Penduduk kamp pengungsi Shuafat di Al-Quds (Yerusalem) menuding otoritas Israel menggunakan “hukuman kolektif” setelah peningkatan yang nyata dalam tindakan hukuman terhadap mereka dalam beberapa hari terakhir. Penduduk kamp Shuafat pada Minggu (19/2) melancarkan protes sebagai tanggapan atas tindakan keras terhadap penduduk yang dimulai minggu lalu oleh Itamar Ben-Gvir, menteri keamanan nasional sayap kanan Israel.
Shuafat adalah satu-satunya kamp pengungsi di dalam batas kota Al-Quds. Selama sepekan terakhir, otoritas Israel menghancurkan setidaknya tujuh bangunan, menangkap 100 orang, memasang puluhan penghalang jalan dan pos pemeriksaan, serta menyita uang dan aset dari mantan dan tawanan politik saat ini, selain sejumlah pelanggaran lainnya.
Otoritas penjara Israel, yang merupakan bagian dari wewenang Ben-Gvir sebagai menteri keamanan nasional, juga mulai memberlakukan kondisi yang lebih keras terhadap tawanan Palestina, seperti menutup kantin, membatasi air panas, dan memindahkan ceret dan kompor gas yang digunakan untuk memanaskan makanan.
Tindakan protes sipil di Al-Quds termasuk tidak akan bekerja di kantor Israel dan menolak membayar pajak ke kotamadya yang dikelola Israel dan lembaga negara lainnya. Pengunjuk rasa membakar ban mobil dan mendirikan barikade semalaman di pintu masuk ke berbagai lingkungan Al-Quds Timur, termasuk Shufat, Anata, Jabal al-Mukabber, Issawiya, dan kota al-Ram. Di Shuafat, orang menutup jalan dengan ban karet, tempat sampah, dan papan kayu. Mereka menyatakan bahwa para pekerja tidak akan pergi bekerja, siswa tidak akan ke sekolah, dan juga menyerukan untuk memboikot kotamadya Israel di Al-Quds.
Shuafat adalah rumah bagi sekitar 140.000 warga Palestina yang keluarganya mengungsi dari kamp pengungsi lain di Kota Tua Al-Quds setelah 1965. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengalokasikan sebidang tanah bagi mereka di sebelah timur kota untuk tinggal sementara di sana sampai masalah pengungsi diselesaikan, tetapi masih menjadi masalah yang tertunda hingga saat ini.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








