“Kami hidup dalam situasi yang sangat sulit. Jika bantuan dihentikan, kami tidak tahu bagaimana cara memberi makan untuk anak-anak kami.” Kalimat tersebut disampaikan oleh seorang Ibu yang tidak disebutkan namanya ketika salah seorang staf WFP bernama Fuad Qumber mengunjungi rumahnya yang terletak di Masafer Yatta, selatan Hebron. Ia memiliki delapan orang anak, yang tertua berusia 20 tahun dan difabel sehingga harus selalu menggunakan kursi roda, sedangkan anak-anaknya yang lain usianya masih di bawah 18 tahun. Sementara itu, suaminya menderita penyakit saraf sehingga tidak bisa bekerja lagi, membuat Sang Ibu harus bekerja keras untuk bisa menghidupi keluarganya.
“Jika manusia memiliki hak untuk hidup, mereka memiliki hak atas makanan”
- Addeke Boerma, Direktur Eksekutif Pertama World Food Program (WFP)
Ibu tersebut mengatakan bahwa dia saat ini belum memiliki sumber pendapatan tetap untuk menyediakan makanan yang bergizi bagi keluarganya. Ia hanya mengandalkan program bantuan tunai kementerian dan bantuan makanan bulanan dari WFP melalui program transfer berbasis tunai. Kondisi sulit yang selalu mereka rasakan membuat anak pertamanya berkata, “Saya ingin mendapat kesempatan untuk bisa membuka toko bahan makanan agar mampu menghidupi keluarga saya.”
Selain keluarga tersebut, ada puluhan ribu keluarga lainnya di seluruh wilayah Palestina yang tidak bisa makan dengan layak seumur hidupnya. Blokade, agresi, pandemi, perampasan lahan pertanian dan sumber air, penghentian pembangunan, larangan masuknya bantuan, serta kondisi ekonomi yang terus memburuk akibat penjajahan Zionis adalah beberapa faktor yang membuat kerawanan pangan menjadi masalah serius di Palestina.
Menurut laporan situasi ketahanan pangan yang dikeluarkan oleh National Insurance Institute of Israel (NII) pada 17 Januari 2023, sebanyak 522.000 keluarga yang tinggal di wilayah Palestina yang dijajah Israel hidup dalam kondisi rawan pangan, termasuk 265.000 keluarga yang menderita kerawanan pangan yang parah. Keluarga tersebut terdiri atas 976.000 orang, termasuk 665.000 anak di bawah umur.
Laporan tersebut memuat survei pada paruh pertama tahun 2021, yang menunjukkan bahwa tingkat ketahanan pangan meningkat pada 2021, setelah menurunnya kasus pandemi Covid-19. Survei menunjukkan bahwa tingkat ketahanan pangan keluarga Arab Palestina telah meningkat dari 56,8 persen pada 2016 menjadi 57,6 persen pada 2021, yang berarti 42,4 persen keluarga Arab Palestina masih mengalami kerawanan pangan. Sebaliknya, hanya sekitar 11 persen orang Yahudi hidup dalam kerawanan pangan[1].

Data terbaru laporan WFP yang dipublikasikan pada Desember 2022 menunjukkan bahwa sepertiga dari keseluruhan penduduk Palestina, atau sebanyak 1,79 juta orang, menderita kerawanan pangan, termasuk 1,1 juta orang yang menderita kerawanan pangan akut, dengan 90 persen di antaranya merupakan penduduk Palestina yang tinggal di Jalur Gaza[2]. Tahun 2022 tercatat sebagai tahun yang paling mematikan bagi warga Palestina sejak tahun 2015, akibat agresi Gaza pada bulan Agustus, eskalasi yang tidak berhenti di Tepi Barat dan Al-Quds, memburuknya ekonomi akibat krisis Ukraina-Rusia, serta berbagai tragedi lainnya yang pada akhirnya berdampak pada kerawanan pangan yang semakin parah di Palestina.
Laporan WFP menyatakan bahwa masalah pangan bukan persoalan baru di Palestina, melainkan sudah ada sejak lama, hingga kemudian pada 1991, WFP beroperasi untuk memberikan bantuan pangan kepada penduduk nonpengungsi yang paling rentan di Palestina. Sebelum pandemi Covid-19, WFP melaporkan bahwa sebanyak 32,7 persen penduduk atau sekitar 1,6 juta orang di seluruh Palestina telah menderita kerawanan pangan. Lebih memprihatinkan lagi, sebanyak 33,7 persen keluarga yang menderita kerawanan pangan adalah keluarga yang dikepalai oleh perempuan, dengan persentase sebanyak 64 persen di Jalur Gaza saja[3].
Selain perempuan, anak-anak adalah pihak yang paling rentan terkena dampak buruk dari kerawanan pangan. Data laporan WFP menunjukkan bahwa sebanyak 7,4 persen anak berusia antara 6 hingga 59 bulan di Palestina menderita malnutrisi. Lebih lanjut, laporan tersebut memuat grafik yang menunjukkan bahwa sebanyak 28 persen keluarga di Gaza mengonsumsi makanan yang tidak berkualitas atau kurang beragam, sementara di Tepi Barat jumlahnya tidak jauh berbeda, yaitu di angka 27 persen[4].

Pada tahun 2021, sebanyak 16 persen keluarga dan sekitar 21 persen anak di bawah umur dilaporkan hidup dalam kondisi rawan pangan yang berkelanjutan, sebagian besar tinggal di Al-Quds area utara dan selatan. Ketua Komite Nasional Ketahanan Pangan, Roni Strier, mengatakan bahwa pada 2021, setengah juta keluarga hidup dalam kerawanan pangan, sementara setengah juta lainnya menderita kerawanan pangan akut, yang berarti mereka sama sekali tidak memiliki makanan dan 320.000 anak di bawah umur, bersekolah dalam kondisi lapar[5].
Menurut survei Ketahanan Sosial Ekonomi dan Pangan Terbaru pada 2018, lebih dari 68 persen rumah tangga atau sekitar 1,3 juta orang di Jalur Gaza menderita kerawanan pangan. Hal tersebut mengakibatkan sebanyak 10,3 persen anak Gaza di bawah usia lima tahun menderita stunting, 2,5 persen kekurangan berat badan, 2,4 menderita wasting, dan hanya 14 persen anak di bawah lima tahun yang dinyatakan memiliki pola makan dan minum yang “wajar”. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa sebanyak 56 persen keluarga rawan pangan memiliki pengetahuan tentang gizi yang tidak memadai, 77,6 persen memiliki sikap negatif terkait gizi, dan 95,2 persen tidak mencapai skor keragaman makanan yang minimum[6].


Pangan adalah salah satu hak terpenting manusia yang harus dipenuhi, bahkan sejak sebelum seseorang dilahirkan ke dunia. Akan tetapi, di Palestina, makanan adalah “barang mewah”, mengingat tidak semua orang bisa merasakannya. Atau, kalau pun bisa, jumlahnya tidak banyak dan itu pun harus dibagi dengan anggota keluarga yang lain. Kelaparan sudah bagaikan “sahabat” yang tak terpisahkan dari penduduk Palestina, karena hampir setiap orang pernah -atau bahkan selalu- merasakannya.
Laporan OCHA pada 2018 menyatakan bahwa salah satu faktor terpenting yang menjadi penghalang untuk memutus rantai kerawanan pangan adalah roda ekonomi yang sudah terlanjur hancur akibat penjajahan Zionis. Kehancuran ini berulang seiring terus berlangsungnya agresi dan blokade. OCHA menyatakan bahwa tingkat pengangguran di wilayah Palestina jajahan Israel telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan mencapai hampir 32 persen pada kuartal ketiga tahun 2018. Sementara di Gaza, angkanya hampir 55 persen, jumlah tertinggi yang pernah tercatat. Pengangguran di kalangan pemuda di Gaza jumlahnya melebihi 70 persen, sedangkan perempuan jumlahnya lebih tinggi yaitu sebesar 78 persen pada kuartal kedua tahun 2018[7].

Pada akhirnya, menanggulangi kerawanan pangan di Palestina bukan hanya sekadar mengirimkan bantuan pangan, lantas masalah langsung terselesaikan. Persoalannya lebih rumit dari itu. Mengirimkan bantuan memang membantu, tetapi melepaskan tangan setelahnya hanya akan mengulang lagi “siklus” ini untuk tahun-tahun mendatang. Palestina harus lepas dari jeratan kuat yang bernama “penjajahan”, “blokade”, “agresi”, dan rangkaian simpul-simpul apartheid lainnya yang saling berkelindan, menjalin benang kusut untuk membuat kita bingung dan menyerah karena tidak tahu harus mengurainya dari sebelah mana.
Tapi ini adalah Palestina, penduduknya adalah saudara kita, saudara dalam rasa kemanusiaan. Mereka yang tidak pernah berhenti berjuang untuk membebaskan tanah air yang dicuri seharusnya membuat kita malu apabila menyerah terlalu cepat pada keadaan. Perjuangan mereka mengantarkan pesan tersirat kepada kita, untuk mengajak kita ikut berjuang menghabisi penjajah Zionis hingga ke akarnya. Sebab, apabila kita bersatu, kita bisa mengambil sebuah “gunting besar”, lantas memotong “simpul-simpul apartheid” tersebut, hingga akhirnya tidak ada lagi jeratan yang tersisa, kecuali “Palestina, Tanah Suci yang Merdeka”.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.wfp.org/countries/palestine
https://fscluster.org/state-of-palestine
https://www.palestinechronicle.com/for-palestinians-food-insecurity-is-now-an-existential-threat/
https://www.al-monitor.com/originals/2022/07/price-hikes-worsen-food-insecurity-palestine
https://thisweekinpalestine.com/palestinian-childrens-right-to-food-security/
https://www.jpost.com/middle-east/article-705125
https://www.middleeasteye.net/news/gaza-food-crisis-worsen-ukraine-war-hits-hard
https://www.#/20230117-israel-42-4-of-arab-families-are-experiencing-food-insecurity/
https://globalnutritionreport.org/resources/nutrition-profiles/asia/western-asia/state-palestine/
https://tradingeconomics.com/west-bank-and-gaza/child-malnutrition-wb-data.html
- https://www.#/20230117-israel-42-4-of-arab-families-are-experiencing-food-insecurity/ ↑
- WFP Palestine Country Brief, December 2022. ↑
- https://www.wfp.org/countries/palestine ↑
- WFP Palestine Country Brief, December 2022. ↑
- https://www.#/20230117-israel-42-4-of-arab-families-are-experiencing-food-insecurity/ ↑
- https://www.foodnavigator-asia.com/Article/2022/05/31/acute-undernutrition-stunting-rife-among-kids-under-five-in-gaza-strip-palestine-study 2 ↑
- https://www.ochaopt.org/content/food-insecurity-opt-13-million-palestinians-gaza-strip-are-food-insecure↑
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








