Dua tahun setelah dia lumpuh secara permanen akibat serangan pasukan Israel, Harun Abu Aram (25), seorang penduduk Masafer Yatta di Tepi Barat selatan, meninggal karena lukanya pada Selasa pagi (14/2). Harun adalah penduduk Khirbet al-Rakeez, sebuah dusun kecil di Perbukitan Hebron Selatan, atau Masafer Yatta.
Pada tahun 2021 Harun ditembak di lehernya dari jarak dekat oleh tentara Israel selama serangan tentara di desanya. Ia ditembak setelah berusaha mencegah tentara yang hendak menyita generator umum. Tembakan itu menyebabkan Harun lumpuh, menderita serangkaian infeksi paru-paru, dan masalah kesehatan lainnya yang menyebabkan dia harus keluar masuk rumah sakit selama berbulan-bulan. Akhirnya arteri kaki kanannya mengalami penyumbatan dan harus diamputasi. Menurut pejabat kesehatan Palestina, dia juga menderita “luka parah di punggung dan panggul, serta infeksi di paru-paru.”
Pada Januari 2021, pasukan Israel menggerebek rumah tetangga keluarga Abu Aram dan berusaha menyita generator yang menggerakkan rumah kedua keluarga tersebut, dengan dalih “ilegal”. Tak lama setelah tentara datang, ayah Harun, Rasmi sudah lari membantu tetangganya yang berusaha merebut kembali generator. Pasukan Israel bentrok dengan Rasmi dan tetangganya, menyerang keduanya dengan beberapa pukulan. Harun berlari untuk membantu ayahnya, dan mulai menarik kembali generator dari para tentara.
Selama perkelahian, yang terekam sepenuhnya dalam video ponsel, seorang tentara Israel menodongkan senjatanya ke leher Harun dan menembaknya. Menurut keluarga Harun, pasukan Israel menolak memanggil ambulans ke tempat kejadian. Saat keluarga dan tetangga berusaha mengevakuasi Harun ke rumah sakit, tentara menembak ban kendaraan mereka. Pada saat Harun dapat mencapai rumah sakit, beberapa jam telah berlalu, dan dokter memberitahu orang tuanya bahwa dia menderita cedera tulang belakang yang parah. Meskipun dia selamat, dia menjadi lumpuh dari leher ke bawah.
Mondoweiss mewawancarai Harun dan keluarganya pada tahun 2022. Saat itu, ibunya mengatakan bahwa dia “tidak menginginkan apapun dari mereka [Israel],” kecuali keadilan untuk putranya. “Saya ingin mereka membiarkan saya membangun kamar untuknya,” katanya, mengacu pada larangan tentara terhadap bangunan Palestina di daerah itu, dan fakta bahwa hanya beberapa bulan sebelum Harun ditembak, tentara telah menghancurkan rumah baru tersebut yang Harun bangun untuk dirinya sendiri dan tunangannya pada saat itu. “[Saya ingin mereka] mengizinkan dia memiliki air dan listrik,” lanjutnya. “Saya ingin pengadilan memberi kami keadilan, bukan untuk mengatakan bahwa seorang tentara membela dirinya sendiri.”
Sebelum meninggal, Harun memberi tahu Mondoweiss bahwa meskipun dia cacat saat “mempertahankan tanahnya”, dia akan mengulanginya lagi. “Jika lengan dan kaki saya kembali, saya akan mempertahankan tanah saya lagi,” katanya. “Saya tidak akan pernah menyerah.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








