemanusiaan baru dan mempercepat krisis yang sudah ada di komunitas yang rentan di seluruh dunia. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) memperingatkan bahwa perlunya pengurangan drastis emisi gas rumah kaca untuk mencegah dunia mengalami kenaikan suhu global dan konsekuensi bencana yang mengikutinya. “Populasi paling rentan di dunia sudah berada di garis depan krisis iklim,” jelas CEO dan Presiden IRC, David Miliband. “Untuk mengurangi bencana iklim dan cuaca ekstrem terburuk, negara-negara penghasil emisi besar harus mengambil tindakan drastis untuk mengendalikan emisi.”
Negara-negara dalam daftar ini semuanya memiliki kesamaan, yakni meskipun mereka memiliki sedikit kontribusi terhadap emisi gas rumah kaca tetapi mereka sangat rentan terhadap efek pemanasan global. Mereka juga masuk dalam Daftar Pantauan IRC sebagai negara yang paling mungkin mengalami krisis kemanusiaan pada tahun 2023. Untuk mengetahui negara mana yang paling berisiko terkena bencana iklim, International Rescue Committee (IRC) dan World Resource Institute (WRI) menganalisis di mana krisis iklim kemungkinan besar terjadi dan apakah negara yang terkena dampak memiliki kapasitas untuk merespons dan melindungi masyarakat yang rentan. Negara-negara dengan tingkat kesiapan iklim yang rendah dan tingkat kerentanan yang tinggi paling berisiko terhadap bencana iklim.
Berikut ini adalah daftar 10 negara yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, meskipun kontribusinya kecil terhadap penyebabnya. Secara kolektif, negara-negara ini hanya menyumbang 0,28% dari emisi CO2 global sementara membentuk 5,16% dari populasi dunia.
1. Somalia
Perubahan iklim telah memperburuk tantangan kekeringan dan kerawanan pangan yang ekstrem di Somalia. Ketidakstabilan politik negara ini telah mempersulit negara dalam mengatasi krisis iklim dan melindungi komunitas yang rentan. Pada pertengahan 2023, diperkirakan lebih dari delapan juta orang Somalia – hampir setengah dari populasi negara itu – akan mengalami tingkat krisis kerawanan pangan, atau lebih buruk lagi.
2. Suriah
Lebih dari satu dekade perang di Suriah telah mengikis kemampuan negara untuk menangani krisis. Konflik dan krisis ekonomi yang intens telah memaksa 90% warga Suriah berada di bawah garis kemiskinan. Kekeringan ekstrem dan gempa bumi Februari 2023 di dekat perbatasan Suriah-Turki, telah memengaruhi ratusan ribu warga Suriah.
3. Republik Demokratik Kongo
Republik Demokratik Kongo mengalami konflik terus-menerus, tantangan ekonomi, dan wabah penyakit. Wabah penyakit besar–termasuk campak, malaria, dan Ebola– mengancam sistem perawatan kesehatan yang melemah sehingga membahayakan banyak nyawa. Faktor-faktor ini telah melemahkan kemampuan negara untuk menghadapi bencana iklim dan mengganggu dukungan kemanusiaan, sementara warga menghadapi banjir dan kerawanan pangan yang meningkat.
4. Afghanistan
Sejak tahun 2021 negara ini telah mengalami kerapuhan yang semakin meningkat karena terhentinya aliran bantuan asing dan keruntuhan ekonomi yang memperdalam kemiskinan. Sekarang, Afghanistan telah memasuki tahun ketiga kekeringan sementara banjir hebat di beberapa bagian negara itu telah mengurangi produksi pangan dan membuat orang mengungsi.
5. Yaman
Konflik bertahun-tahun telah mendorong krisis ekonomi dan tingkat kerapuhan yang tinggi di Yaman. Pada akhir tahun 2022, 17 juta orang di Yaman membutuhkan bantuan makanan, sementara 1,3 juta perempuan hamil atau menyusui dan 2,2 juta anak-anak memerlukan pengobatan akibat kekurangan gizi. Perubahan iklim telah memperburuk penggurunan dan kekeringan di negara ini.
6. Chad
Chad mendapat peringkat sebagai negara paling rentan terhadap iklim di dunia pada Notre Dame-Global Adaptation Initiative Index, yang memeriksa paparan, sensitivitas, dan kapasitas suatu negara untuk beradaptasi terhadap efek negatif perubahan iklim. Banjir pada akhir tahun 2022 berdampak pada lebih dari 1 juta orang di negara itu sementara krisis ekonomi telah menyebabkan kerawanan pangan yang meluas.
7. Sudan Selatan
Sudan Selatan, negara dengan kerentanan tinggi dan kesiapan iklim rendah, semakin rentan terhadap bencana iklim. Meski perang saudara yang mengguncang negara itu resmi berakhir pada 2018, konflik lokal tetap meluas. Ketahanan iklim yang lebih baik diperlukan untuk melindungi warga Sudan Selatan dari guncangan iklim, seperti banjir parah yang berdampak pada lebih dari 900.000 orang pada akhir tahun 2022.
8. Republik Afrika Tengah
Persaingan untuk menguasai kekuasaan politik dan sumber daya alam telah menggoyahkan Republik Afrika Tengah (CAR). Banjir parah mengancam keselamatan dan kesehatan warga CAR, terutama mereka yang tinggal di kamp-kamp pengungsi internal, dengan berkontribusi pada penyebaran penyakit yang terbawa air seperti kolera. Penyakit lain seperti malaria, meningitis, dan cacar monyet juga membebani sistem kesehatan CAR yang melemah.
9. Nigeria
Banjir pada akhir tahun 2022 berdampak pada 2,5 juta orang di Nigeria dan menyebabkan kerusakan parah pada lahan pertanian negara tersebut. Pada pertengahan 2023 diperkirakan 25 juta orang Nigeria akan menghadapi kerawanan pangan tingkat tinggi. Ketegangan politik dan konflik yang meluas telah berkontribusi pada kerapuhan negara, sehingga sulit untuk menanggapi bencana iklim.
10. Etiopia
Kekeringan memengaruhi lebih dari 24 juta orang Etiopia. Jumlah ini diperkirakan meningkat karena negara itu akan memasuki kegagalan musim hujan keenam kalinya secara berturut-turut. Sejumlah konflik di seluruh wilayah dan ketidakstabilan politik telah mengganggu dukungan kemanusiaan di negara tersebut dan mempersulit pihak berwenang untuk mengatasi dampak perubahan iklim di Etiopia.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








