Seorang anggota Parlemen Yordania, Yanaal Al-Freihat, mengajukan pertanyaan di sidang parlemen Yordania, pada Rabu (22/3), tentang kegiatan itikaf di Masjid Al-Aqsa selama 20 hari pertama Ramadhan. Freihat bertanya dalam pesannya, dengan mengatakan: “Mengapa Kementerian Wakaf tidak membuka Masjid Al-Aqsa untuk itikaf sepanjang Ramadan?”
Dalam teks pesannya, dia menekankan pentingnya “membuka Al-Aqsa untuk itikaf, mengingat ancaman dan serangan Zionis terhadap Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan, agar kelompok ekstremis menjadi kehilangan kesempatan untuk menyerbu masjid.” Dia menambahkan, “Apa pertimbangan Kementerian Wakaf hingga memutuskan untuk menutup Masjid Al-Aqsa untuk itikaf selama 20 hari pertama Ramadan, sementara mereka menyadari bahayanya meninggalkan Al-Aqsa dalam keadaan kosong.”
Dalam konteks itu, kepala Komisi Pemberantasan Yahudinisasi Al-Quds, Nasser Al-Hadmi, mengatakan, “Otoritas pendudukan berusaha membuktikan bahwa mereka yang berdaulat, jadi kami melihat mereka menekan Departemen Wakaf Islam dalam prosedurnya, agar sesuai dengan kebijakan pendudukan.”
Al-Hadmi menekankan, “Mereka yang memutuskan untuk melakukan itikaf di Masjid Al-Aqsa adalah warga Al-Quds saja. Itikaf adalah hal yang sah dan merupakan bagian dari iman mereka, dan hak mereka atas kebebasan beribadah.” Ia mencatat bahwa ” Departemen Wakaf dan pemerintah pendudukan tidak memiliki hak untuk mencegah mereka yang ingin melakukan itikaf di masjid.” Ia melanjutkan, “Jika Departemen Wakaf Islam ingin dekat dengan jamaah dan warga Al-Quds yang ingin melestarikan dan mempertahankan Masjid Al-Aqsa yang diberkahi, pintunya harus terbuka untuk itu, dan mengetahui prosedur yang harus ditempuh. “
Namun, dia menambahkan, “Apakah Departemen Wakaf Islam ingin menjadi bagian dari rencana pendudukan untuk mengontrol Al-Aqsa dan menyiapkan kondisi agar ekstremis dapat menyerbunya, atau apakah ingin berada di pihak Al-Quds, yang memiliki hak untuk bertahan melakukan itikaf di masjid?” Dia menyimpulkan dengan menegaskan, “Kami sepenuhnya sadar bahwa saat ini ketegangan sedang berkobar antara warga Al-Quds dan otoritas pendudukan, yang ingin Al-Aqsa tetap kosong, agar siap untuk diserbu oleh para pemukim.”
Beberapa kelompok lokal dan internasional, serta kelompok pemuda Al-Quds telah menyerukan sepanjang minggu lalu ke Wakaf Islam, menuntut agar mengizinkan jamaah untuk itikaf di Masjid Al-Aqsa selama Ramadan. Seruan dan tuntutan ini datang pada saat asosiasi permukiman mengintensifkan seruan mereka untuk menyerbu Masjid Al-Aqsa, dan mempersembahkan “kurban Pesach (Paskah Ibrani)” di halamannya.
Kelompok pemukim “Temple Mount” juga menyerukan pendukungnya untuk menyerbu Masjid Al-Aqsa, pada Kamis, yang bertepatan dengan hari pertama Ramadan, sambil melanjutkan mobilisasi mereka untuk menyerbu “Paskah” Ibrani pada 6 April, yang bersinggungan dengan sepuluh hari terakhir Ramadan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








