Sekelompok pejabat Kementerian Pendidikan Israel menyerbu Sekolah untuk Anak-Anak Yatim Piatu Arab di kota Beit Hanina, Al-Quds, pada Kamis (2/3). Kepala Persatuan Orang Tua Siswa Sekolah Al-Quds, Ziyad Al-Shamali, mengatakan, “Orang-orang kementerian Israel menyerbu Sekolah Yatim Piatu Arab, menggeledah kelas, mencuri beberapa buku, dan mencuri identitas guru yang ada di dalam ruang kelas. “
“Langkah menyerbu sekolah Arab ini bertujuan untuk memeriksa kurikulum sekolah, sebagai persiapan untuk menutupnya dan mengubahnya menjadi lembaga teknologi, tentunya dengan sistem pendidikan Israel,” tambahnya. Dia menekankan bahwa “keputusan tersebut akan memengaruhi sekelompok besar keluarga di kota tersebut, karena ada sekitar 25 keluarga yang hidup dengan bekerja di sekolah tersebut.”
Menurut Al-Shamali, dengan mengubah kurikulum sekolah Arab menjadi kurikulum Israel, akan mengalihkan 130 siswa dari sekolah tersebut ke lembaga kejuruan di bawah sistem ‘Israel’.” Ia menunjukkan bahwa hal yang aneh tentang penggerebekan itu adalah datangnya inspektur dari Kementerian Pendidikan Israel, meskipun sekolah itu tidak terdaftar di bawah pengawasan ‘Israel’,” katanya.
Sementara itu, juru bicara media untuk Persatuan Guru, Ahmad al-Safadi, mengatakan, “Penargetan penjajah Israel terhadap kurikulum Palestina tidak berhenti sesaat pun.” Al-Safadi menambahkan bahwa sejak 1967, Israel dengan semua institusinya terus berupaya untuk memaksakan kurikulum ‘Israel’ di sekolah-sekolah di Al-Quds, tetapi desakan dan keengganan para guru dan orang-orang di sekitar mereka yang menentang pendudukan telah menggagalkan rencananya.”
Dia menyatakan bahwa serangan terhadap kurikulum meningkat pada tahun 2011, ketika kurikulum pendudukan diberlakukan di sekolah swasta. Akan tetapi, orang-orang Al-Quds menentang keputusan. “Namun, serangan kembali terjadi dua tahun lalu, ketika pendudukan meningkatkan anggaran pendidikan dan membuka kelas hanya di tempat yang menggunakan kurikulum Israel, dalam upaya untuk memaksakan perang budaya pada kurikulum Palestina, dan untuk menghapus segala sesuatu yang berhubungan dengan Arab dan Palestina.”
Al-Safadi menyatakan bahwa Zionis Israel meluncurkan serangan sengit dan sistematis terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan budaya Palestina, seperti yang kita lihat penyerangan terhadap sekolah swasta. Ini juga sama seperti yang terjadi di sekolah yatim piatu hari ini, juga di sekolah Ibrahimi dan Al-Iman sebelumnya.” Ia menilai bahwa serangan ini sangat berbahaya, karena bertujuan untuk menyebarkan kurikulum dan ideologi penjajah dan mencegah pengajaran kurikulum Palestina, sehingga dapat melenyapkan identitas budaya Arab, melawan kesadaran, dan menciptakan generasi yang tidak sadar akan asal muasalnya.”
Dia menilai bahwa “langkah pemerintah kota pendudukan untuk menyerbu sekolah terjadi di tengah kondisi sekolah yang tidak stabil, karena banyaknya pemogokan internal oleh guru dan siswa, yang berdampak negatif dan menekan sekolah dalam segala aspek.” Al-Safadi menekankan bahwa “Israel memiliki ambisi lain yang lebih berbahaya, yaitu menguasai tanah Sekolah Yatim Piatu Arab, mengingat letaknya yang dekat dengan permukiman Atarot dan pabrik.” Dia menyimpulkan dengan mengatakan bahwa “menghadapi keputusan sewenang-wenang pendudukan terhadap pendidikan Palestina membutuhkan gerakan nasional yang komprehensif oleh semua komponen Al-Quds, untuk menekan pendudukan dan memaksanya mundur.”
Patut dicatat bahwa pendudukan melancarkan serangan sengit terhadap pendidikan di Al-Quds, termasuk pencabutan izin. Pada akhir Juli lalu, Israel mencabut izin enam sekolah di Kota Al-Quds, dengan dalih konten pengajaran yang “menghasut” Israel.” Keputusan tersebut menargetkan Sekolah Al-Iman dengan lima cabangnya, yang memiliki jumlah siswa sekitar 1.755 siswa di tingkat dasar dan menengah, juga sekolah Ibrahimi, yang diisi oleh sekitar 288 siswa.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








